Kok Bisa Ya? Aneh! (part 1)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 40
#TantanganGurusiana
Pagi itu cerah. Aku sedang bertugas menyambut siswa di pintu gerbang sekolah. Beberapa orang guru berdiri berjajar membagi formasi di dua pintu gerbang sekolah. Pagi ini semua menggunakan seragam olah raga. Karena kami sedang melaksanakan program Adiwiyata.
Hari itu, program Adiwiyata adalah memperindah taman sekolah. Setiap siswa mendapat tugas untuk mengatur taman di di depan kelas masing-masing. Tentu saja kegiatan ini melibatkan wali kelas.
Kebetulan aku adalah wali kelas sembilan E. Dan kebetulan pula aku dan siswaku telah membentuk taman di jauh-jauh hari sebelum program ini diadakan. Kami kelas UNESCO ,United Nine E Smart and Cool (nama yang dikarang oleh anak ) mempertahankan sebutan juara satu sebagai kelas terindah dan terbersih.
Jadi untuk program Adiwiyata kali ini, kami memang sudah mempunyai persiapan-persiapan kegiatan. Diantaranya, kami membuat taman di dalam kelas. Kemudian, masing-masing siswa berkewajiban membawa satu pot bunga untuk di tanam di halaman kelas.
Tak ketinggalan aku sebagai wali kelas, wajib memberi contoh yang konkrit kepada mereka agar semakin bersemangat. Anak-anak aku minta membuat pot kecil-kecil dari kaleng bekas susu yang dicat warna hijau. Aku minta mereka mengantar ke rumah. Eh salah, aku sendiri yang membawanya pulang.
Akupun menanami pot itu dengan tanaman hias yang serupa sehingga bisa diletakkan berjajar sebagai hiasan yang manis. Hampir satu bulan untuk menghasilkan tanaman hias di pot berwarna hijau itu.
Hari yang ditunggupun tiba. Anak-anak menawarkan diri untuk mengambil bunga itu ke rumah. Tapi aku tolak sebab aku harus berangkat pagi hari itu. Aku khawatir mereka terlambat.
Untuk memudahkan membawanya, bunga hias itu aku tata di dalam sebuah kardus besar. Sesampainya di sekolah, aku letakkan bunga dalam kardus itu di depan ruang tata usaha karena aku harus segera menyambut siswa di pintu gerbang.
Semua siswa terlihat membawa bunga masing-masing. Demikian pula dengan bapak ibu guru. Bahkan, ada guru yang membawa semobil bunga pesanan wali kelas dan siswa. Termasuk kelasku masih menambah beberapa bunga lagi.
Karena selain bunga yang sudah kami persiapkan. Ada lagi bunga yang harus ditanam sesuai dengan daftar pembagian tugas. Ketua kelas Unesco sudah mendata bunga apa saja yang akan mereka bawa. Semua kami komunikasikan di grup whatsapp.
“Fi, kamu ajak temanmu untuk mengambil bunga yang semalam saya share di grup ya. Sebagian ada di mobil Pak Munip.” Kataku kepada salah satu siswa kelasku yang sedang melintas dan bersalaman di pintu gerbang. “Iya,Bu,” jawabnya setelah bersalaman dan berlalu.
Tak lama kemudian Sofi memanggilku,”Bu, bunganya di letakkan di mana?” tanyanya bingung. “Di depan runag TU, kamu tahu kan bunga yang saya maksud? Semua sudah tertanam di kaleng-kaleng hijau.” Kataku menjelaskan. “Tapi tidak ada di tempatnya,Bu,” jawabnya.
“Loh, trus kemana bunga kita? Ayok anak-anak kita cari! Empat orang saja ikut saya. Sementara yanag lain tetap melanjutkan menata taman.” Ajakku pada mereka. Tapi dasar anak-anak, lebih dari empat orang yang membuntutiku.
“Kalau begitu kita bepencar saja. Ada yang mencari di kelas tujuh ada yang mencari di kelas delapan. Kalau di kelas sembilan tidak perlu kita cari. Saya sudah lihat, bunga kita tidak ada di sana. “ Demikian aku membentuk kerja team.
Dimanakah bunga kelasku?
(bersambung…)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
