Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bukuku di Tangan Sahabat

Bukuku di Tangan Sahabat

Oleh Hermin Agusini

Tantangan hari ke – 17

#TantanganGurusiana

Selamat pagi pembaca.

Pembahasan tentang nasib buku pertamaku aku lanjutkan hari ini.

Tak cukup hanya berbagi buku di sekolahku. Akupun berbagi buku dengan sahabat – sahabatku. Mereka adalah sahabat yang sudah seperti keluarga. Kami dipertemukan pada saat sama – sama menempuh pendidikan pasca sarjana di Unisma Malang. Di antara para sahabatku itu, akulah yang tertua. Sehingga mereka terbiasa memanggilku Bunda.

Tak ada yang spesial bagi mereka. Saat aku bilang “ gaes,bukuku sudah terbit,”

Degan flat si Pak Shodiq, seorang guru Bahasa Inggris di SMK Muncar malah bilang,”trus kenapa?”.

“Ya nggak kenapa – kenapa sih”. Jawabku disusul tawa yang lain. Begitulah cara kami berkomunikasi. Sangat dekat dan tak jarang saling meledek.

“Yakin gak mau bukuku?” tanyaku sambil memamerkan bukuku ke mereka.

“Tentang apa Bun?” tanya Pak Royan seorang kepala sekolah SD di Genteng.

“Baca saja sinopsisnya”. Kata Bu Ana, dosen Bahasa Inggris di IKIP PGRI Jember.

“Oke”. Jawabku langsung membacakan sinopsis sekaligus cuplikan kalimat – kalimat yang menurutku penting. Dan semua menyimak dengan seksama termasuk Pak Eko Adi, guru Bahasa Inggris di MA Miftahul Ulum Suren. Aku tahu, disaat seperti itu mereka sangat serius menyimak.

Begitu aku selesai membaca. Mereka pasti membei tanggapan. Tanggapan pertama sudah tentu penuh ledekan.

“Ah biasa saja,” kata si Pak Shodiq yang memang paling sering meledek. Sementara kulihat si Pak Royan sedang mengernyitkan keningnya tanda ia berpikir. Sedangkan si Ana dan Pak Eko mulai tertawa lebar.

“Apa istimewanya ?”, tanya Ana yang diikuti oleh yang lain.

“Iya tuh !, sejak kapan sekolah Bunda melaksanakan penerimaan siswa baru dengan sistem Zona?”. Tanya si Pak Royan yang sedari tadi diam.

“Ya sejak dua tahun ini,” jawabku yang disambut dengan tawa serempak mereka.

“Lah, kenapa?” tanyaku bingung.

“Bagi kami, yang dituli Bunda tuh bukan hal baaru Bun,” kata si Pak Eko.

“Ya Iyalah!” sambung si Pak Shodiq. Yang kemudian mereka ribut sendiri membahas pengalaman mengajar siswa masing – masing. Sementara aku diam menyimak.

“Kalo aku sejak pertama mengajar di sekolah swasta, ya sudah terbiasa menghadapi anak- anak seperti itu Bun,” sambung si Pak Eko.

“Aku juga sudah bertahun – tahun Bun, megang sekolah SD pinggiran.” Kata si Pak Royan.

“Tapi Bunda hebat!” kata si Pak Shodiq menghentikan ributnya pembicaraan kami yang mulai gak jelas.

“Eit…Eit…!, apa coba?” tanyaku gak percaya.

“Iya Bun, Bunda hebat. Pertama, Bunda sombong!. Baru saja menghadapi siswa kayak gitu sudah bangga,”

“Hmmm, kan?” kataku.

“Kedua, Bunda hebat karena langsung nulis buku!” sok inspiratif….hahaha” tawa Shodiq diikuti yang lain.

Begitulah cara kami membahas apapun. Mulai pembahasa ringan sampai serius.

“Aku mau bukunya Bun,” kata Ana.

“Ikh beli dong!” jawabku.

“Aku juga mau Bun,” sambung si Pak Royan.

“Tenang – tenang !” kataku sambil mengeluarkan buku dari tasku.

“Semua dapat bagian, dengan syarat semua wajib selfi serah terima buku. “Someday you will be very proud of these pictures,” ( suatu hari nanti kalian akan bangga dengan foto – foto ini ). Kataku penuh semangat.

Saat itu. Di dalam hatiku. Aku benar – benar berdo’a. Suatu hari nanti. Jika aku benar – benar menjadi penulis handal. Sudah pasti. Semua keluarga. Sahabat. Dan teman – temanku akan bangga memperoleh kesempatan berfoto bersama penulis terkenal. Mereka juga akan bangga memperoleh karya pertamaku. He..he…saat ini, semua terdengar seperti khayalan ya. Ya itulah aku. Memang benar jika kehlianku adalah berkhayal.

Aku tidak tersinggung lagi dengan sebutan tukang berkhayal. Karena bagiku, kata tukang mengandung makna akhli. Jadi menurutku. Tukang berkhayal sama dengan akhli berkhayal. Dan itu artinya, berkhayal yang dilakukan dengan keahlian. He..he…pembenaran. Semoga aku tidak sedang menyesatkan.

Ya, berkayal yang dilakukan dengan keahlian menulis. Itu yang sebenarnya aku maksudkan. Dan memang itu yang sedang aku lakukan. Mengasah keahlian.

Terimakasih kepada para sahabat yang memberi nasib baik pada bukuku. Terimakasih kalian bersedia membaca sekaligus memberi kritik dan saran yang lumayan balk – blakan. Semua sangat bermanfaat untuk tulisanku ke depan.

Pembaca. Kegiatan berbagi buku tidak berhenti di sini. Aku masih membagikannya dengan beberapa kepala sekolah di sekolah – sekolah tetangga. Bagaimana kisahnya? Lagi – lagi kita harus lanjut besok. Waktu menulisku terbatas kegiatan lain.

( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post