Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TAMPARAN DARI STATUS FACEBOOK

TAMPARAN DARI STATUS FACEBOOK

 

Tantangan menulis hari ke-42

Jujur, walaupun secara tidak langsung bertatap muka, ingin saya haturkan beribu terima kasih kepada seseorang, dia satu pertemanan di Facebook, yang secara tidak langsung memberi sebuah pelajaran penting bagi saya.

Masih dan akan terus saya ingat, di awal 2016, teman Facebook saya tersebut pernah membuat satu status yang betul betul membuat muka saya panas, seperti terbakar, untuk kemudian memaksa menjadi pucat pasi. Badan saya bergetar hebat. Isi status tersebut, tentu saja  bukan buat saya pribadi. Bisa saja beliau gerah melihat banyak sekali wanita yang selalu selfie hanya mengandalkan kecantikkan lahiriah, selfie mempertontonkan kecantikan di muka umum. Intinya dia merasa heran, banyak sekali wanita yang gemar selfie wajah, minus prestasi di Facebook. Saya betul-betul tesindir karena memang hobi saya memajang foto.

Tahu gak, Pak .... saya marah terhadap diri sendiri, malu, sadar. Marah karena saya belum mampu berbuat banyak (Loba kahayang, tapi euweuh kadaek), malu karena memang cuman bisa memasang dan memajang kecantikan wajah yang notabene semua orang juga bisa membuat wajah jadi cantik berbalut aplikasi.

Sadar, bahwasanya saya harus move on, dan hijrah ke arah yang lebih baik lagi.

Saya sampai berjanji, tidak akan posting wajah selfie, sebelum mampu menorehkan prestasi.

Enam tahun lebih yang lalu, saya memasang gambar sampul fesbuk memakai botol yang di dalamnya ada sebuah flashdisk putih pelat hitam di ujungnya. Kurang lebih seperti Gennie on the bottle. Botolnya tergeletak di tepi pasir putih. Entah itu memang diletakkan di situ, atau hasil sapuan ombak. Bukan tanpa sebab, karena saya ingin menciptakan sosok saya dalam gambar sampul tersebut. Barangkali kalau saya punya fesbuknya 20 atau 30 tahun yang lalu, bisa saja isi botol tersebut sebuah gulungan kertas, ya sutra,lah ... yang penting isi pesan yang disampaikan sama.

Banyak yang menyalahartikan isi pesan gambar saya, dan ada beberapa yang mendekati. Baiklah, tanpa ada yang meminta dan bertanya, saya ingin berbagi saja, mengapa saya memilih gambar sampul tersebut.

Dalam suatu kesempatan, saya teringat Margareth Atwood berkata, "Menerbitkan buku itu serupa menulis sebuah pesan dalam botol lalu melarungnya ke laut. Mungkin saja botol itu hilang dan tak pernah ditemukan. Mungkin saja ditemukan orang lalu dibaca dan dimaknai benar, tetapi seringnya disalahpahami oleh para pembacanya yang sesungguhnya paling tahu."

Menerbitkan sebuah buku itu gampang-gampang sulit. Menurut saya, kita menerbitkan buku bagus pun tidak akan lepas dari kritikan, apalagi jika buku kita jelek. Buku bagus di mata kita, belum tentu bagus dari kaca mata pembeli. Buku bagus belum tentu didisplay dengan bangga oleh toko buku. Buku bagus belum tentu bisa tersebar dan dinikmati oleh banyak orang.

Tetapi saya tetap akan mencoba membuat buku, karena saya begitu mencintai buku, melebihi benda-benda lain. Saya tetap akan menerbitkan buku meski harus memutar otak untuk mendanai pencetakannya, karena saya mencintai buku, sebagaimana saya mencintai anak.

Saya akan tetap rindu pada pemandangan anak meleseh di lantai sambil membaca buku sembari mendengarkan musik lewat earphone atau headphone. Saya tetap merindu pada pemandangan remaja-remaja yang bangga dengan menghadiahkan buku pada para kekasihnya. Saya tetap akan merindukan orang-orang tua menggandeng anak cucu mereka masuk ke perpustakaan atau toko buku. Saya tetap akan mencoba membuat buku, entah sampai kapan.

Demikianlah, sebetulnya hasrat ingin bisa menulis, dan hanya mampu disimpan dalam hati tersebut sebetulnya sudah ada sejak enam tahunan lebih silam, sampai akhirnya saya membeli sebuah buku yang mampu menampar diri saya begitu hebat. Buku tersebut berjudul *"Saya Guru, Saya Bisa Menulis"*. Saya sadar, saya harus bisa menulis, karena saya tidak mau dikategorikan sebagai guru yang termasuk ke dalam 62% yang tidak mampu menulis.(tidak mampu menulis=kurang baca?) Saya sadar, bahwa apabila guru mampu menulis, akan menambah wibawa di hadapan peserta didik. Semoga kita dapat lebih baik lagi dalam menuangkan ide dan gagasan. Dari situ, mulailah saya belajar menulis. Dimulai dari menulis status, hingga menulis buku.

Tiga tahun dari deklarasi tidak akan selfie, mampu saya pegang. Dalam kurun waktu tiga tahun tersebut, saya memang betul-betul tidak pernah lagi memajang wajah palsu bin semu di Facebook, hingga akhirnya saya memperoleh beberapa prestasi akademik. Dari situ, saya hanya memajang prestasi, kegiatan rutin, dan aktivitas berorganisasi. Walau tanpa postingan wajah palsu, Alhamdulillah masih ada yang memerhatikan dan bilang bahwa saya lebih keren dan tetap bersahaja dengan "Brand New Me” itu.

Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur

 

 
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post