BELAJAR BERKOMITMEN MELALUI ARISAN
Tantangan menulis hari ke-61
Assalamualaikum, Mbak, apa kabarnya? Gini, Mbak, kalo bisa, arisan yang sekarang, Teteh mohon, Teteh dulu yang dimenangkan, yaa. Ada keperluan yang sangat mendesak.
Begitu bunyi japrian Teh Rinta, salah satu anggota keluarga besar kami, yang menginginkan namanya didahulukan sebagai pemenang arisan bulan ini. Rencana akan dibuka hari minggu besok.
Saya tertegun membaca japriannya. Sebagai pemegang keuangan, selalu merasa tidak bisa berbuat apa-apa kalau ada yang mengiba seperti ini. Saya hanya sebagai pemegang keuangan, namun memang harus bisa bersikap fleksibel dan proporsional ketika dihadapkan pada keadaan darurat.
Apakah masalah yang menimpa Teh Rinta bisa dikatakan darurat? Saya tidak mampu menjawab, karena Teh Rinta sendiri tidak membeberkan secara rinci, kepentingan apa yang dimaksud.
Maaf, Teh, kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa, ya, karena nanti di arisan, kan saya yang harus menyampaikan ini.
Selang beberapa menit, japrian saya dijawab. Teh Rinta minta didahulukan, ternyata untuk biaya sekolah anaknya. Japrian dari Teh Rinta tidak saya jawab lagi. Selebihnya, saya hanya menimbang sendiri apa yang harus saya perbuat. Kalau alasannya untuk biaya sekolah, semuanya juga sama butuhnya. Bahkan, ada yang keadaannya di bawah Teh Rinta, tetapi dia selalu berusaha konsisten untuk dapat mengikuti alur permainan yang sudah disepakati, yaitu tidak boleh meminta didahulukan, kecuali untuk keadaan darurat (menikahkan, meninggal dunia, sakit atau terkena musibah yang tak disangka-sangka).
Arisan keluarga ini pada awal pembentukan, tujuan utamanya diperuntukkan untuk menjalin tali silaturahmi antarkeluarga besar ibu saya. Uang yang didapat pun, tidaklah besar, tapi lumayan juga. Jadi, seluruh keluarga dari garis ibu, diajak ikut arisan ini. Awalnya memang semarak dan selalu meriah karena yang datang selalu banyak, akan tetapi semakin ke sini, satu persatu keluarga besar saya meninggal. Yang tersisa, tinggal anak-anaknya. Walaupun begitu, beberapa keluarga masih semangat untuk meneruskan kebiasaan ini. Hanya saja kehadiran Teh Rinta yang baru kali ini ikut, sedikit menyisakan tanda tanya dan rasa kekhawatiran, karena tempat tinggalnya jauh di luar pulau, sementara keluarga yang lain, masih di satu provinsi. Jadi, memang beralasan kalau saya mempertimbangkan untuk tidak langsung menyetujui permohonan Teh Rinta.
Kepala semakin pusing ketika suami diminta masukannya. Dia hanya berpesan jangan sampai hubungan dengan keluarga Teh Rinta menjadi renggang gara-gara permintaannya tidak dikabulkan. Saya lantas minta pendapat kakak-kakak saya untuk menyelesaikan masalah ini. Ternyata kepada kakak-kakak, Teh Rinta sering menjapri dan meminta bantuan keuangan. Hati saya semakin waswas mendengar semua itu. Tidak dapat saya bayangkan seandainya Teh Rinta mogok memberikan kewajibannya membayar arisan, seandainya namanya dimenangkan terlebih dahulu, karena jangankan membayar arisan, untuk sehari-hari pun, ternyata kehidupan Teh Rinta terseok-seok. Itu pemikiran negatif saya, karena saya juga tidak mau bertanggung jawab akan apa yang terjadi seandainya Teh Rinta mogok di tengah perjalanan.
Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, di hari H arisan, saya kemukakan dahulu keinginan Teh Rinta yang mau didahulukan sebagai pemenang arisan bulan ini, tidak lupa dengan alasannya. Dalam sekejap, ruangan yang tadinya dipenuhi canda tawa sambil saling melepas rindu, mendadak hening. Tak satu pun yang menanggapi perkataan saya, mewakili Teh Rinta yang tidak dapat hadir.
Saya sadar bahwa mereka terdiam bukan berarti tidak setuju semua, atau setuju semua. Mereka terdiam, saya artikan sebagai bentuk abstain sejenak karena merasa kebingungan juga harus berkata apa. Itu terlihat dari tatapan mata mereka yang penuh arti.
"Ayo, dong, Mbak, Mas, barangkali ada yang setuju atau mau memberi masukan, misalnya...." Mata saya berkeliling melihat reaksi yang hadir.
Beberapa ada yang berbisik-bisik, lantas tertawa kecil. Sebagian ada yang menunjukkan kekecewaannya. Sepertinya mereka juga mengharapkan kemenangan ini.
"Kalau tidak ada yang menjawab, saya artikan bahwa semua yang hadir, setuju dengan permintaan Teh Rinta, yaa!" Aku setengah bercanda.
Akhirnya, karena merasa paling dituakan. ada Bude Wati yang berbicara dan menyatakan kalau pemenang arisan bulan ini, berikan saja pada Teh Rinta, selebihnya Bude juga menyatakan kesanggupannya untuk menalang biaya pembayaran arisan selanjutnya, seandainya Teh Rinta macet tidak dapat membayar. Akhirnya semua pun setuju walau ada yang terlihat seperti terpaksa.
Dari sini, saya bisa ambil hikmah, seandainya ada kegiatan serupa yang melibatkan keuangan, sedikitnya kita tahu persis keberadaan keuangan kita. Apakah akan sanggup membayar hingga tempo yang sudah ditentukan? Jangan sampai karena kita, orang lain yang akan terkena imbasnya. Walau tujuan kegiatan arisan ini adalah untuk mengikat tali kekeluargaan, namun sejatinya, jangan sampai tali kekeluargaan putus gara-gara ulah kita. Akan lebih bijak jika kita tidak ikut arisan, tapi tetap menghadiri pertemuannya, karena keluarga yang lain pun akan sangat paham, karena sebetulnya, sedikitnya kita sudah tahu satu sama lain kondisi keuangan keluarga. Usahakan untuk tetap menjaga keutuhan keluarga besar. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi di sekeliling kita. Amin.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
