BERTENGKAR DI NEGERI LEE HSIEN LOONG
Tantangan menulis hari ke-75
Welcome to Singapore!
Jika ini adalah anugerah, memang. Betapa tidak, mendapat kesempatan jalan-jalan ke Singapura gratisan ... Alhamdulillah. Oktober 2017 adalah kali pertama saya ke Singapura dengan teman yang senasib, mendapat hadiah gratisan dari hasil menulis. Meskipun sudah beberapa tahun silam, namun kenangannya masih melekat hingga saat ini karena sangat berkesan.
Sebetulnya pada saat itu saya benar-benar bingung, bagaimana cara naik MRT dari Changi Airport menuju kota di Singapura, apalagi bahasa Inggris saya pas-pasan sekali. Tapi tidak perlu khawatir, karena ternyata petunjuk di bandara yang menyandang predikat The Best Aiport in the world berkali-kali ini, sangat mudah diikuti.
Kita akan tiba di Terminal 1 jika terbang dengan Air Asia dan Jetstar. Di Terminal 2 jika terbang dengan Tiger Mandala. Sedangkan jika menggunakan premium airline seperti Garuda Indonesia, teman-teman akan tiba di terminal 3. Memang terminal 3 ini super keren, tapi gate Garuda Indonesia terletak di bagian paling ujung, yang artinya jalannya jauh banget! Untungnya Changi menyediakan Skytrain yang bisa dipergunakan dari gate 16 (gate Garuda Indonesia) ke bagian imigrasi.
Setelah keluar dari pesawat, kami langsung mengisi botol kosong dengan tap water. Sebetulnya, untuk yang suka berpetualang, asyik juga kalau minum langsung dari tap water, cuma, tidak semua tempat disediakan tap water, jadi lebih baik bawa botol buat menampung air. Lumayan hemat sekitar SGD 2-3 (20.**(censored)**untuk membeli air mineral di bandara.
Jalan Kaki Menuju Area Imigrasi
Langkah selanjutnya, teruslah berjalan mengikuti petunjuk "Arrival". Mendekati "Arrival", kehidupan sudah mulai terasa, teman-teman akan disambut Starbucks, toko coklat, toko mainan, toko baju, well.. you name it. From the start, Singapura sudah menyediakan tempat belanja untuk wisawatan. Jika sudah selesai belanja, lanjutkan jalan kaki untuk menyelesaikan proses imigrasi. Isilah kartu kedatangan di atas pesawat. Namun jika belum atau tidak sempat, teman-teman bisa mengisi kartu kedatangan di meja yang disediakan, sebelum mengantre untuk stempel paspor. Data yang diisi standar, lah ya: nama, nomor paspor, tanggal lahir, alamat di Singapura, berapa lama akan tinggal di Singapura.
Nah, di tempat ini, saya punya sedikit masalah, karena form isian ada yang terlewat. Shit. Saya disuruh balik kanan untuk melengkapi dulu form. Mana dibentak lagi.
Please note, bahwa antrean imigrasi Singapura seringkali panjang, apalagi jika saat peak season. Sabarlah antre, dan jangan mengambil foto di wilayah imigrasi ya. Dilarang keras.
Yeay...! We are officially arriving in Sigapore! Setelah imigrasi, yang kita temui pertama adalah baggage claim area, jika tidak ada bagasi teruslah berjalan ke luar.
Pengalaman Naik MRT dari Changi ke Bugis
Bagi yang suka cepat panik, jangan takut, ikuti saja petunjuk "Train to City" dan teman-teman akan menemukan stasiun Skytrain. MRT station terletak di terminal 3, jadi dari terminal 1, teman-teman harus naik Skytrain terlebih dulu yang disediakan secara gratis. Dalam 1 gerbong skytrain, terdapat 4 buah seat, selebihnya, terpaksa harus berdiri . Jadi, siapa yang gesit, pasti akan mendapat seat. Tapi untuk masuk ke skytrain, lagi-lagi harus antre, dan bersiap-siap untuk selalu berdekatan dengan teman-temannya uttaran, yang hmmm wangi badannya ternyata banyak yang spesial,loh.
Stasiun MRT Changi terletak di bawah tanah dengan arsitektur yang bagus sekali. Untuk naik MRT, kita harus membeli single journey ticket dari vending machine yang tersedia, atau pun membeli ez-link dari MRT Ticket Office. MRT dari Changi Airport berakhir di stasiun MRT Tanah Merah. Semua penumpang turun dan keluarlah ke bagian kiri. Dilanjutkan dengan naik MRT arah Joo Koon. Jangan salah keluar MRT ya, karena jika keluar ke kanan, teman-teman akan bertemu MRT ke arah Pasir Ris, yang artinya teman-teman tidak akan tiba di kota Singapura.
Saya turun di stasiun ke 6 dari 29, yaitu terminal Bugis. Tiba di sana, pemandu sudah menunggu. Kami tiba pukul setengah 5 waktu Singapora. Guide menyuruh kami untuk mandi sekaligus shalat di masjid yang dekat dengan hotel tempat kami menginap. Karena cek in pukul 2 sore, kami akhirnya memutuskan untuk mandi dan shalat di Masjid saja. Masjidnya kecil namun mewah, bernuansa emas. Ada layanan WiFi pula. Tangan gatal sekali, sekadar ingin say hello to my lovely family. Dan komunikasi pun, tidak saya lakukan terlalu lama, mengingat kami harus segera menjelajahi temoat-tempat yang sudah ada di round down.
Akhirnya, kami turun lagi (tempat sembahyang ada di lantai 2). Ternyata masjid-masjid di Singapura selalu menyediakan teh manis panas yang ditempatkan di jeriken besar dan diletakkan di meja panjang yang sepertinya sengaja dipasang untuk orang-orang yang singgah. Ada juga kurma. Sebelah pojok terdapat tap water. Seperti biasa, kami mengisi botol dulu untuk perjalanan selanjutnya.
Bersambung....
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
