Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
THE TUXEDO BAGIAN KE-2 (RENCANA KE SEATTLE)

THE TUXEDO BAGIAN KE-2 (RENCANA KE SEATTLE)

Tantangan menulis hari ke-64

Aku menggeser kursi, dan menghempaskan tubuh, perlahan.

Jarak meja kerjaku dengan meja Lily hanya tiga langkah saja, dan kami berada pada satu sekat ruangan.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."

Pelan kugeser kursi dan mulai meneruskan pekerjaan. Sejujurnya, aku pun tidak terlalu yakin dengan kondisi sekarang, jujur, perasaan memang sedikit tidak tenang, karena aku juga penasaran dengan apa yang akan dikerjakan sehubungan dengan titah Mr. Philips.

"Well, tapi kau sedang tidak baik-baik saja sekarang,"

Aku menatap Lily dengan pandangan keheranan. Sepertinya dia tahu akan kegundahan hatiku.

"Oh, ya?" aku berusaha untuk tidak terlihat lebih tolol di dekat Lily.

Kuambil tas, lantas mengambil bedak yang selalu kubawa. Memang terlihat pucat. Kusapu pipi dengan bedak secukupnya. Bibir dipoles sedikit dengan lipstik, lantas kuperbaiki geraian rambut agar terlihat lebih rapi.

Lily membalikkan tubuhnya yang mungil menghadapku. Tatapan matanya penuh kecurigaan. Ingin rasanya aku terbahak demi melihatnya seolah ingin memastikan bahwa aku memang sedang tidak baik-baik.

"Hei, I'm so serious!"

Aku menatapnya beberapa detik.

Bel jam istirahat menyelamatkan keadaanku saat ini.

"Ke kantin, yuk?" ajaknya sambil berdiri, lantas memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

Sejujurnya aku sedikit malas. Sudah tergambar dengan baik, apa yang akan terjadi di sana. Namun, seperti biasa, aku harus bisa menguasai keadaan. Bersikap sewajar mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku mengikuti langkah lily sambil menyambar tas kecil yang tergeletak di samping komputer, dan mengambil ponsel yang berdering.

"Honey, makan siang bareng, yuk, aku jemput kau sekarang!"

Terdengar suara Billy, seseorang yang sedang dekat denganku saat ini, tapi bukan pacar. Billy memang menyukaiku, dan pernah menyatakan perasaannya kepadaku, tapi aku tidak pernah menanggapinya dengan serius, karena kutahu kalau Billy memang terkenal seorang fakboy.

Tempat kerjanya berbeda tiga gedung. Aku mengenalnya di sebuah konser musik Jazz, dari sana, lantas saling bertukar nomor, dan selanjutnya dia sering menghubungi.

Aku belum sempat menjawab ajakannya, karena telepon langsung diputus.

"Siapa? Billy, kan?" Lily dengan mudahnya menebak orang yang meneleponku barusan.

Aku mengangguk kecil dan mengatakan akan makan siang dengan Billy. Lily hanya mengangkat bahu dan menarik garis bibir ke bawah. Sepertinya dia pasrah dengan keputusanku untuk tidak makan siang di kantin.

Aku pun berbalik arah dan sesegera mungkin untuk menghampiri Billy. Sedikit terengah masuk ke dalam lift dan mendapati seorang laki-laki bermasker menatapku dengan sopan. Aku menganggukkan kepala dengan hormat. Sekadar basa-basi.

"Lantai?" katanya menawarkan diri untuk memijitkan.

"Oh, terima kasih." Aku gugup dan dengan cepat memijit ke arah lantai dasar. Laki-laki itu mengangkat kedua alisnya yang teduh sambil memiringkan kepala.

Beberapa saat hening, hingga akhirnya pintu lift terbuka. Ternyata tujuan laki-laki itu sama.

"Lady first."

...

Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post