ANAK KECIL YANG MENYAPAKU DI PUSARA
Tantangan menulis hari ke-120
Setelah persiapan ke makam Almarhum kedua orang tua dirasa cukup, aku segera memesan Grab. Walau agak lama, namun akhirnya ada juga Grab yang bisa dipesan. Pelan kubuka pintu mobil belakang. Kantong keresek warna hitam yang berisi bunga tujuh rupa dan air dalam botol bekas sirup minuman kuletakkan di samping sebelah kanan tempatku duduk.
“Sendirian saja, Teh?” Tiba-tiba saja pemuda yang kutaksir masih dua puluh limaan tahun tersebut memecah keheningan.
“Ya,” jawabku pendek.
“Ke Jalan pahlawan, emang mau nyekar, ya, Teh.”
Aku memandang wajahnya dari kaca spion yang menggantung. Wajahnya tampak tenang, tidak ada hal yang membuatku harus curiga berlebihan, atau harus berpikiran macam-macam. Aku memang sedikit parno dengan urusan orang asing yang kuanggap terlalu banyak cakap disaat pertama kali bertemu. Bukan hal yang aneh, bila banyak kejadian yang menimpa kepada penumpang yang kurang waspada.
Tiba-tiba saja matanya menatapku dari spion itu. Aku menjadi gelagapan karena ketahuan sedang memandang wajahnya.
“Oh … iya. Semua keluarga saya sudah nyekar kemarin lusa. Jadi tinggal saya yang belum.” Akhirnya untuk menutupi kegrogian, aku menjawab alasan pergi ke tempat nyekar sendirian.
Pemuda itu terlihat tersenyum kecil, dan tidak bertanya lebih lanjut lagi. Mungkin dia merasa bahwa aku sedang tidak mau bercakap, atau apalah.
Tiba di tujuan, aku mengucapkan terima kasih, lantas buru-buru berlalu.
Pemakaman terlihat sepi. Kuncen makam nampak sedang menyapu bekas bunga-bunga yang berserakan. Dia memandangku dengan sedikit keheranan. Mungkin sekarang bukan saatnya yang tepat untuk nyekar. Tapi aku tak perduli. Tanpa berbasa-basi, aku terus menerobos pepohonan kamboja yang mulai kurang terurus, dan tidak tertata. Batang pohonnya yang mulai membesar banyak yang menghalangi jalur jalan setapak pada makam. Langit meredup, padahal waktu masih siang. Sepertinya akan hujan, tapi aku tak merasakan gerah sedikit pun.
Satu per satu makam kulewati. Walau sedikit bingung karena papan nama pada nisan sudah banyak yang terhapus, akhirnya kutemukan juga makam kedua orang tuaku. Tidak ditembok memakai ubin seperti yang lainnya, dan tampak paling sederhana. Bukan maksud keluarga kami menelantarkan, namun memang begitulah permintaan Almarhum orang tua dulu. Aku setengah duduk dengan lutut kena tanah. Pelan kubuka kantong keresek hitam, dan mulai mengucurkan air di botol ke pusara Ibu terlebih dahulu, lanjut ke pusara Bapak. Demikian pula bunga yang kutabur. Sambil berdoa kupejamkan mata agar apa yang kudoakan lebih khusyuk. Air mata menetes mengenang semua kebaikan, keikhlasan mereka selama hidup. Tak dapat kubalas dengan apa yang telah mereka berikan, hingga saat ini. Hanya doa yang bisa kupanjatkan.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memegang bahu kananku. Aku sangat terkejut demi melihat seorang anak perempuan lusuh bermata indah menatapku dengan sayu. Badannya kecil, sekitar enam tahunan. Tanpa berpikir panjang, aku membuka tas dan memberikan selembar uang. Tanpa disangka, dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tangannya masih memegang bahu. Lantas kuberanikan diri untuk memegang tangannya. Dingin dan gemetar. Aku menatapnya dengan penuh ketidakmengertian.
“Kamu lapar?” Aku bertanya sambil terus memegang tangannya.
Dia kembali menggelengkan kepalanya. Tangan satunya seperti mau memelukku. Refleks kuraih tubuhnya, dan kupeluk dengan erat. Karena dia tidak berbicara apa-apa, kugendong tubuhnya dan kutemui kuncen untuk sekadar menanyakan perihal anak tersebut. Namun ternyata kuncen tidak tahu menahu. Karena anak itu tidak mau turun dari gendonganku, akhirnya kubawa pulang dengan perasaan yang campur aduk. Berencana untuk memandikannya terlebih dahulu, memberi baju yang pantas, untuk kemudian menyerahkannya ke kantor polisi, atau akan kuanggap sebagai anak sendiri, sebagaimana orang tuaku dulu, selalu membawa orang lain yang dianggap membutuhkan pertolongan dalam kehidupan mereka. Entahlah.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
