Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SAYA KORBAN KEGILAAN LUPUS

SAYA KORBAN KEGILAAN LUPUS

Tantangan menulis hari ke-69

Rasanya baru kemarin, setiap pulang sekolah, langsung rebahan di kamar sambil tengkurap membaca novel kesayangan seluruh Indonesia, LUPUS. Padahal itu sudah 35 tahun yang lalu, waktu yang saya anggap tidak sebentar, namun saya masih tetap mengingat dengan baik kenangan bersama cerita tersebut.

Berawal dari suka membaca, kebetulan keluarga saya sejak dulu berlangganan beberapa majalah dan koran, sehingga dapat dikatakan sebagai keluarga yang suka membaca. Terhitung mulai dari koran Kompas, Hai, Kartini, Femina, Bola, si Kuncung, Suara Daerah, semua kami lalap habis. Di luar koran Kompas, Kartini, dan Si Kuncung, sisa dari bahan bacaan tadi memang tidak sepenuhnya dibelikan oleh orang tua, namun, saya dan kakak-kakak (terdiri atas lima bersaudara), memiliki tugas masing-masing untuk membeli salah satu dari bahan bacaan tersebut, walau tidak berarti tiap terbit. Saya kebagian membeli majalah HAI.

Saya tertarik untuk membeli majalah HAI karena isinya lebih heterogen dan yang terpenting suka ada ulasan musiknya. Rasanya senang saja membaca ulasan dari Bens Leo. Apalagi suka ada bonus lirik lagu yang sedang hits. Di samping itu, saya rasa isinya lebih mencerminkan remaja, gaul, namun tidak terlalu girly, maklum, dulu saya termasuk remaja tomboy.

Dari majalah HAI pula saya mengenal sosok Lupus, di mana di dalam majalah tersebut, pada awalnya cerita Lupus merupakan cerita yang dimuat secara serial, hingga karena banyaknya pembaca maka dijadikan novel dan menjadi best seller saat itu.

Semua yang ada pada diri Lupus begitu melekat pada kaum remaja. Saya pada saat itu baru memasuki kelas satu SMP, dan menjadi korban kegilaan pula. Sekadar bandingan, untuk zaman sekarang, bolehlah virusnya mendekati Dilan. Namun jujur,menurut pendapat saya, kegilaan yang ditebar Lupus lebih dahsyat. Icon yang menjadi ciri khas Lupus, diikuti oleh hampir seluruh remaja di Indonesia. Kalau Dilan lekat dengan jaket dan motornya, kalau Lupus lebih banyak lagi, mulai dari gaya rambut yang gondrong nanggung (hampir mirip gaya Duran-duran), seragam sekolah yang bagian tangannya dilipat, tali sepatu warna-warni, tas sekolah yang menjuntai hingga pinggang, hingga permen karet yang selalu dikunyah. Ditaksir, omset penjualan permen karet pada saat itu mengalami keuntungan yang signifikan. Semua saya lakukan, dari meniru gaya hingga keisengan yang diperbuat Lupus. Misalnya menempel bekas permen karet di tempat duduk orang lain. Semua keseruan tersebut hingga kini masih saya kenang.

Tokoh Lupus diciptakan oleh Hilman Hariwijaya. Karakternya yang sangat kuat dan begitu dekat dengan remaja menjadi sesuatu daya tarik yang luar biasa. Memiliki kekasih Bernama Poppy. Di luar sebagai pelajar, Lupus juga punya kesibukan sebagai wartawan. Cerita Hilman menghidupkan Lupus memang luar biasa. Dengan gayanya yang sangat sederhana dan kocak, Hilman mampu merangkul seluruh ramaja Indonesia untuk tergila-gila kepada sosok Lupus. Begitu terkenalnya Lupus hingga novel ini diangkat ke layar lebar dengan bintang Ryan Hidayat sebagai Lupus, dan Nurul Arifin (sempat membuat lumayan banyak fans kecewa karena Nurul dianggap terlalu dewasa) sebagai Poppi. Bahkan disinetronkan pula dengan bintang Ida Bagus Oka Sugawa dan Nia Paramitha, kemudian sempat berganti beberapa kali pemeran, di antaranya oleh Rico Karindra, Irgi Ahmad Fahrezy dan Teuku Firmansyah (Lupus MIlenial).

Kini, sang pengarang Lupus sudah meninggalkan kita karena sakit, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2022. Kita akan selalu mengenang karya besarnya walau dia telah tiada. Semoga semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Selamat jalan, Pak Haji, terima kasih sudah memberikan kenangan indah dalam hidup remaja Indonesia dulu. Karyamu akan selalu abadi.

Penulis adalah Guru SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post