Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SUAMI-SUAMI MASA KINI

SUAMI-SUAMI MASA KINI

Tantangan menulis hari ke-70

Tontonan dengan tema dewasa memang sedikit agak susah di Indonesia. Bertaburannya serial remaja dengan konflik yang lebih variatif memang menjadikan para produser lebih tertarik untuk mengangkat tema remaja. Namun kehadiran Suami-suami Masa Kini, saya anggap sesuatu yang mampu memberikan alternatif, setelah sebelumnya banyak masyarakat Indonesia dibuat baper dengan tayangan Layangan Putus.

Suami-suami Masa Kini merupakan serial baru dari MVP Production. Sejumlah 13 episode akan siap tayang setiap hari Rabu dan Minggu. Bergenre drama komedi, Suami-suami Masa Kini (SSMK) diharap mengulang kesuksesan serial sebelumnya, Layangan Putus.

Kali ini, saya akan mereview satu episode dari serial SSMK terlebih dahulu karena saya baru menonton satu episode. Rencananya, Insyaallah saya akan mereview semua episode.

Di episode satu, yang berjudul Karaoke Night, diceritakan ada empat sekawan terdiri atas Ringgo Agus Rahman yang berperan sebagai Yuda, Tara Budiman (Tobi), Marcel Darwin (Raka), dan Tanta Ginting (Faisal “Ical” Setiawan). Pertemanan mereka dimulai dari bangku SMA, dengan pembawaan karakter yang penuh warna, hingga mereka menikah, kecuali Tobi yang masih betah dengan kesendiriannya karena belum puas berpetualang dengan banyak Wanita cantik.

Suatu malam keempat sekawan tersebut berangkat karaoke dan tanpa disangka-sangka, ketika hendak pulang, mereka dihadapkan pada keadaan yang membuat semua panik, yaitu terjebak di sebuah lift karena macet. Alhasil semua rencana masing-masing setelah pulang karaoke menjadi ambyar. Apalagi Raka yang akan merayakan ulang tahun istrinya, Tania (Karina Suwandhi). Raka langsung mengalami gagap karena panik. Tidak terbayangkan betapa Tania akan kecewa karena dua jam lagi mereka akan merayakan ulang tahun. Perbedaan usia antara Raka dan istrinya yang jauh lebih tua, memang menjadi unik dan menarik, apalagi dibahas di episode selanjutnya dan menjadi konflik yang sangat menarik.

Akibat macet lift yang lumayan lama, tanpa disengaja mereka saling curhat tentang kondisi masing-masing setelah semuanya menenggak minuman keras. Dari sini konflik mulai berkembang. Yuda ternyata sudah pisah ranjang karena istrinya terlibat mengikuti sekte yang dipimpin oleh Bima (diperankan oleh Dwi Sasongko), tetangga seberang rumahnya sendiri, Raka yang menikah dengan seorang janda kaya yang berumur jauh lebih tua dan memiliki anak seumuran, juga mulai merasakan gelombang dalam perkawinannya, dia merasa istrinya sangat posesif. Ical lebih beruntung karena rumah tangganya adem ayem, sementara Tobi mulai dipaksa orang tuanya untuk sesegera mungkin menentukan pilihan.

Raka berhasil menghubungi istrinya lewat telepon Yuda ketika dalam lift ada sinyal, walau hanya beberapa detik, dari hasil telponan tersebut, para istri melaporkan ke polisi atas tindakan para suami mereka yang dianggap sudah di luar batas kewajaran. Mereka mencari ke semua tempat karaoke karena sebelumnya, Raka menyatakan bahwa mereka ada di tempat karaoke, di kantor Yuda. Akhirnya bersama pihak kepolisian mereka ke kantor Yuda juga untuk mencari semuanya. Tanpa disengaja pintu lift terbuka ketika rombongan polisi hendak mencari mereka. Nah, dari sinilah nanti episode berkembang, karena di akhir menyisakan pertanyaan menggelitik ketika para lelaki menyatakan harus menjadi suami-suami yang tidak takut istri.

Berdasarkan hasil analisis saya, dalam episode satu ini, acting Ringgo Agus Rahman memang lebih memperlihatkan kematangan dibandingkan yang lainnya, walau yang lainnya pun tidak dapat saya katakan berakting jelek. Namun Ringgo memang menampilkan kelasnya. Semua mampu berakting namun belum maksimal, contohnya Tara Budiman yang memiliki karakter seorang playboy dan mengidap Claustrophobia, Claustrophobia adalah salah satu jenis fobia yang paling umum. Ditandai dengan kepanikan yang luar biasa, rasa cemas dan takut, dan gugup ketika dihadapkan pada ruangan sempit dan pengap. Untuk karakter playboynya lumayan dapat, namun sebagai pengidap Claustrophobia, kurang menggigit. Meskipun berbalut komedi, namun tetap terasa kurang pol. Raka juga yang sering mengalami penyakit gagap ketika sedang panik, kurang natural.

Sebagai episode pembuka, saya anggap tidak terlalu istimewa dan masih terasa datar. Adegan di lift menjadi klimaks yang sayang untuk dilewatkan. Kita lihat di episode kedua SSMK nanti.

Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post