Fitria Gustina

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
NEPOTISME MEMATIKAN SEMANGAT BELAJAR
Tantangan menulis gurusiana hari ke 85

NEPOTISME MEMATIKAN SEMANGAT BELAJAR

NEPOTISME MEMATIKAN SEMANGAT BELAJAR

Semua anak-anak pasti mempunyai cita-cita dan keinginan Yang luar biasa. Dengan adanya cita-cita tersebut menjadi motivasi bagi anak-anak untuk belajar dan berprestasi disekolah dengan harapan kelak akan mendapatkan masa depan Yang bagus. Dengan adanya dorongan oleh orang tua dan mencukupi segala fasilitas buat anaknya belajar. Dorongan apapun akan dilakukan oleh orang tua, walaupun harus kerja keras guna mencukupi fasilitas anaknya.

Sang anak melihat pengorbanan orang tuanya dalam mencukupi semua fasilitas belajarnya, menjadi pendorong baginya agar belajar lebih rajin dan semangat lagi. Berbagai usaha dan prestasi diraihnya, baik dibidang akademik maupun non akademik. Harapannya agar masa depannya bagus dan bisa membahagiakan orang tuanya dan membantu ekonomi keluarganya kelak.

Akan tetapi dengan penerimaan tenaga kerja sekarang sangat tidak menguntungkan bagi segelintir orang Yang justru berprestasi di sekolah dan dari keluarga tidak mampu. Perekrutan tenaga kerja sekarang lebih condong untuk menerima sanak saudaranya dulu walaupun saudaranya tidak mempunyai keahlian Yang sesuai dengan bidang akan diisi. Padahal masih banyak orang melamar kerja Yang mempunyai kemampuan dibidang teraebut. Bahkan dalam suatu instansi bisa didominasi oleh satu keluarga, mulai dari adiknya, anaknya, keponakannya, iparnya atau saudaranya Yang lain.

Dalam pembelajaran juga banyak siswa Yang tidak memiliki semangat untuk belajar dikarenakan proses perekrutan tenaga kerjanya berdasarkan adanya orang dalam atau titipan. Pengalaman dengan satu orang siswa yang datang kesekolah tidak pernah lewat gerbang depan, akan tetapi loncat pagar dan datangnya tidak bawa buku satupun. Kalau ditanya bukunya mana selalu jawabnya "ada di laci meja bu".

"Kamu tidak belajar dirumah", lanjutku.

"Buat apa bu rajin-rajin belajar, nanti cari kerja gampang ada orang dalam ini", katanya.

Hampir setiap minggu orang tuanya dipanggil kesekolah, akibat berbagai pelanggaran Yang dilakukan disekolah. Yang masih bisa dibanggakan adalah anak tersebut absen kehadirannya selalu penuh dikarenakan memang rajin masuk sekolah. Hanya saja setiap ada pembelajaran selalu keluar masuk kelas dengan berbagai alasan. Padahal untuk menghindari belajar didalam kelas, mengingat usianya juga sudah melebihi dari usia anak seangkatan SMA. Sehingga jadi malas untuk mengikuti pembelajaran dikelas.

Tidak hanya satu orang yang berbuat seperti itu cukup banyak juga, karena sudah ada harapan ada orang dalam yang akan menjamin dia untuk bantu masuk kerja. Memang kenyataan dilapangan seperti itu dan sudah banyak yang protest tapi tidak ada solusinya, tetap berdasarkan hasil dari orang dalam dan titipan. Bahkan ada satu orang alumni bercerita pernah mengikuti suatu tes masuk kerja di kabupaten. Dia mengikuti semua proses seleksi dengan baik, tetapi pada saat pengumuman hasil seleksi nomor dia ikut tes sudah berganti dengan nama orang lain. Pada saat dipertanyakan jawabnya hanya, " itu sudah pengumuman seleksi tes terima saja". Dikarena dia masyarakat. kecil dan tidak punya orang dalam maka dengan sangat terpaksa diterima hasil seleksi dengan dongkol dan amarah.

Hal ini sangat berdampak sekali terhadap motivasi belajar siswa disekolah. Salah satu yang menjadi pemicu kurangnya semangat belajar siswa adalah selain orang dalam juga masalah gaji. Kalau dibandingkan antara gaji seorang guru KKI dengan yang bekerja Dinas Lingkungan sangat jomplang sekali. Kalau seorang guru KKI harus sudah sarjana dengan gaji empat jutaan, sedangkan yang kerja di Dinas Lingkungan Hidup yang hanya tamatan SMP atau SMA kerjanya hanya membersihkan sampah dilaut yang tidak setiap hari dilakoni bisa bergaji tujuh jutaan. Dan kerjanya hanya dipagi hari saja dan tidak rutin. Seorang guru dituntut harus berada dikelas dari mulai jam 06.30 sampai jam 15.20 WIB karena sudah ditunggu oleh para muridnya.

Begitu mirisnya sehingga para siswa mempunyai pemikiran buat apa sekolah tinggi-tinggi, cari kerja aja susah karena masih banyak sarjana yang menganggur. Akibatnya belajar ogah-ogahan karena sudah ada yang akan menjamin atau orang dalam Yang akan membantunya mendapatkan pekerjaan. Apalagi sekarang lagi marak sistem dinasti dalam menjabat sebagai kepala daerah. Bahkan seorang bapak, istrinya, anaknya, adiknya bisa menjabat sebagai gubernur, bupati, walikota dan anggota DPRD. Makanya KKN di Indonesia tidak akan pernah habis, semakin banyak orang melakukan korupsi sedangkan masyarakat kecil semakin miskin. Dan hutang negara semakin bertambah.

Kepulauan Seribu

Jumat/ 24 Juli 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post