BELAJAR DARI KUE GOSONG
Tantangan menulis hari ke-105
Setiap menginjak minggu ketiga bulan Ramadan, selalu saja ingatanku melayang ke masa lampau, di saat aku masih berusia belasan, dan seluruh keluarga masih utuh. Orang tuaku memiliki lima orang anak, dan aku adalah anak paling kecil. Kenangan bersama Emak memang tak pernah habis untuk kuceritakan. Emak adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah dasar yang letaknya kurang lebih tiga kiloan dari rumah. Sebagai seorang kepala sekolah, Emak tergolong rajin dan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengabdi di sekolahan. Di rumah memang ada bibi-bibik yang membantu untuk urusan dapur dan beres-beres rumah. Emak pulang sekolah kalau hari mulai menjelang sore.
Setiap menjelang semingguan mau lebaran, Emak selalu menyempatkan diri untuk membuat kue. Sebetulnya Bapak lebih suka membeli kue kaleng yang banyak di toko-toko, dengan alasan lebih praktis, lebih enak, dan tentu saja tidak membuat rumah menjadi berantakan. Namun Emak memiliki pandangan lain, bahwa di dalam proses membuat kue, bukan masalah enak atau tidaknya, praktis atau enggaknya, namun lebih dari itu, menurut Emak, ada sesuatu yang bisa ditanamkan dari membuat kue di rumah oleh seluruh anggota keluarga.
Kebersamaan. Ya, rupanya Emak ingin menciptakan sebuah kebersamaan yang mungkin saja hal ini sudah direncanakan oleh Emak akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan, dan memang hal ini terbukti sekarang.
Emak menganjurkan kalau Bapak tidak mau bergabung, tidak usah dipaksakan. Sebetulnya kami pun sebagai anak-anak rasanya malas sekali untuk membantu Emak membuat kue, tapi akhirnya karena kasihan, kami pun jadi ikut Emak. Dalam proses membuat kue, benar saja apa yang dikhawatirkan Bapak, rumah menjadi berantakan, kue pun rasanya standar, bahkan sering banyak gosongnya. Apalagi bentuk, sangat jauh dari kata cantik dan menarik. Terkadang banyak yang miring. Walau begitu, Emak tetap bersemangat dan selalu menghentikan pembuatan kuenya ketika menjelang masak buat berbuka puasa. Terkadang di tengah jalan pembuatan kue, satu per satu kami meninggalkan Emak sendirian karena bosan dan memang malas untuk membuat kue. Emak sama sekali tidak pernah marah atau menunjukkan raut muka tidak senang. Bahkan ketika berbuka puasa, dengan senang hati Emak membagikan kue-kue yang tidak dimasukkan ke dalam toples untuk disantap bersama. Walaupun rasanya sudah dapat ditebak, namun entah mengapa kue-kue tersebut selalu habis.
Lebaran 2021 kemarin, kebetulan open house giliran kakakku nomer tiga, jadi dilaksanakan di Garut. Malamnya kami mengenang semua tentang Emak. Dari menilai masakan Emak, hingga kue miring gosong yang selalu hadir di setiap hari Lebaran. Ternyata benar, bukan kue yang dibeli Bapak yang kami rindukan, tetapi justru kue-kue gosong dan miring buatan Emak yang paling kami inginkan. Akhirnya kami berencana untuk membuat kue yang sering Emak buat sekadar untuk mengingat Almarhum. Ketika masih membuat adonan, kami masih bisa tertawa-tawa mengenang masa lalu dengan segala kebaikan dan keikhlasan Emak, tapi begitu tiba saat pembakaran, dan aroma kue mulai tercium, kami tak kuasa untuk tidak menahan air mata. Tangisan kami pun meledak. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Almarhum Emak yang selalu ikhlas membuatkan kami sesuatu demi untuk menyenangkan kami. Ya Allah, berilah orang tua kami Jannah-Mu. Lapangkan kuburannya dan pertemukan kami nanti di Surga. Aamiin Yaa Rabb.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
