Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Geliat Kecilku ( part 3 )

Geliat Kecilku ( part 3 )

Oleh Hermin Agusini

Tantangan hari ke – 23

#TantanganGurusiana

Selamat pagi pembaca. Hari ini hari ke 23 tantangan menulis. Dan aku masih ingin melanjutkan kisah geliat kecilku. Kali ini bukan untuk mengundang ke pelatihan menulis sagusabu MediaGuru. Namun ya sekedar berbagi. Dalam rangka memenuhi janji kepada beberapa orang yang telah menanti karya tulisku.

Dari buku yang tersisa. Aku bagikan ke sekolah anakku. Aku sampaikan ke anakku, “ dek, bunda titip buku untuk Miss Zakiyah dan Miss Lia,ya?”.

Miss Zakiyah adalah kepala sekolah SDI Fullday Baitul Izzi. Sedangkan Miss Lia adalah guru les privat anakku. Beliau berdua selalu mengikuti status whatsapp mengenai buku pertamaku. Dan memang menunggu hasil karyaku terbit.

Terkesan tidak sopan ya? Memberi buku kok dititipkan ? Ah, tidak juga. Karena Miss Zakiyah masih saudara suamiku dan kami memang akrab. Jadi tidak ada masalah meski buku aku titipkan melalui anakku. Tentu saja sebelumnya aku sudah berkomunikasi via whatsapp.

Di sekolah anakku ada beberapa guru yang mantan muridku. Mereka kemungkinan alumni siswa SMP angkatan 2003 sampai 2005. Aku tak terlalu bisa mengingat. Hanya satu hal yang sangat aku ingat. Semua mantan siswaku rata – rata menyebutku guru cerewet. Hehe…pengganti kata galak.

Dan mungkin diantara mantan muridku ada yang meniru gaya mengajarku dulu. Semoga saja dengan membaca bukuku mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu. Semoga juga mereka bisa mengajar dan mendidik lebih baik dariku.

Hal yang lebih penting. Setelah membaca buku itu. Aku ingin para mantan siswaku memaafkanku. Maaf yang sebenar – benarnya maaf. Mungkin ada yang aku nasehati dengan cara yang terlalu keras. Semoga mereka mengerti bahwa yang aku lakukan dulu karena rasa perduliku. Jaman itu memang jaman guru boleh memberi kasih sayang sepenuh hati.

Jaman sekarang sudah berbeda. Guru benar – benar dituntut untuk menjadi pengajar sekaligus pendidik dengan super – super sabar serta penuh pengorbanan. Melayani siswa dengan sebaik baiknya. Yang hal ini terkadang membuat sebagian mereka yang tidak mengerti malah semena – mena terhadap guru. Memperlakukan guru seperti pengasuh anak di empat penitipan anak. Maaf jika kalimat ini kurang nyaman dibaca. Namun itu nyata. Sudah banyak kita mendengar beritanya.

Pengasuh anak di tempat penitipan anak masih terlalu sangat mulia. Tepatnya, mereka menganggap guru sebagai pelayan. Sehingga tak heran, jika kebarokahan ilmu tak lagi bisa terserap melalui cubitan sayang. Banyak anak didik saat ini yang justru berlaku semakin tidak sopan.

Setelah membaca buku yang berjudul “Nak, Duduklah Sebentar Bersamaku”. Aku yakin semua kenangan guru galak akan berubah makna. Semoga kenangannya menjadi lebih manis. Hehehe…ya itulah perjalanan mengajarku yang aku kemas menjadi sebuah buku cerita. Dengan rangkaian kata bertutur sederhana. Namun penuh makna.

Jika di antara para pembaca saat ini ada yang tertarik. Silahkah baca legkap kisahnya di bukuku, ya?

Bagi yang amat penasaran, aku bantu dengan sinopsis berikut :

Judul : Nak, Duduklah Sebentar Bersamaku

Penulis: Hermin Agustini

Instansi: SMP NEGERI 1 BALUNG JEMBER

Mengajar siswa pintar dan berprestasi akademis pastilah menyenangkan bagi semua guru. Proses belajar mengajar akan mengalir mudah tanpa kendala. Pembelajaran akan berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, tak semua siswa pandai dalam akademisnya. Terkadang guru dihadapkan kepada siswa yang tingkat kecerdasan akademis lemah? Metode pembelajaran menjadi macet. Berbagai kendala lain muncul. Hal yang pasti tidak memuaskan sekolah, guru dan orang tua.

Cerita tentang siswa berprestasi merupakan hal biasa. Di dalam buku ini penulis berbagi kisah menarik pengalaman mengajar siswa dengan tingkat kecerdasan akademis di bawah rata-rata. Dengan Bahasa bertutur, buku ini sangat layak dibaca kalangan pendidik dan orang tua.

Kisah dalam buku ini adalah sebuah metamorfosis perjalan panjang menuju kepantasan untuk disebut sebagai guru. Yang digugu dan ditiru. Sehingga guru tak perlu mendapat perlakuan keliru. Dari pihak yang tak mampu melihat guru sebagai pembimbing dalam menimba ilmu.

Sekian kisahku dalam episode Geliat Kecilku. Semoga Allah memudahkan langkahku.

Bagi yang serius ingin membaca silahkan inbox ya. Boleh gratis, boleh juga beli. Semua terserah pada hati. Salam Literasi !!!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post