KETIKA PGP HADIR, BETULKAH MGMP DIPERTANYAKAN?
Tantangan menulis hari ke-108
Program Guru Penggerak sampai saat ini telah melahirkan 5 gelombang dan sekarang sedang menyeleksi untuk gelombang ke-6 dan ke-7. Sejauh program ini diluncurkan, tanggapan dari para alumni pengikut PGP sangat positif dan mereka merasa menemukan jati diri karena barangkali sesuai dengan ekspektasi awal. Pelatihan yang dijalani selama 9 bulan walau dirasa begitu lama dan membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran seolah tidak lagi menjadi suatu beban ketika mereka berhasil menyelesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Sepertinya waktu yang lumayan lama tersebut terbayarkan oleh kepuasan yang mereka dapat, mulai dari ilmu, jejaring, skill, dan tentu saja pengalaman yang sangat berharga.
Program Guru Penggerak seolah menjadi kiblat bagi semua program, di mana guru dibimbing dan dibina untuk mampu mengembangkan diri dan orang lain. Guru Penggerak berkontribusi membangun kolaborasi dan kolaboraksi sehingga melahirkan pembelajaran yang inovatif tiada henti tanpa mengejar selembar sertifikat. Ya, mereka yang telah mengikuti PGP adalah orang-orang terpilih yang mau dan rela membagi waktu di sela-sela kesibukannya mengajar rutin, mengerjakan semua tugas dan webinar dengan penuh semangat dan kebersamaan. Namun, jika kita amati, mereka yang mengikuti dan lolos sebagai Guru Penggerak adalah mereka yang memang sudah terbiasa berjuang dan mau mempertahankan diri dari semua bentuk tantangan untuk menggapai sesuatu. Disadari atau tidak. Mereka yang menjadi Guru Penggerak adalah mereka yang terbiasa dan suka untuk mengembangkan potensinya. Namun jangan salah, tidak semua guru terpanggil untuk mengikuti PGP dengan berbagai alasan yang memang masuk akal juga. Tidak semua guru yang tidak mengikuti Program Guru Penggerak itu lantas dikategorikan sebagai guru yang tidak mau mengikuti perkembangan zaman. Sekali lagi, semua ada alasan yang tidak perlu kita tahu.
Lantas di lapangan muncul keberadaan MGMP yang mulai dipertanyakan. Kehadiran PGP seolah membungkam keberadaan MGMP yang selama ini yang dirasa kurang maksimal.
Setiap program diluncurkan untuk tujuan yang bagus, namun tetap ada plus minusnya. MGMP diperuntukkan khusus guru mata pelajaran (Kelompok Kerja Guru). Keberadaan MGMP kian hari yang kian terasa hambar dikarenakan salah satunya adalah program masing-masing komunitasnya yang terkesan flat, sehingga banyak guru mata pelajaran yang semakin jenuh. Program MGMP antara lain tidak jauh dari menyusun soal UN, US, studi banding, membuat kegiatan seni, kegiatan seminar, lomba, dan itu pun kalau MGMP-nya hidup. Di lapangan, banyak MGMP yang sudah mati suri dan tidak berfungsi. Hanya sebatas pendataan dan memperbaharui SK kepengurusan untuk sebuah keperluan yang nantinya ada sangkut pautnya dengan kenaikan golongan dan semacamnya.
Sebetulnya pemerintah sudah mencoba untuk membenahi MGMP dengan mendata ulang dan merapikannya dalam SIM PKB. Semua ditata, tetapi khusus untuk MGMP Kabupaten. Ini berdampak kepada MGMP Provinsi (Jabar) yang menjadi tidak terarah dan bahkan di hampir semua mapel, seolah para ketua MGMP Provinsi menjadi serba salah. Apalagi tidak adanya legalisasi yang dikeluarkan oleh provinsi. Kegiatan MGMP dipusatkan sepenuhnya di kabupaten masing-masing. Ditambah lagi, banyak dari pengurus MGMP Provinsi mengikuti PGP sehingga kegiatan di provinsi juga menjadi mandul. Sebetulnya dengan pembenahan di kabupaten, MGMP diharapkan akan kembali hidup. Namun ternyata barangkali dianggap lamban bergerak sehingga menjadi terasa kurang diberdayakan. Kini lahirlah Program Guru Penggerak. Banyak yang menjadi bertanya-tanya akan lahirnya Guru Penggerak ini.
Sedikit harus dapat kita bedakan antara tujuan MGMP dengan tujuan Guru Penggerak. Salah satu tujuan MGMP lebih dititikberatkan kepada bagaimana cara memberdayakan guru mata pelajaran menjadi lebih maksimal, sedangkan Program Guru Penggerak salah satunya adalah bagaimana cara menjadi pemimpin pembelajaran dan mampu untuk menggerakkan orang lain. Kalau toh belakangan kehadiran PGP ada embel-embel bisa menjadi kepala sekolah, sebetulnya itu memang sudah ada dalam Permendikburistek Nomor 60 tahun 2021, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana cara mengubah pola pikir guru terhadap diri sendiri, murid, lingkungan pendidikan, dan menjadikan murid sebagai pusat pembelajaran. Saya yakin yang mengikuti program PGP ini tidak semua berkeinginan dan memiliki niat untuk menjadi kepala sekolah, walau PGP sendiri memang salah satunya diprogramkan untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Malah saya pribadi mengartikan “Pemimpin Pembelajaran” di sini memiliki banyak arti yang sangat fleksibel untuk didefinisikan, tidak sebatas pada kepala sekolah.
Semua program itu memiliki tujuan yang bagus dan harus kita sikapi serta tempatkan sebagai sebuah spirit bersama menuju tercapainya satu tujuan yang paling baik. Program Guru Penggerak lahir untuk membenahi apa-apa yang belum maksimal, bahkan dapat diimbaskan di MGMP. Istilahnya, memberdayakan MGMP adalah sebagian dari tujuan Program Guru Penggerak. Jadi, satu sama lain akan saling menguatkan.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
