Fitria Gustina

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
DOA IBU SELALU MENYERTAI SETIAP LANGKAHKU
Tantangan menulis Gurusiana

DOA IBU SELALU MENYERTAI SETIAP LANGKAHKU

DOA IBU SELALU MENYERTAI SETIAP LANGKAHKU

Menurut cerita ibuku pada 47 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Rabu pagi jam 10.00 Waktu Indonesia Barat tanggal 14 Agustus 1973 lahirlah sesosok bayi cantik kedunia dari rahim seorang ibu. Bayi itu adalah aku, yang dilahirkan secara normal dengan bantuan seorang bidan desa. Menurut cerita ibuku, aku termasuk anak yang lahirnya dengan melewati proses yang agak sulit dan lama. Barangkali karena aku masih betah dalam rahim ibuku yang menghangatkan dan selalu dilindungi kemanapun ibu pergi. 

Aku terlahir dalam keluarga besar dan merupakan anak ke 8 dari 9 bersaudara, dengan 4 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. Alhamdulillah berkat jasa bapak dan ibu kami semua tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu-lucu. Diwaktu kecil keluargaku mengalami musibah dengan meninggalnya 2 orang kakakku dikarenakan sakit dan satu lagi digigit anjing gila. Walaupun sudah dibawa dirumah sakit dan ditangani langsung oleh dokter, tetap nyawa kakak-kakakku tidak tertolong. Mungkin Tuhan lebih sayang kepada mereka sehingga lebih dahulu dijemput.

Sedari bayi kami semua dirawat oleh ibu dengan telaten dan penuh kasih sayang tanpa bantuan orang lain. Walaupun ibuku termasuk orang yang cukup pemarah dan cerewet, akan tetapi kami yakin itu semua dilakukan oleh demi kebaikan kami. Dan kami sekarang merasakan manfaat dari buah didikan ibu dan bapak dalam menjaga dan merawat kami. Bapakku berprofesi sebagai seorang agen minyak tanah yang menyalurkan kewarung-warung dan ibuku sebagai ibu rumah tangga.   Ibuku dulu pernah sekolah perawat di Bandung, tapi dikarenakan kakekku sakit dan tidak ada yang merawat selain nenek maka ibuku disuruh kembali pulang kekampung. Demi orang tua maka ibuku meninggalkan studinya dan tinggal dikampung merawat orang tua dan hartanya. 

Aku termasuk anak yang dekat dengan ibu dibandingkan saudara-saudaraku yang lain. Karena memang sedari bayi sampai aku menikah selalu berada didekat ibu dan bapak. Tidak terhitung berapa kali aku sakit sedari kecil yang selalu dengan penuh cinta kasih ibu merawatku sampai sembuh. Walaupun aku sudah duduk dibangku sekolah dasar, ibu masih sanggup mengendongku ke puskesmas untuk berobat. Diwaktu aku dirawat di Puskesmas karena menderita sakit tipus, ibulah yang senantiasa merawat dan bolak balik kerumah dan puskesmas untuk mengantar dan menjemput keperluanku selama dirawat. Bapakku hanya bisa menjagaku dimalam hari karena siang harus kerja. Sungguh besar jasa ibu dan bapak yang telah diberikan kepadaku dan aku tidak sanggup membalasnya selain hanya bisa membahagiakan beliau.

Dari ibulah aku belajar segala-segalanya, mulai dari cara menyisir dan mengucir rambut, cara menyapu, mencuci baju yang bersih, menyetrika baju yang rapi, memasak yang enak dan cara merawat anak dan melayani suami. Ibulah yang telah mengajarkan agar aku mengetahui semuanya dari hal yang terkecil sampai terbesar. Berkat didikan ibu aku bisa melakukan semuanya dan Ibu selalu memberi nasehat, bahwa apapun yang dikerjakan lakukanlah dengan ikhlas. Seberat apapun pekerjaan yang dipikul akan terasa ringan apabila dilakukan dengan lkhlas. Serta jangan pelit untuk selalu membantu pekerjaan dan kesusahan orang lain. Walaupun sekarang sudah berumah tangga dengan memiliki 4 orang anak semuanya bisa aku urus sendiri. Dengan bantuan suami maka semua pekerjaan rumah dan disekolah bisa diselesaikan dengan baik. 

Satu hal yang sangat berkesan sekali dan membuatku terharu, pada saat aku melahirkan anak yang keempat. Pada saat tiba waktu persalinan ibuku sedang berada dikampung, dan biasanya setiap aku melahirkan ibu selalu berada disisiku. Ibu selalu memantau keadaanku melalui kakakku dari kampong. Tanpa sepengetahuan kakakku, ternyata ibu secara diam-diam mencari orang buat ikut bareng pergi ke Jakarta. Dan ibu juga memberikan uang kepada orang tersebut, minta sekalian dibelikan tiket pesawat untuk berangkat menemuiku yang pada saat itu sudah masuk rumah sakit. Hal demikian aku ketahui dari kakakku pada saat ibu akan berangkat ke Jakarta. Dikarenakan ada masalah dikandunganku, maka aku harus melahirkan secara dioperasi. Dan ibu masih sempat menemaniku waktu masih dirawat di rumah sakit. Sungguh besar pengorbananmu ibu buat aku dan aku tidak akan melupakan jasa dan pengorbanmu selama ini. 

Ibuku sering berkata kepadaku bahwa harapan beliau agar semua anak-anaknya sehat selalu dan menjadi sukses di dunia dan akhirat. Disetiap doanya beliau selalu mendoakan yang terbaik buat kami. Terlebih buat aku, ibu mengharapkan agar aku bisa memperoleh masa depan yang bagus dan bisa membuat bangga orang tua. Mempunyai suami yang sekampung dengan aku, mempunyai rumah dekat mesjid, dan semua itu terpenuhi. Berkat doa ibu aku bisa meraih semuanya dan masih ada satu pengharapan ibu selama ini terhadapku yang belum tercapai. Yaitu ibu pernah berharap agar aku bisa menunaikan ibadah haji, dan keinginan ibu tersebut belum bisa aku penuhi. Semoga secepatnya pengharapan ibu tersebut bisa aku penuhi atas seijin Allah SWT. Aamiin. 

Pada tanggal 28 November 2017 sehabis Magrib, aku mendapatkan telepon dari kakakku yang berada di Bekasi dengan membawa kabar duka. Dalam hati aku sempat heran, tumben dan ada apa habis Magrib ditelepon. “ Dek ibu sudah tidak ada”, bagaikan disambar petir mendengar kalimat tersebut. Berita yang tidak diduga dan tidak diharapkan tapi harus terjadi dan harus aku terima.” Innalillahi wa Innalillahi Rojiun”, hanya itu yang terucap dari bibirku dan aku lemas serta hanya bisa menangis. “ Ya Allah kenapa harus cepat kamu panggil ibuku, sedangkan aku belum sepenuhnya bisa membahagiakan beliau”. Malam Hari itu juga suamiku mencari tumpangan kapal yang akan berangkat kedaratan Jakarta, tapi nasib berkata lain dan tidak ada satupun kapal yang berangkat malam itu juga. 

Abangku mencarikan tiket pesawat kekampung yang jadwal keberangkatannya disesuaikan dengan kedatanganku dari Kepulauan Seribu dibandara Halim Perdana Kusuma. Dan aku mendapatkan tiket keberangkatan pada pukul 09.30 WIB dan aku berangkat setelah subuh dari Pulau Pramuka dengan menumpang kapal yang biasa mengangkut pedagang yang akan berbelanja sembako ke Kronjo Tangerang. Kembali Tuhan menakdirkan sesuatu yang tidak aku inginkan, yaitu pesawat mengalami penundaan keberangkatan satu jam dari jadwal yang telah ditentukan. Aku hanya bisa menangis sendiri dibandara sedangkan kakak-kakakku sudah berangkat dengan penerbangan pertama dengan tujuan ke Padang. Sambil menunggu  aku tidak henti-hentinya berdoa agar pesawat cepat berangkat dan aku bisa bertemu ibuku walaupun hanya jasad beliau. 

Akhirnya aku ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan ibu, karena sudah terlalu lama ibu menunggu kedatanganku. Aku pasrah dan merelakan ibu untuk dimakamkan segera. Semua kakak-kakak dan adikku sudah berkumpul melepas ibu untuk dimakamkan, tinggal aku yang masih dalam perjalanan. Menurut cerita kakakku, pada saat akan diikat kain kafan penutup kepala ibu ada air mata mengalir disudut mata beliau. Ternyata ibuku masih menunggu kehadiranku dan menangis disaat mengetahui aku belum hadir. Begitu sayangnya ibu terhadapku tapi aku tidak bisa bertemu dan menyesholatkan beliau untuk yang terakhir kalinya. “ Ya Allah ampunilah dosa-dosa ibu dan bapakku, terimalah amal ibadah Islam beliau dan tempatkanlah mereka disurgaMu. Aamiin Ya Robbal Alamin. 

Dengan kepergian ibu bagaikan ada yang hilang dari diriku, dan aku jatuh sakit selama satu minggu. Biasanya aku selalu bersemangat dan jarang sakit, mungkin semua itu karena adanya doa ibu yang selalu menyertai setiap langkahku. Aku tidak mau larut dalam kesedihan dan kembali bersemangat setelah ingat pesan ibu, “ jaga dan rawat anak-anakmu dengan baik agar nanti menjadi anak yang bisa membanggakan dan berbakti kepada orang tua serta agama”. Insya Allah ibu aku akan selalu ingat pesan-pesanmu dan terima kasih atas jasa, kasih sayang dan doa-doamu ibu dibalas oleh Allah SWT dan sebagai penuntunmu untuk masuk Surga . Semoga bapak dan ibu serta kakak-kakakku berkumpul disurga dan bahagia disana.

Aamiin Ya Robbal Alamin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post