Fransiskus Sutardi, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LOMBA MAKAN KERUPUK

LOMBA MAKAN KERUPUK

Kerupuk sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak lama. Tidak heran, ketika ada acara pesta atau sejenisnya, kerupuk selalu disuguhkan sebagai pelengkap hidangan. Selain proses pembuatannya mudah, harganya murah, serta bisa menjangkau seluruh pasar, kios, minimarket sampai pada pedagang keliling.

Pada zaman penjajahan Belanda era 1940-an, bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi. Harga pangan melambung tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Salah satu makanan yang menjadi andalan pada zaman itu adalah kerupuk, karena harganya terbilang murah dan bisa dijangkau oleh masyarakat kelas ekonomi ke bawah. Kerupuk menjadi pilihan utama untuk mempertahankan hidup.

Pada masa kolonialisme, rakyat Indonesia banyak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Padahal, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alamnya. Namun kekayaan itu tidak dinikmati sendiri, melainkan dinikmati oleh penjajah. Bangsa Indonesia hidup seperti orang asing di negeri sendiri. Hidup menderita, melarat, dan tertindas. Tragedi ini menjadi sebuah catatan sejarah yang panjang menuju kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.

Peringatan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus adalah sebuah momentum sejarah, dimana berakhirnya penderitaan rakyat dari penjajahan kolonialisme. Kemerdekaan yang telah dicapai merupakan tahap akhir dari sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah.

Dengan adanya kemerdekaan berarti bangsa Indonesia mendapat kebebasan. Bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan bangsa asing. Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, maka bangsa Indonesia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Perayaan HUT RI ke-76 pada 17 Agustus tahun 2021, agak berbeda dengan tahun sebelumnya karena Pandemi covid-19 sedang melanda Indonesia bahkan dunia, sehingga segala kegiatan dibatasi dan dengan disiplin mengikuti protokol kesehatan. Kemeriahannya pun tidak semeriah pada HUT RI sebelumnya. Agar momentum HUT RI tahun ini tidak terlewatkan begitu saja karena Pandemi global, maka para orang tua warga KBG St. Paulina Woang Ruteng kabupaten Manggarai NTT, menggelar acara lomba makan kerupuk yang pesertanya adalah anak-anak usia TK, SD, dan SMP. Kegiatan tersebut dibuka oleh ibu Mila ketua KBG St.Paulina yang juga sekaligus ketua panitia perlombaan.

Tampaknya sederhana, karena jumlah pesertanya terbatas, tetapi semuanya dilaksanakan dengan sukacita dan penuh kemeriahan. Perlombaan tersebut tidak sekedar menyemarakkan suasana tetapi mau mengajarkan kepada anak-anak akan makna perjuangan dan semangat, dengan rasa percaya diri yang tinggi. Bahwa pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan pangan sehingga makan apa adanya dan yang harganya murah. Hal tersebut disimbolkan dengan tangan peserta lomba diikat sambil berusaha memakan kerupuk yang menggantung. Walaupun dengan segala kekurangan dalam segi pangan, masyarakat Indonesia tetap bersemangat memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah.

Aturan lomba makan kerupuk sangat sederhana. Kerupuk diikat dengan tali dan diletakkan sejajar dengan posisi mulut peserta lomba. Kerupuk hanya boleh diambil dengan mulut. Peserta lomba yang menghabiskan kerupuk tercepat, dialah pemenangnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post