TEKNIK PEDAGANG ASONGAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN ANIMO MEMBACA PENDIDIK
Tantangan menulis hari ke-76
Suatu hari saya hendak pergi kota Garut untuk kepentingan acara keluarga. Sendirian saja dan memakai kendaraan umum, tepatnya saya naik bus. Ada beberapa keuntungan ketika kita naik angkutan umum. Pertama, lebih ekonomis, yang kedua meningkatkan rasa empati, dan yang ketiga adalah menambah pengetahuan dan pengalaman. Kok bisa?
Lebih ekonomis, tentu saja karena jumlah rupiah, istilahnya dibagi dengan penumpang yang lain sehingga jatuhnya lebih murah. Kalau misalnya naik mobil pribadi, bensin saja sudah Rp.200.000,00, belum lagi mampir untuk makan, jajan, dan akhirnya suka membeli hal-hal di luar kebutuhan kita sehingga budget membengkak. Belum lagi kalau mobil kita tiba-tiba mogok, atau ada kerusakan.
Meningkatkan rasa empati juga dapat timbul ketika kita naik bus. Di sekeliling kita tercampur latar belakang penumpang yang berbeda, sangat heterogen. Baik itu dari suku, agama, kebudayaan, asal-usul, strata ekonomi, dll. Sehingga ketika percampuran itu disatuatapkan, banyak hal yang akan kita llihat. Di sinilah terkadang rasa kemanusiaan, empati kita diuji. Bagaimana kita menghadapi orang yang lebih tua ketika mereka tidak mendapatkan tempat duduk, atau banyak yang mencari uang dengan jalan yang berbeda-beda. Ada yang bernyanyi, menjual buku doa-doa harian, menjual aneka makanan dan minuman, hingga menjual keperluan rumah tangga kategori ringan (lap, gunting kuku, pemantik, remote control, dll). Ya, mereka adalah para pedagang asongan yang berupaya mencari koin guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Lantas apa hubungannya dengan animo membaca bagi pendidik? Saya merasa mendapat ide, ketika ada pedagang asongan (tukang permen jahe) yang mencoba menawarkan permennya dengan jalan menyimpan dagangannya dengan sedikit memaksa (karena keukeuh menyimpan barang dagangannya di atas pangkuan kita), walau dengan sedikit berbasa-basi dan ada ucapan nanti akan diambil kembali dan tanpa adanya paksaan.
Saya hanya melirik permen jahe yang ditaruh di atas tas yang sedang saya pegang. Awalnya sama sekali tidak tertarik dan merasa tidak mau, bahkan tidak membutuhkan. Namun, ketika pedagang tersebut masih hilir mudaik menyimpan permennya, rasa empati saya mulai bermain. Ada rasa kasihan membayangkan bagaimana kalau pedagang tersebut tidak ada yang membeli dagangannya, apalagi melihat cucuran keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya. Hati kecil mulai menimbang. Rasa keinginan yang tadi tidak ada sama sekali, berubah menjadi ada rasa ingin membeli. Jadi seandainya tidak dimakan sekarang pun, bisa kita nikmati di lain waktu, dan itu sangat masuk akal.
Akhirnya saya merogoh tas dan mengambil uang untuk membayar permen jahe yang diasongkan tadi, bahkan meminta tambah. Melihat pedagang asongan berucap syukur saja, saya merasa haru yang mendalam, dan terus bersukur dengan keadaan diri.
Dari pengalaman tersebut saya memiliki ide untuk mencoba menerapkan sistem pedagang asongan tersebut untuk diterapkan kepada hobi yang sedang saya pelajari, yaitu menulis.
Setiap hari, saya mengasongkan tulisan sederhana saya ke grup-grup WA yang isinya para pendidik. Kebetulan jumlah grup WA saya lumayan banyak, sehingga saya memiliki analogi sederhana bahwa seluruh pendidik yang ada di dalam grup WA adalah para penumpang bus dan tulisan saya adalah permen jahe. Saya pun selalu optimis, bahwa dalam satu grup yang minimal berjumlah seratus orang, ada beberapa yang bisa saja awalnya hanya berempati saja, kemudian memberikan komentar, walau tidak dibaca. Tidak masalah, karena niat kita hanya berbagi tulisan. Saya pun yakin, di antara seratus orang tersebut, pasti ada satu atau dua yang memang sedang membutuhkan tulisan saya. Ke sananya, bisa saja mereka tidak hendak membaca, tetapi ketika membaca judul, mereka menjadi tertarik dan akhirnya membaca tulisan kita (sesuai dengan misi).
Hasilnya, ternyata memang luar biasa. Dari beberapa platform yang saya ikuti, ternyata artikel saya lumayan menduduki posisi yang mendapatkan lumayan banyak viewersnya. Ini menandakan bahwa para pendidik sebetulnya akan membaca ketika kita sodori (walau mungkin juga banyak yang tidak suka dengan postingan kita) bahan bacaan. Mereka sebetulnya akan ada keinginan walau masih harus kita suapi. Mudah-mudahan dari yang awalnya kita sodori, lama-kelamaan menjadi sebuah kebutuhan dan semoga nantinya mereka mencari sumber tulisan, dan tidak hanya menunggu tulisan yang diasongkan.
Tetap semangat menebar kebaikan, walau tidak semua orang menganggap apa yang kita tebar itu sebagai sebuah kebaikan.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan