Fransiskus Sutardi, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

BELAJAR DI RUMAH (Sebuah Tantangan )

Di masa pandemi covid-19, anak-anak SD di sekolah kami melaksanakan pembelajaran di rumah. Tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh dalam jaringan atau online karena keterbatasan sarana seperti hp android yang dimiliki orang tua siswa. SDI Watu Alo yang terletak di desa Ndehes kecamatan Wae Ri'i kabupaten Manggarai Flores NTT masuk dalam kategori terpencil seperti SK yang dikeluarkan oleh Kementerian pada tahun 2021. Predikat terpencil tentunya berdasarkan kriteria seperti kondisi geografis, pendapatan masyarakat, serta kondisi jaringan internet yang tidak mendukung.

Pada tahun pelajaran 2021/2022 jumlah peserta didik baru kelas satu hanya 15 orang. Total siswa seluruhnya dari kelas satu sampai kelas enam pada tahun ini berjumlah 163 orang. Setiap tahun mengalami penurunan jumlah siswa berkisar 15- 20 sejak tahun 2018. Setelah ditelusuri, ternyata program KB sudah berhasil. Imbas dari berkurangnya jumlah siswa adalah pada guru- guru yang sudah sertifikasi dengan jumlah jam tatap muka minimal 24 jam per -Minggu. Jumlah rombongan belajar berkurang dan pada sisi lain jumlah guru sudah sertifikasi banyak. Jumlah siswa dalam satu kelas untuk SD berkisar 20-28 menurut ketentuan.

Pada saat ini, menjadi tantangan serius bagi guru kelas satu untuk membimbing anak-anak dalam hal membaca dan menulis. Kelas satu adalah kelompok pemula. Mereka belum mengenal huruf dan angka. Peran guru sangat besar agar mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Kabupaten Manggarai masih berada dalam zona merah penyebaran Covid-19 dengan trend meningkat setiap harinya, memaksa Bupati mengeluarkan instruksi untuk melarang seluruh kegiatan dalam bentuk apapun di sekolah termasuk menghadirkan peserta didik. Belajar di rumah menjadi sebuah alternatif dengan harapan bahwa orang tua mereka sendirilah yang membimbing. Walaupun suasananya tidak seperti belajar di sekolah yang ada interaksi langsung antara guru dengan siswa. Tetapi begitulah kondisinya. Tak ada rotan,akar pun jadi.

Keterbatasan sarana yang dimiliki orang tua siswa membuat para guru mengalami kesulitan untuk melaksanakan pembelajaran daring. Solusi yang diambil adalah guru wajib membuat rangkuman materi dan tugas untuk enam pembelajaran dari satu sub tema. Tugas tersebut untuk satu minggu. Sekali dalam seminggu, orang tua siswa datang ke sekolah untuk menerima dan mengumpulkan tugas yang sudah diberikan sebelumnya.

Untuk mengetahui keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas, guru wajib membuat jurnal pembelajaran di rumah. Dengan demikian, guru dapat mengetahui siswa yang rajin atau malas mengumpulkan tugas. Dan ini menjadi salah satu syarat untuk kenaikan kelas. Metode ini kami terapkan sejak tahun lalu.

Dari hasil pantauan dan evaluasi, hasilnya memang jauh dari harapan. Anak-anak kelas satu baru sampai pada mengenal abjad. Belum bisa menggabungkan huruf, apalagi membaca. Kalau semua orang tua siswa memiliki hp android, mungkin pembelajarannya akan lebih efektif karena dalam jaringan. Kita bisa memantau peserta didik pada saat melakukan zoom meeting. Interaksi antar guru dan siswa pun terjadi. Hasilnya lebih baik dan kualitas pembelajaran terjamin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post