Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MAAF YAH, BUNDA BELUM BISA MOVE ON DARI RASA ITU… ( the end )

MAAF YAH, BUNDA BELUM BISA MOVE ON DARI RASA ITU… ( the end )

Oleh Hermin Agusini

Tantangan hari ke – 34

#TantanganGurusiana

Selamat malam pembaca. Masih tentang rasa yang tak mau pergi dari hatiku. Tak ingin ku mengenangnya. Namun salalu saja seperti diputar ulang dalam ingatanku.

Sejak kejadian itu. Naik motor menjadi hal yang tidak menyenangkan. Terlalu banyak kenanagan sedih. Kemana – mana aku mintga antar suami. Pernah kucoba sekali naik motor hanya beberapa ratus meter dari rumah. Ternyata tekanan darahku langsung tinggi.

Entahlah…suara ambulance masih menyisakan kesedihan. Sedangkan Naik motor, apalagi melewati jalan berpasir. Semua membuatku merinding. Aku tak berani lagi. Aku tetap berusaha melupakan semuanya agar bisa naik motor lagi.

Mungkin dengan menggati merk motor akan mengurangi ingatan kenangan pahit itu. Suamiku mengabulkan permintaanku. Aku dibelikan motor baru dengan merk berbeda. Hari pertama, kedua aku masih diantar suami ke sekolah.

Hari berikutnya aku memberanikan diri. Aku sengaja berangkat sangat pagi untuk menghidari keramaian kendaraan. Kaos tangan. Masker pelindung wajah. Dan helm. Semua lengkap. Akupun berangkat.

Hari berikutya sama. Aku tetap harus berangkat lebih pagi. Namun di hari ketiga. Aku mulai dilanda rasa itu. Apalagi jika sudah jam 6.30 pagi. Itu adalah jam-jam kendaraan penuh. Aku kembali pada kebiasaan lama. Bonceng.

Tahun berganti. aku tetap tak mau naik motor. Akhirnya motor itu dijual. Uangnya digunakan untuk membeli motor besar yang hanya bisa dikendarai bapak-bapak. Menurut hemat suamiku, toh aku kemana-mana minta antar. Akupun tak banyak protes.

Motor besar itu membuatku khawatir akan suamiku yang hobby ngebut. Aku kembali mengajukan permohonan. Aku ingin naik motor lagi. Aku ingin berlatih lagi. Tujuanku agar aku tak terlalu bergantung pada suami jika butuh wira – wiri. Selama ini, jika suamiku sedang sibuk maka bentor menjadi andalanku kemana – mana.

“Yah, motor besarnya jual saja. Sepertinya bunda sudah berani naik motor lagi.” Aku mulai merayu suamiku di suatu pagi. “Yakin mau naik motor sendiri?” tanya suamiku. “inshaAllah, Yah. Bunda ingin lebih mandiri apalagi untuk mengantar les anak kita. Supaya gak banyak mengganggu kesibukan ayah.” Kataku meyakinkan.

Hanya selang beberapa hari saja. Motor itu sudah tidak terlihat dari hadapanku. Hehe…samiku bergerak cepat. Mungkin sebelum aku berubah pikiran. Dan di hari berikutnya, sumaiku mengirim foto-foto motor yang boleh aku pilih.

Alhamdulillah…motor pengganti sudah tiba. Akupun sudah mulai berlatih menaikinya. Setiap pagi. Setiap aku mau berangkat ke sekolah. Suamiku selalu bertanya,” Bawa motor sendiri, Bun?”.

“Ini sudah jam sibuk Yah, besok saja.” Aku menjawab dengan banyak alasan. Begitu seterusnya. Sudah hampir satu bulan motor itu ada di rumah. Namun aku masih belum mau menaikinya ke sekolah.

Kini suamiku sudah tak pernah menanyakannya lagi. Dia pasti sudah mengerti. Bahwa aku tak akan menepati janji. He..he..maafkan bunda ya Ayah…yang sampai saat ini belum bisa move on dari rasa itu…

Bukan bunda tak mau menepati janji. Bukan bunda tak mau mandiri. Bunda masih berusaha noto ati.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post