Ketidaksengajaan Yang Fatal
Oleh Hermin Agusini
Tantangan hari ke 29
#TantanganGurusiana
Selamat pagi pembaca. Semoga masih terus bersemangat. Meski saat menulis ini aku seperti kehilangan seluruh ototku. Airmataku mengalir deras tanpa bisa aku tahan. Rasanya ingin membenamkan wajah ke bantal dan menangis sejadi – jadinya. Namun tak bisa aku lakukan. Karena aku sedang bersama siswaku di kelas
Tulisanku dengan judul “Maaf Yah, Bunda Masih Belum Bisa Move on dari Rasa Itu..” belum bisa aku lanjutkan ke hari ini. Semoga para pembaca bersabar. Ada kejadian genting yang lebih ingin aku ceritakan kepada pembaca. Semoga yang aku alami tidak menimpa pembaca.
Kemarin pagi di kelas. Di jam pertama. Aku sempatkan bercerita pada siswaku. Tentang apa yang baru saja terjadi dengan ku. “Anak-anak, hari ini adalah hari ke 28 ibu menulis di blog GuruSiana. Ini adalah tigapuluh hari pertama di tantangan menulis yang sedang ibu ikuti,” kataku sambil menghela nafas. Aku menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang serasa kering. Suaraku tiba-tiba serak. Aku hampir menangis tapi aku tahan.
“Tadi pagi, saat ibu memposting tulisan ke 28, tanpa sengaja mendelete tulisan ibu yang kemarin. Artinya, hari ke 27 hilang. Padahal jika ingin lolos tantangan 30 hari, tanggal postingnya harus urut dari hari 1 sampai dengan hari 30. Ibu sedih anak – anak. Tapi tetap bersemangat. Ibu tidak merasa gagal. Karena sejauh ini, ibu sudah berhasil memposting duapuluh delapan tulisan di blog Gurusiana.Tanpa henti dan nggak ada yang bolong, anak – anak.” Kalimatku menghibur diriku sendiri.
“Meski sedih,…sediiiiiih sekali. Karena perjalanan 28 hari itu tidak mudah. Ibu harus berjibaku dengan waktu, tenaga juga pikiran. Ada waktu keluarga yang terkorbankan untuk itu. Ibu sangat berupaya agar kegitan menulis ibu tidak mengganggu aktifitas lain. Tapi ibu wajib taat pada aturan tantangan.” Aku mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum.
“Jadi ibu tetap semangat meski postingan ibu dianggap bolong karena kehapus.” Semoga semangat ibu bisa menular pada kalian semua ya!,” kalimat ini sebenarnya untuk menguatkan hatiku sendiri.
Senyumku aku usahakan rekah untuk menutup celah sedih yang sakitnya cekit – cekit. Aku bertahan agar tak tumbang. Airmataku tak boleh jatuh. Tidak ada yang perlu disesalkan. Hanya tantangan. Aku harus bisa taklukkan. Meski tidak ada yang mewajibkan. Tapi hatiku terlanjur tertantang.
Di sela – sela mengajarku. Aku pun curhat pada para trainer. Sudah dijawab dengan jelas. Namun aku masih belum bisa menerima kenyataan. Aku terus saja berupaya. Aku kirimkan bukti- tulisan sedetail mungkin sampai pada jam tayang. Namun aturan ya tetap aturan. Aku harus menghormati itu.
Akupun mengirim pesan pada Emmak sahabatku.” Hemmakkk!!!……kemarin emmak membaca tulisanku di gurusiana kan?” tulisku dengan mata yang mulai berkaca – kaca.
“Iya Mak, aku baca.” Jawab sahabatku yang juga memanggilku dengan sebutan emak. Di saat itulah tangisku pecah. Aku duduk diam di mejaku. Mungkin muridku heran. Karena aku baru saja memberi contoh untuk bersemangat. Tapi kok nangis?.
“Bu guru sedang menulis cerita sedih anak – anak. Yang ibu tulis sekarang lagi sedih – sedihnya.” kataku supaya anak – anak tidak bingung. Hehe..semangat kok mewek?
“Buku ke dua Bu?” tanya salah seorang muridku.
“Wah saya ingin segera membacanya, Bu!. Sambungnya sambil tersenyum lebar.
“Saya baca tulisan ibu.” Kata muridku sambil menunjukkan buku hasil karyaku. Bagiku, hal itu sangat menghibur hatiku. Mesikupun begitu, aku terus melanjutkan curhatku.
“Aku gak jadi kerren mak,” tulisku lagi di whatsapp.
“Masih kok Mak. Mungkin ini tantangan bagimu. Kan mau ikut kelas editor?.Tetap semagat mak,” jawab sahabatku.
“Iya Mak, tapi aku tetap mewek,” balasku.
“Lihat ke atas Mak, katanya meredakan tangisan,” tulis sahabatku menghibur.
“Sudah ku lihat langit – langit kelas Mak, tapi airmataku tetap tidak bisa berhenti,” tulisku menjelaskan.
“Berarti tekanannya terlalu kuat mak,” tulisnya menggodaku. Aku hanya membalasnya dengan ikon menangis berbaris-baris.
“Bagaimana keputusannya?” tanyanya lagi.
“Belum tahu Mak,” tulisku dengan malas. Kemarin itu rasanya benar – benar mendem mangan semir.
Bagaimana rasaku hari ini? baca kisahnya besok pagi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
