MAAF YAH, BUNDA BELUM BISA MOVE ON DARI RASA ITU… (part 1)
Oleh Hermin Agusini
Tantangan hari ke – 28
#TantanganGurusiana
Selamat pagi pembaca. Hari ini adalah hari ke duapuluh delapan di tantangan GuruSiana. Yah, begitualah waktu. Terus berlalu tak mau di gannggu. Taka da yang bisa menghalangi waktu. Tak ada alasan. Ia terus melaju.
Tanpa terasa, sudah lima tahun berlalu. Tepatnya pada tahun 2015. Ketika itu ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Beliau koma. Sudah tiga hari berlalu, namun ibu masih dalam keadaan koma.
Aku dan kakak perempuanku menjaga ibu. Kebetuan waktu itu adalah ujian Nasional. Sehingga tugasku harus digantikan oleh guru lain. Aku berupaya untuk selalu berada di dekat ibuku. Kakakku masih bisa pulang jika pagi sampai siang hari.
Terkadang aku heran. Kenapa yang seperti PNS malah kakak ya? Padahala yang dinas kan aku? Harusnya aku jaga ibu di sore hari dan kakak di siang hari. Tapi sudahlah, aku tidak terlalu berpikir tentang kadwal menjaga. Harus gantian atau tidak. Aku hanya fokus pada ibuku.
Sampai pada hari ke empat, ibuku belum juga sada. Setiap malam suami dan anak semata wayangku datang dengan membawa kasur dan bantal kesayangannya. Suami dan anakku ikut klesotan tidur di bawah menemaniku menjaga ibu. Sebelum subuh, mereka pulang.
Keadaan ini membuatku sangat iba. Sehingga menjelang hari ke lima aku sampaikan pada suamiku agar tidak usah menginap di rumah sakit.
“Ayah tidak usah menginap di sini malam ini,” kataku pada suamiku.
“Dinas bunda bagaimana besok pagi?” tanyanya padaku.
“Gampang Yah, besok aku minta antar Mas Rahmad saja.” Jawabanku meyakinkan suamiku. Mas Rahmad adalah kakak kandungku yang rumahnya kebetulam mengontrak tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Raut wajah suamiku nampak ragu. Karena ia tahu, Mas rahmad tidak bisa selalu ada. Dia terlau sibuk dengan pekerjaannya sebagai supir. Nampak suamiku mengambil handphonnya. Dia langsung menelpon Mas Rahmad.
“Ma’af Mas, besok apa Mas repot?” tanya suamiku.
“ndak dek, kebetulan saya di rumah. Ada apa ya?” pertanyaan yang mmebuat hatiku agak marah. Namun aku hanya terdiam. Ibuku yang lebih penting.
“Besok pagi setelah subuh saya minta tolong njenengan mengantar istri saya pulang. Malamini saya tidak menginap. Kasihan si kecil.” Begitu suamiku menjelaskan pada mas Rahmad.
“InsyaAllah Dik, saya sudah aka nada di rumah sakit setelah subuh”.
‘Oh, Iya Mas terimkasih banyak. Maaf merepotkan,” kalimat basa – basi suamiku menutup percakapan mereka.
“Bunda jangan pulang sendiri loh ya,” kata suamiku ketika menuju mobil sambil menggendong putriku yang sudah lelap. Mereke hendak pulang malam itu. Nampak suamiku masih ragu – ragu. Dia tahu persis. Dikondisi seperti ini, aku mudah emosi.
“Iya Yah, Bunda besok minta antar Mas Rahmad,” kataku meyakinkannya.
Seperti biasa, di malam hari aku dan kakak perempuanku bergantian memegang tangan ibu yang memang tak pernah bergerak. Namun kami tetap berupaya memberi sentuhan kepada ibu agar beliau tahu jika belaiu tidak sendiri. Menjelang subuh, aku dan kakak memilih memegang kedua tangan ibu bersama. Sambil membacakan ayat suci alqur’an.
Akupun berinisiatif untuk menelpon Mas Rahmad supaya segera bangun dan tidak terlambat menjemputku. Namun beberapa kali panggilan belum dijawab. AKu pikir Masku masih terlelap. Selepas adzan, sebelum solat subuh. Aku kembali menelponnya. Namun sama. Akupun mulai galau.
Ku selesaikan solatku. Setelah itu aku segera bergegas bersiap pulang.
“Mbak, aku pinjem sepedanya ya?, aku tak pulang sendiri saja. Aku tidak bisa nunggu Mas Rahmad. Kwatir terlambat.” Kataku kepada mbakku.
“Loh, Dek? Ndak apa-apa Ta? Kan kamu sudah lama tidak naik sepeda motor?”. Tanya mbbakku khawtir.
“Tenang saja mbak, InshaAllah bisa,” jawabku.
“Iya, hati – hati ya tidak usah ngebut,” kalimatnya juga khawatir.
“Ndak apa – apa mbak, aku bisa,” jawabku meyakinkan.
“Nanti segera kabari ya kalau sudah sampai rumah,” kalimat mbakku terdengar sangat kwatir.
“Iya mbak,” jawabku sambil berlalu.
Jalanan masih lengang. Udara pagi terasa menusuk tulang. Kuambil pasminaku. Kujadikan penutup wajahku. Akupun melaju dengan tenang. Namun tanpa terasa aku mulai melamun. Jika hari ini aku bisa pulang naik motor ini, berarti selanjutnya aku tidak perlu bergantung ke suamiku untuk mengantar atau menjemput. Aku bisa berangkat sendiri. ( bersambung ...)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
