MAAF YAH, BUNDA BELUM BISA MOVE ON DARI RASA ITU… (part 2)
Oleh Hermin Agusini
Tantangan hari ke – 32
#TantanganGurusiana
Selamat sore pembaca. Di hari ke 32 ini aku ingin melanjutkan ceritaku yang sempat terjeda tiga cerita lain yang lebih mendesak untuk aku sampaikan kepada pembaca. Mungkin di antara para pembaca ada yang lupa dengan kisah itu. Berikut aku beri sedikit ulasan untuk masuk ke kisah berikutnya.
Pagi itu jalanan masih lengang. Udara pagi terasa menusuk tulang. Kuambil pasminaku. Kujadikan penutup wajahku. Akupun melaju dengan tenang. Namun tanpa terasa aku mulai melamun. Jika hari ini aku bisa pulang naik motor ini, berarti selanjutnya aku tidak perlu bergantung ke suamiku untuk mengantar atau menjemput. Aku bisa berangkat dan pulang sendiri.
Menjaga ibuku tak perlu mengandalkan siapapun. Biar aku jaga sendiri. Aku tak ingin menggantungkan diri ke siapapun. Kepada saudara kandung sekalipun. Ini saat – saat pentingku bersama ibu. Ibu yang melahirkan ku. Aku akan menjaga semampuku.
Tak terasa aku ada pada kecepatan yang tidak bisa aku kendalikan. Aku berupaya mengerem. Namun, rem belakang rupanya hampir aus. Aku belum terbiasa dengan motor mbakku. Di depan tikungan panjang. Aku tak bisa mengendalikan sepedaku. Tak ada pilihan lain bagiku.
Harus aku tekan rem depan belakan bersamaan. Bismillah, kupenjamkan mata. Dan, prak..!..aku tersungkur tertelungkup dibawah sepeda. Untungnya ada beberapa orang yang langsung menolongku. Mungkin mereka mengira aku pingsan karena aku memang tak bergerak.
Namun aku sampaikan kepada para penolong,”Pak, saya tidak apa – apa.” Aku berbicara sambil menahan gigi depan agar tak bergerak. Ku merasa gigi depanku akan tanggal. “Tolong ambilkan hape saya Pak,” kataku sambil menunjuk tas punggung yang masih lekat dengan badanku.
“Ke puskesmas dulu, ya Mabak,”kata salah seorang penolong. Akupun mengangguk sambil melongok ke motor mbakku. “Motornya kami pinggirkan mbak.” Kata salah seorag bapak-bapak. Aku bersyukur semua orang baik dan menolongku dengan tulus.
Aku segera dinaikkan ke becak. Aku di antar ke puskesmas yang hanya berjarak sekitar tigaratus meter dari tempatku jatuh. Aku tak berani membuka mulutku. Aku takut gigiku tanggal. Aku juga tak berani membuka pashmina yang melilit wajahku. Sepertinya berdarah.
Aku segera mengambil hapeku untuk mengabari suamiku. “walaikum salam,” suamiku menjawab salamku. “Maaf Yah, bunda telah sukses jatuh pagi ini. Jemput bunda di puskesmas ya!” Ucapku masih bercanda pada suamiku untuk menenangkannya. “Hmmmm…apa ku bilang. Ya seperti ini kalo gak nurut suami !” Jawab suamiku.
Seperti biasa, suamiku tidak terlalu banyak bicara. Hapenya langsung off. Pasti dia akan segera datang. Sementara aku mulai dirawat di puskesmas. “Celananya digunting ya, Mbak?” tanya seorang perawat. “Oke, gunting saja ! biar saya pulang seperti roker,” candaku disambut tawa bersama oleh para perawat yang sedang mebersihkan lukaku.
“Tahan ya, Mbak. Ini akan terasa perih.” Salah satu perawat menjelaskan sebelum mengusap lukaku dengan betadine. “aaauuuuuuuuuhhhh…!” teriakku ketika lukaku dibersihkan. “Kipas-kipas..! tolong kipas!” seruku memohon ada yang mengipas lukaku.
Bebrapa saat kemudian, suami dan anakku datang. “Ndak apa- apa, Bun?” tanyanya dengan raut wajah berkerut. Pasti suamiku sedang khawatir dan ingin marah. Sementara putriku mau menangis melihatku dengan beberapa luka
“Bunda ndak apa-apa kok dek!” kataku menenangkan putriku yang mulai mewek. Suamiku segera menggendongnya sambil mengurus administrasiku. Aku boleh langsung pulang. Tak ada luka serius. Hanya beberapa luka di wajah, tangan dan kaki. Untungnya, gigiku tidak tanggal. Meskipun bibirku bengkak karena benturan.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Kulirik suamiku. Wajah datarnya mulai nampak normal. Aku tak berani mengeluh meski lukaku mulai tersa perih. Aku teringat pada ibuku. Aku segera menelpon mbakku. “Mbak, aku sudah sampai rumah. Dan sudah terjatuh,” kalimatku selalu menenangkan. Tapi mbakku makin galau. Dia tahu persis aku selalu berpura – pura tidak apa- apa meski sebenarnya sedang apa-apa…hehe…
Aku yakinkan mbakku bahwa aku baik- saja. Aku khawatir berita ini disampaikan ke ibu. Dan benar saja. Mbakku menyampaikan perihal aku terjatuh dari motor. Sore itu tekanan darah ibu naik. Maka, meski aku disarankan untuk tidak ke rumah sakit dan istirahat dulu. Aku tidak mau. Aku merengek pada suami untuk menjenguk ibu.
“Bu….ini aku,” kataku pada ibuku. Ku raih kedua tangan ibu. Kuletakkan pada kedua pipiku. Ku usapkan pada kepalaku. “Aku tidak apa- apa, Bu!” ucapku pada ibuku yang membri respon dengan meneteskan air mata.
Kupeluk tubuhnya yang mulai kurus. Kucium pipinya. Kuusap airmatanya. Sambil terus kubisikkan, “ Ibu, aku baik-baik saja. Aku akan jaga ibu malam ini.” Tak kulepas tangan ibu. Aku menangis disampingnya. Aku menyesal telah membuat ibu khawatir.
Ya Allah…dalam keadaan koma saja ibu masih mengkhawtirkan anaknya. Airmataku makin tak bisa kubendung. Aku benar-benar menyesal tidak mendengar kata-kata suami. Dalam kondisi seperti ini. Pasti aku tidak akan diijinkan untuk menginap menunggui ibu. Akankah aku diinjinkan untuk menunggui ibuku? Nantikan kisahnya besok.
( Bersambung….)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
