Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KKN DESA PENARI, KKN DI BIOSKOP SEORANG DIRI

KKN DESA PENARI, KKN DI BIOSKOP SEORANG DIRI

Tantangan menulis hari ke-124

Rasa kepenasarananku akan Film ini semakin menjadi, begitu tahu kalau film ini ternyata mampu mencetak rekor baru dalam penayangan perdananya di tanggal 30 April 2022 ini. Konon dalam satu harian, film ini mampu menjaring sebanyak 315.486 orang. Ada beberapa asumsi menurutku yang menyebabkan film ini bisa laris. Pertama, karena memang ceritanya menjanjikan. Seperti yang kita ketahui, film ini berasal dari utas Twitter yang dibuat bersambung dan ternyata menjadi viral setelah dibagikan ke 80 ribu Twitter. Dengan begitu, berarti animo cerita yang diangkat dari kisah nyata ini memang menarik. Yang kedua, rasa kepenasaranan publik setelah dua kali gagal tayang akibat Covid-19. Opini yang ketiga, timing yang sangat pas (berdekatan dengan moment Idulfitri), karena seperti yang kita tahu, ada semacam tradisi mencari hiburan setelah sebulan berpuasa dan libur dari rutinitas. Salah satunya dengan menonton bioskop (di daerah tertentu).Dengan beberapa alasan tersebut, film ini sukses di pasaran.

Berangkat dari rasa kepenasaranan, akhirnya aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Selain butuh healing, juga lumayan bahan untuk membuat resensi. Kuputuskan untuk menonton bersama kakak-kakakku. Ternyata mereka menolak dengan alasan mereka kurang suka dengan film yang bergenre horor. Aku tidak mempermasalahkan ketidakmauan mereka diajak nonton, toh aku sudah terbiasa ke mana-mana sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk tetap berangkat untuk pergi ke bioskop.

Jarak rumah kakak (kebetulan aku sedang berada di rumahnya) ke bioskop sekitar 2,5 kilo, dan aku ke bioskop sekitar bada Asar, karena waktu tayang pukul 16.15. Lumayan ada sedikit waktu buat sekadar nongkrong di halaman Dunkin sambil berselancar. Killing the time. Waktu berjalan cepat, hingga beberapa menit menjelang pintu bioskop dibuka. Benar saja, calon penonton sudah banyak yang antre. Rata-rata mereka berpasangan. Ada pula yang rombongan. Tapi karena sambil bermain hp, antrean panjang pun tak terasa.

Aku sudah tepat di hadapan petugas tiket. Wajahnya cantik dengan bulu mata palsu dan lip tint yang basah menggoda. Pakaiannya simpel memperlihatkan keindahan tubuhnya. Kutaksir umurnya sekitar 19an. Dengan sigap dia bertanya mau duduk di kursi yang mana. Sekilas kumelihat denah, kursi sudah penuh bookingan. Akhirnya aku asal tunjuk saja tempat duduk yang kira-kira masih tersisa. Gadis itu menganggukkan kepala. Setelah kubayar, aku pun membeli minuman kaleng dan pop corn ukuran medium.

Tidak sampai 5 menit, petugas mulai mengumumkan room mana saja yang sudah dibuka, termasuk pintu bioskop yang kutuju. Tampak orang lain pun mulai beranjak dan berjalan ke lorong bioskop.

Tap.

Ada seseorang yang menepuk pundakku dengan lembut. Aku segera menoleh ke arahnya.

"Teh, itu bros Teteh, ya?"

Spontan aku meraba bros yang kusematkan di kerah blazer. Benar saja, rupanya brosku copot. Segera kuambil, namun aku bingung karena belum sempat kuucapkan terima kasih, perempuan tersebut sudah tidak ada. Barangkali dia bergegas masuk ke ruangan bioskop juga, dan aku tidak terlalu menusingkan itu.

Pintu bioskop yang kutuju sudah di depan mata. Penjaga tiket mempersilakan masuk setelah memeriksa tiket yang kusodorkan. Ruangan remang, namun kursi masih kosong. Aku segera duduk di tempat yang sesuai dengan nomor yang ada di tiket. Aku celingukan setelah hampir 5 menit ruangan masih tetap kosong. Aku tetap berusaha untuk tenang karena melihat denah tempat duduk tadi, sudah banyak penonton yang booking, malah yang kosong hanya dua baris saja, termasuk tempat aku duduk sekarang. Layar bioskop masih menampilkan beberapa iklan.

Pesss. Tiba-tiba lampu dimatikan. Mataku kembali melihat kiri kanan, dan aku mulai gelisah karena penghuni ruangan ini tidak berubah. Betul-betul hanya aku seorang. Bulu kuduk mulai tidak bersahabat. Rasanya tidak pernah selama ini aku merasa ketakutan untuk sesuatu hal. Apalagi ini hanya sebuah film. Tapi kali ini sungguh berbeda. Aura gedung yang kosong melompong dengan gema yang sangat besar pantulannya, ditambah lagi ruangan yang gelap dan kosong membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sesaat kakiku seperti dipaku. Sekujur tubuh mulai berkeringat.

"Fuuuhhhh...."

Tiba-tiba saja ada yang meniup belakang leher. Suaranya sangat jelas. Beberapa detik aku tak berani menengok ke belakang. Kaleng minuman kupegang dengan sangat erat. Tak kurasakan dinginnya minuman itu. Popcorn jatuh berserakan. Aku tak berusaha untuk memungutmya.

"Pulaaang...."

Jelas sekali, ada suara di kupingku. Suara seseorang yang menyuruhku untuk pulang. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk ke luar ruangan. Tak kupedulikan lagi kaleng minuman dan popcorn yang terinjak-injak. Semua lorong yang kulewati seperti tak berpenghuni. Betul-betul kosong. Aku terus berlari dan berusaha untuk mendekati bibir meja kasir. Pandangan berkunang-kunang, kemudian gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Penulis adalah Guru SMKN 1 Cianjur.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post