Kok Bisa Ya? Aneh! (part 2)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 41
#TantanganGurusiana
Dimanakah bunga kelasku?
Aku dan dua orang siswa menyusur jejak dari tempat awal aku meletakkan bunga kelas. Sementara yang lain berpecar. Aku mulai bertanya kepada para guru yang barangkali tahu bungaku. Aku juga bertanya ke anak-anak yang bertugas menanm bunga di halaman depan sekolah. Namun nihil. Tak ada yang tahu.
Aku pun mulai menyusur ke tempat lain. Juga tak kutemukan. Kemudian segerombol team UNESCO datang tergopoh. “Bunga kita ada di kelas delapan F, Bu,”kata Nia melaporkan. “Bunga kita sudah ditata di taman mereka,Bu,” sambung Lia. “Kok tidak kalian ambil?” tanyaku dengan suara hampir melengking. “ katanya mereka beli, Bu,” Si Billy memberi keterangan.
Mendengar penemuan serta laporan anak-anak aku jadi geram. “Kalau begitu ayok kita kesana!” ajakku bergegas. Sesampai di depan kelas delapan F aku melihat pemandangan yang makin menggemaskan. Dengan santai mereka sedang menata taman. Diantara bunga-bunga yang mereka tata termasuk bunga hias di kaleng-kaleng hijau.
Aku dekati mereka. “Anak-anak, bunga hias di kaleng hijau itu kalian peroleh dari mana?” tanyanku. “Beli,Bu,” jawab salah seorang dari mereka membuatku makin geram. Namun masih aku tahan. “Iya Bu, anak-anak beli.” Kata wali kelasnya yang membuatku semakin geregetan. “Ini lagi! aneh banget! Bukannya nanya apa yang sedang terjadi malah ngasih jawaban salah.” Gumamku dalam hati.
Sementara aku abaikan wali kelas yang tidak tahu alur cerita. Daripada aku marah ke dia. Aku terus nertanya ke anak-anak saja. “ Kalian beli di mana?” tanyaku lagi. “tidak tahu, Bu,” jawab salah seorang dari mereka. “Tadi sudah ada di situ,” sambung temannya yang lain sambil menunjuk dengan tangan kiri.
Perilaku anak-anak yang seperti itu membuatku tak mampu lagi menahan emosi. Meskipun dengan kata yang kupilih agar tetap baik ya tetap saja terdengar marah.”Eh, nak! Sudah tidak sopan mengambil milik orang lain. kamu masih nunjuk pakai tangan kiri?” nada bicaraku meninggi. “Trus???kalian merasa nggak kalau kalian membuat pot-pot kaleng berwarna hijau itu?” Pertanyaanku tidak ada yang bisa menjawab.
“Tak kasih tahu ya!, yang membuat pot-pot itu adalah kelas kami. Sembilan E. Yang menanam bunganya adalah saya!. Bunga yang kalian tata di taman kalian itu adalah jerih payah kami. Selama satu bulan lebih! Lain kali jangan sembarangan menggunakan barang milik orang lain tanpa permisi. Apalagi yang asalnya kamu tidak tahu!” kaliamat-kalimatku sangat tegas dan kelihatan jelas kalau aku marah.
“Ya sudah anak-anak kelas sembilan E, ayok angkat bunga kita,” perintahku. Sementara anak-anak sembilan E mengankat bunga-bunga kami. Aku masih berdiri diantara siswa sembilan F. Super-super aneh. Tak ada penyesalan. Tak ada kata ma’af dari mereka.
Kejadian pagi itu sungguh aneh. Kok bisa ya? Diantara siswa kelas itu tidak saling tahu dari mana bunga berasal. Aneh bin ajaibnya lagi. Sang wali kelas tidak tahu alur cerita apa yang terjadi. Aneh pol-polan, wali kelas tidak tahu bunga apa saja yang dibawa muridnya.
Hari gini. Tindakanku marah-marah ke siswa juga merupakan tindakan aneh. Bertentangan dengan program sekolah ramah anak. Tapi menghadapi peristiwa seperti itu juga akan aneh jika tidak marah. Apalagi bagiku, yang gampang gemes jika menyaksikan ketidak perdulian di antara anak-anak jaman ini.
Dari peristiwa itu aku jadi mikir. Sedemikan tidak perdulikah diantara mereka? Karakter apa yang terbentuk di diri mereka? Menurutku, di dalam kata perduli mengandung makna saling. Ya saling mendengarkan. Saling menghormati. Saling memperhatikan. Saling berbuat baik. Dan saling-saling yang lainnya.
Yang namanya saling ya harus terbangun dari semua pihak. Tidak dari siswa saja tapi dari guru sebagai contoh utama. Pendidikan karakter sudah tidak asing sejak lama. Tapi apa yang aku hadapi hari itu tidak mencerminkan adanya karakter baik di mereka.
Ya Allah, Ya Robb….memang tidak mudah menata hati manusia. Membangun pembiasaan baik memang perlu waktu. Semoga saja suatu saat kelak terwujud karakter mulia yang diharapkan bersama. Aku yakin sepenuhnya. Tak ada usaha yang sia-sia.
Guru juga manusia. Punya hati dan rasa. Tak ada yang sempurna. Namun tetap harus berupaya menjadi panutan sempurna untuk masa depan siswa yang sempurna.
#Edisi aneh. Merenungi diri agar tidak menjadi aneh#
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
