Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MISTERI GORDEN RUMAH DINAS

MISTERI GORDEN RUMAH DINAS

Tantangan menulis hari ke-132

Pertengkaranku dengan tetangga sebelah tadi siang sangat tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Aku termasuk orang yang jarang sekali berkomunikasi dengan tetanga di sekitar rumah. Kupikir, kebanyakan orang di komplek rumah hanya buang-buang waktu dan nambah dosa saja. Tertawa cekikikan di pos ronda sambil makan-makan, kemudian membicarakan ibu X, istri muda polisi, atau membicarakan brondong ganteng. Benar-benar aku salah piih perumahan. Menyesal? Antara ya dan tidak, karena sebenarnya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu menuntut untuk ini dan itu. Hidup pun seadanya saja. Yang penting bisa menikmati hidup, bahagia versi sendiri.

Ya, pertengkaranku dengan Bu Yeyen dipicu karena masalah suami Bu Yeyen yang bekerja sebagai direktur utama sebuah PT terkenal di kotaku. Perusahaannya tersebut memenangkan tender pembuatan gorden untuk rumah dinas para pegawai sebesar 43,5 milyar, sedangkan suamiku adalah seorang LSM yang tidak setuju dengan adanya pengadaan gorden untuk rumah dinas. Dia pikir, uang sebanyak itu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk hal lain yang lebih urgen. Alangkah lebih bermanfaatnya apabila uang tersebut disalurkan untuk perbaikan sekolah-sekolah yang rusak, atau hal lainnya yang lebih bermanfaat. Akhirnya dia bersama komunitasnya mengadakan penggalangan dana sebagai sebuah bentuk kritik untuk para pejabat yang menggunakan uang rakyat untuk hal-hal yang bukan prioritas. Sebuah sindiran bahwa tender yang dimenangkan oleh suami Bu Yeyen sangat kontradiktif dengan ke keadaan masyarakat di kota yang serba kekurangan.

Nah dari situlah BU Yeyen berang kepadaku dan dia berani mendatangi rumah sambil berkata lantang bahwa suamiku adalah orang yang gak berpendidikan, provokator, cecurut buduk, dan semua omongan kotor dia alamatkan kepada suamiku. Tentu saja aku panas mendengar semua omongannya. Akhirnya perang mulut pun terjadi. Aku juga tidak mau kalah untuk membela suami, karena aku pun berkeyakinan sama bahwa pengadaan gorden untuk rumah dinas, apalagi harus merogoh kocek APBD yang sangat banyak, adalah hal yang paling bodoh yang pernah kudengar. Bahkan, tak main-main, setiap rumah dinas tersebut diperkirakan akan mendapatkan gorden seharga sekitar 90 jutaan per unit. Bayangkan, banyaknya unit yang akan diberi gorden baru tersebut berjumlah 505 unit. Gila! Aku makin muak ketika mendengar bahwa pemenang tender gorden itu ternyata PT yang dimiliki suaminya Bu Yeyen dengan harga paling tinggi. Aneh. Bagaimana bisa, pemenang tender adalah justru yang memasang harga yang paling tinggi di antara rivalnya.

Antara malu dan muka badak, Bu Yeyen berlalu dari rumahku ketika kusebutkan fakta seperti yang tadi kupaparkan di atas. Yang jelas, sampai saat ini, menurut suamiku, proyek pengadaan gorden tersebut hingga saat ini belum ada kejelasan antara diteruskan dan tidak, sedangkan protes dari masyarakat semakin mengalir deras.

Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post