Mengapa Aku Harus Menulis ? (part 2)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan Menulis hari ke 3
#TantanganGurusiana
Masih tentang perasaanku yang terpaksa setuju dengan keyakinan banyak orang bahwa “guru digugu dan ditiru”. Menulis kata yang ada di dalam kutip itu, tak terasa dan sangat otomatis bibirku mencibir diriku. He..he, apa dariku yang bisa digugu dan ditiru?. Tapi tak ada pilihan, aku sudah terlanjur menjadi guru maka wajib bagiku untuk bisa digugu dan ditiru. Kata – kata yang menjadi keyakinan banyak orang itu akhirnya menjadi motivasi bagiku.
Aku introspeksi diriku, seberapa pantaskah aku disebut sebagai guru? Aku harus bergerak dari zona nyaman. Aku harus bangkit untuk terus belajar. Aku harus memenuhi kepantasan supaya sesuai degan harapan banyak orang bahwa guru harus bisa menjadi tauladan.
Apakah aku terlambat jika baru kali ini mulai belajar menuju kepantasan sebagai tauladan? Tentu saja tidak. Aku keberaratan jika ada yang berpikiran seperti itu. Tapi itupun tidak salah karena para pembaca pasti tidak pernah tahu apa yang sudah aku lakukan untuk memenuhi keyakinannya itu. Memang sih, kesadaranku untuk belajar sebagai wujud keinginan memantaskan diri tidak terjadi serta merta.
Di awal mengajar sebagai guru baru, aku pernah mendapat tekanan dari seniorku yang menguji kemampuanku di bidang studi yang aku ampu. Masih teringat sangat kuat bagaimana beliau mencibirku. Sakit hatiku dengan perlakuan itu. Tapi saat ini aku bersyukur karena peristiwa itu aku belajar lebih menguasai mata pelajaran yang aku ampu dan itu memang sangat bermanfaat bagiku dan bagi siswaku.
Seiring waktu, banyak hal yang aku serap sebagai bahan renungan. Mendengarka keponakan membicarakan para guru mereka. Mendengarkan anakku sendiri membicarakan gurunya. Bahkan berbincang dengan mantan siswa yang saat ini menjadi guru bersamaku seolah aku menatap cermin besar yang mengoreksi perjalanku sebagai guru.
Dari semua yang aku lalui aku ingin berbagi dengan sesame guru yang mungkin mempunyai perasaan yang sama denganku. Tapi bagaimana aku akan menuturkan pengalamanku ? Akankah aku bercerita pengalamanku pada orang lain bagaimana perjuangan guru? He..he…pasti sangat terdengar lucu bahkan mungkin malah dikira setengah ketan alias “setengah edhan” mengingat diriku yang hanya guru biasa yang tak punya kemampuan apa – apa. Namun, aku tetap harus berbagi pengalamanku supaya orang lain tahu bahwa tak mudah menjadi guru apalagi guru yang bisa gugu dan ditiru.
Bermula dari keinginan itu, aku merasa perlu mengabadikan ceritaku. Aku perlu menuliskan semua pengalamanku, siapa tahu suatu saat ada yang membaca tulisanku. Minimal anakku tahu bahwa aku adalah guru yang selalu belajar untuk terus memantaskan diri sebagai guru. Aku merasa wajib menulis buku.
Tapi Lagi – lagi aku merasa tak mampu untuk melakukan hal itu. Aku iri pada sahabatku yang sudah sukses menuliskan dan menerbitkan buku.
“Hebat emmak, sudah bisa menulis sebuah buku,” ucapku ketika aku meminta buku hasil karya sahabatku. He..he..catat ya, meminta bukan membeli buku. Maklum, waktu itu aku tidak tahu bagaimana sebuah tulisan bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. Jika tahu, tentu aku malu untuk meminta buku. Namun untungnya, sahabatku sangat baik padaku.
“Apanya yang hebat mak, ikut saja pelatihan menulis di media guru, “ ucap temanku membuka jalanku. Dia memberi jadwal pelatihan menulis “sagusabu” yang diadakan oleh Media Guru. Namun beberapa jadwal yang ada masih di luar kota. Di Sumatra, di Jakarta, di Malang, di Madura dan banyak jadwal lain yang masih di luar kota. Semua serasa kendala. Karena aku yang sudah setua ini masih takut jika bepergian jauh sendiri. Bukan takut penculik, sih? Aku takut tertidur di kendaraan, takut lupa barang, takut kesasar. Ya takutlah pokoknya.
Pernah ingin ikut pelatihan sagusabu di Madura, namun Alhamdulillah ada jadwal yang lebih dekat yaitu di Bondowoso. Di kota kelahiranku. Menghadiri sagusabu Bondowoso serasa pulang kampung halaman. Menginap di salah satu teman SD, dikunjungi teman - teman SMP dan SMA serasa reuni. Bercanda cerita sampai larut malam. Padahal aku harus menyelesaikan tugas membuat synopsis dari kegiatan sagusabu. Eits, maaf hanya intermeso. Ya begitulah, aku suka gak fokus jika menyampaikan sesuatu. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan. Sampai gak jelas. Tapi jangan bosan ya pembaca. Tunggu kelanjutan ceritaku besok.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan