PENTINGNYA JURUS BAHASA ISYARAT UNTUK MEMPERTAHANKAN 160 DOLAR
Tantangan menulis hari ke-83
(Bertengkar di Negeri Lee Hsien Loong Bagian ke-4)
Permainan Song of The Sea yang ekstravaganza, membuat mata seakan tak mau berkedip. Tapi, pertunjukkan sudah berakhir. Akhirnya, penonton yang berjubel mulai berdiri dan meninggalkan tempat pertunjukkan. Kembali kami harus melewati rute jalan kaki yang lumayan, menuju skytrain. Lagi-lagi, saya dapat seat, karena lincah..
Tiba di seberang Marina Bay, berarti kita kembali ke Vivocity, Mal gede yang bikin mata dan kaki kompakan untuk tidak dulu pulang. Beberapa target barang sudah saya simpan di memori dengan baik, termasuk pesanan barang-barang dari orang yang sengaja menitipkan dolarnya kepadaku. Neng Bela mengajak kami untuk masuk ke toko tas dan sepatu. Lucu-lucu, dan harganya sangat terjangkau. Untuk ukuran tas, sekitar 20 SGD, sepatu 15 SGD, sayangnya, ukurannya tinggal yang kecil kecil. dan potongannya gak ada yang disuka. Akhirnya, kuputuskan untuk membeli tas kulit.
Di sinilah, awal bencana terjadi. Ketika melihat tas yang saya suka, apalagi harganya cocok, saya mulai menimbang-nimbang untuk membeli. Harganya 15,8 SGD. Karena takut kemahalan, maka saya konversikan harganya ke Rupiah. Sekitar 160.000 rupiah. Tidak tahu bagaimana awal mulanya. saya ujug-ujug memberikan uang ke kasir sebanyak 160 dolar. Dengan cepat, kasir cantik berperawakan kecil itu mengambil dan langsung memasukkan uang dolar tersebut ke dalam laci, sambil memberikan uang kembaliannya.
Sambil menerima uang kembalian, alam bawah sadar saya mulai eling, bahwasanya saya sudah salah memberikan uang. Harga 160.000 dibayar 1.600.000. OMG!!!
Saya mulai panik, dan langsung laporan kepada teman-teman. Kebetulan guide berada jauh di tempat belanjaan yang lain, asyik sendiri. Dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan, ditambah dengan gestur tubuh, akhirnya saya mempersoalkan uang yang salah tadi.
Sepertinya kasir tahu, kalau kami rombongan turis yang baru melancong, dia keukeuh tidak mau mengakui bahwa saya memberikan uang sejumlah 160 dolar. Saya pun keukeuh, dan perang bahasa ngaco pun terjadi.
Saya bilang, saya tidak macam-macam, you have cctv, and we can replay it, see together, n we can see from a to z with slow motion mode.
Walaupun awalnya menolak mengembalikan uang tadi, akhirnya uang saya kembali dengan manja. Saya bersyukur sambil menegur diri sendiri supaya selalu lebih teliti, dan bertindak tidak tergesa-gesa.
Untung pulangnya, kami menyusuri Orchard Road. Jalanan heboh oleh kaum pedestrians. Terlihat lebih ke catwalk jalanan. Kami pun jepret sana-sini hingga kaki terasa pegal, dan memutuskan untuk membeli es roti orchard. Saya memilih yang rasa kelapa. Saktie memilih rasa durian, Dina dan Bela rasa strawberry.
Es roti orchard memang enak. Roti tawarnya yang empuk, serta esnya yang sangat enak, dipotong seperti sabun asepso, kemudian esnya diselipkan di roti tawar. Dijual dengan harga 2 dolar. Kami menikmati malam sambil makan es roti Orchard.
(bersambung)
Penullis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan