MAAF YAH, BUNDA BELUM BISA MOVE ON DARI RASA ITU… (part 3)
Oleh Hermin Agusini
Tantangan hari ke – 33
#TantanganGurusiana
Selamat malam pembaca.
Malam itu serasa tak ingin lepas dari ibu. Aku sangat takut kehilangan. Aku takut sewaktu-waktu ibuku dipanggil Allah. Aku tak ingin melepas genggaman tanganku. Aku ingin tetap bersama ibuku.
Namun kondisiku tidak memungkinkan. Aku tak berani menawar pada suamiku. Jadi aku mengiyakan saja ketika aku diajak pulang. Aku sengaja tak berpamitan pada ibu. Aku khawatir ibu sedih. Kulihat nafas ibu tenang. Berarti ibu sedang lelap. Kulepas tangannya berlahan.
Kupandangi wajah ibuku. Tak tega melihat banyak alat di badan lemah itu. Ingin ku minta untuk melepasnya. Tapi tak mungkin. Dokter mengatakan bahwa tugasnya adalah berusaha semaksimal mungkin. Apapun hasilnya adalah ketentuan Allah.
Aku paham dengan kata-kata itu. Ini bukan yang pertama. Aku sudah pernah mendengarnya. Masih terus ada dalam ingatanku menjelang kepergian ayahku. Aku terus berdoa semoga yang terbaik untuk ibuku.
Hari berlalu, ibuku tak menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Kondisi kesehatannya semakin tidak stabil. Aku semakin pasrah. Tak kulepaskan genggaman tanganku. Aku ingin menemani ibuku sampai di penghujung. Sementara yang lain mengaji.
Saat magrib tiba. Kami bergantian berwudhu untuk solat. Aku sengaja menunggu giliran terakhir untuk solat di mushollah rumahsakit. Baru saja aku selesai dan beranjak kembali ke kamar ibu,tiba-tiba handphoneku berbunyi.
“Dek…ibu dek….,” suara mbakku menangis. Aku paham apa yang terjadi. Aku berlari. Dadaku penuh sesak. “Ya Allah, Ibu…,”bisikku gemetar. Setiba di kamar, aku melihat dokter sedang memeriksa ibu. Sementara para perawat mulai melepas semua peralatan medis yang menempel di badan ibu.
“innalillahi wa inna ilaihiroji’uuun,” tangisku pecah. Kupeluk ibuku yang masih hangat. Kucium wajahnya. Kusentuh perutnya. Perut yang mengandungku selama sembilan bulan. Aku masih tak percaya aku kehilangan kesempatan bersama ibu sampai detik terakhir. Sewaspada apapun aku menjaga Ibu. Namun ajal tetap menjadi rahasia Allah. Tak seorangpun bisa menebaknya apalagi tahu itu akan tiba.
“Yang sabar Dek,” kata sahabatku yang kebetulan saat itu menjenguk ibu. Aku tak mampu berkata. Aku hanya bisa berdo’a semoga pintu ampunan yang seluas luasnya tercurah kepada ibu.
“Selamat jalan,Bu. Ibu sudah berjuang selama sebelas hari di rumah sakit. Akhirnya Allah memberi keputusan terbaik untuk ibu. Aku ikhlas, Bu.” Bisikku di telinga ibuku.
Malam itu juga kami membawa pulang ibu menggunakan ambulance. Sama persisi ketika membawa ayah pulang dulu. Di jam yang hampir sama pula. Di bulan yang sama. Namun berbeda tahun.
Hari berganti, demikian pula beberapa tahun sudah aku lalui. Namun ingatan tentang ayah dan ibu masih lekat di hati. Jika ada ambulance dengan sirine berbunyi. Aku seakan kembali ke rasa yang pernah aku alami. Rasa kehilangan yang menyayat hati.
Sampai kini. Suara sirine ambulance masih selalu menyayat hati. Memutar ulang kenangan kepergian ayah dan ibu. Kepergian abadi yang tak akan pernah kembali. Hanya menyisakan peristiwa yang seakan tak pernah mati. Semua terekam dalam hati.
Masih ada satu trauma lagi. Apakah itu? Sampai jumpa di kisah besok pagi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
