Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Komitmen ( part 2 )

Komitmen ( part 2 )

Oleh Hermin Agusini

Tantangan hari ke – 26

#TantanganGurusiana

Selamat pagi pembaca.

Tetap dengan penuh syukur. Semoga kita semua selalu dalam limpahan kebarokahan ilmu yang bermanfaat. Amiin Ya Robbal alaamiin.

Masih tentang komitmen. Sebagai bahan evaluai untukku sendiri. Semoga bisa juga menginspirasi.

Komitmen atau kesepakan – kesepakan bersama siswa masih tetap terpampang di madding kelas. Terkadang ada yang rontok diterpa angin. Bahkan pernah jatuh semuanya berserakan. Karena mading yang terbuat dari bahan steroform itu tak cukup kuat menempel di dinding.

“Mana madding kita?” Aku bertanya pada kelas sembilan E ketika mendapati sudut mading kosong. “Ada di belakang Bu,” jawab beberapa siswa. Sedang siswa yang lainnya tetap dengan akitfitas ngobrol masing – masing. Mungkin mereka merasa hanya numpang di kelas itu. Tidak ada rasa memiliki.

Aku sedikit bergegas menuju meja di pojok belakang kelas, mendapati lembaran komitmen yang terkulai di atas Mading tak terawat. Aku hanya tertegun melihat itu. Aku bertanya dalam hati. Bukankah ini semua tulisan mereka? Janji indah untuk bersama menciptakan kenyamanan bersama di kelas? Tempat mereka menghabiskan lebih dari setengah hari selama enam hari?

“Masih mau dipasang lagi, Bu.” Salah seorang siswaku mengucapkan kalimat yang sedikit melegakan aku.

“Okelah, segera di pasang ya! Eman – eman. Itu penting. Itu adalah tulisan janji diantara kita anak – anak. Bagi saya itu sangat bermakna.” Kalimatku mulai panjang. Aku kembali ke tempat dudukku. Menghela nafas panjang. Ingin membahas kejadian itu. Namun aku tahan. Aku harus menyelasaikan materi bahasa Inggris dulu.

Kegiatan belajar mengajar bahasa Inggris hari itu berlangsung nyaris tanpa canda. Kelasku pasti sangat menjemukan. Aku sadar sepenuhnya untuk memperbaiki suasana dengan mereka. Namun tak terlaksana.

Pikiranku tak lepas dari pertanyaan seputar komitmen bersama siswa. Langkah awal agar mereka merasa terlibat dan merasa menjadi bagian di kelas mereka. Enam bulan berjalan dengan banyak contoh. Namun mengapa sampai detik ini mereka masih cuek – cuek saja alias tidak perduli?

Urusan kelas tak pernah ada di pikiran mereka. Grup kelas untuk berdiskusi selalu sepi. Postingan dariku hanya seperti iklan lewat. Hanya anak itu itu saja yang berkomentar. Aku merasa hanya aku yang bersemangat. Mengapa komitmen itu hanya menjadi catatan tanpa arti ? Apa yang salah ya?

Setiap kali ada kegiatan. Aku selalu menyusun rencana. Aku juga beri mereka kebebasan untuk berencana. Tapi tak pernah muncul. Jangankan sebuah rencana dari mereka. Segala sesuatu yang sudah direncanakan bersamapun tak terlaksana.

Alat maupun bahan yang diperlukan sudah aku sampaikan setiap ada kegiatan. Membangkitkan rasa perduli pada sesama teman dan lingkungan selalau aku lakukan. Melalui contoh. Melalui nasihat. Melalui cerita pengalaman. Tapi seoalah tak tembus ke hati mereka.

Upayaku bersikap ramah kandas diujung tatapan tanpa makna. Aku seperti tak ada. “Mana catnya?” tak seorangpun menjawab. Aku sudah paham. Berarti mereka lupa gak beli. Tapi tetap aku tanya sekali lagi pada mereka yang asyik mencabut rumput dengan tangan kosong. Kapan bersihnya? Sekali lagi aku paham. Mereka tidak membawa alat yang sudah ditentukan.

“Anak – anak ! berhenti beraktifitas pura - pura kalian ! Cuci tangan saja !. sudah -sudah berhenti jika kalian tanpa hati !” Aku mengucapkan itu hampir berteriak. Tentu saja mereka berhenti. Aku minta mereka untuk mendekat. Entah keberapa kalinya aku menasehati. Jika sudah seperti ini. Nada bicaraku tinggi. Bahkan pernah sampai menagis.

“Ya Allah, Naaakkk…kenapa selalu seperti ini? Apa gunanya piala juara satu kita? Apa gunanya tulisan perjanjian kalian di Mading itu? Apagunanya kalian meminta maaf dan mengaku salah ? Bagi saya, gak penting lagi kata maaf. Saya hanya ingin kalian punya hati !....

“Saya sudah memulai semuanya anak – anak. Agar kalian bisa melihat dan meniru. Saya ingin diantara kita ada rasa saling. Saya sangat berharap kita merasa saling memiliki. Saya berharap kelas kita nyaman untuk kita semua. Taman indah untuk kita semua. Kita rawat bersama – sama. Namun apa yang terjadi?

Selalu seperti ini. Kalian hanya berpura – pura perduli. Sesaat dikala saya berdiri seperti ini. Berbicara dengan cara seperti ini. Kapan kalian akan perduli?

( Bersambung… )

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post