Puink Rindu
Kau hidup di hatiku. Meski terpisah oleh ruang dan waktu. Aku titipkan rindu melalui do’a dan airmataku.
Oleh Hermin Agusini
Tantangan hari ke – 36
#TantanganGurusiana
Di halaman yang luas itu. Berjejer beberapa pohon buah dan bunga. Dilengkapi dengan kolam ikan emas. Disebelahnya ada sangkar burung dara yang beranak pinak. Adalah pemandangan yang menentramkan.
Kursi kayu bercat merah. Di teras rumah. Menghadap ke jalan di ujung halaman luas. Ada meja kecil tempat kopi dan cemilan ringan. Entah pagi maupun siang bahkan malam. Dengan atau tanpa kopi maupun cemilan. Ayah akan selalu duduk di kursi itu. Dengan tasbih di tangan. Menghadap ke jalan. Menunggu anak-anaknya pulang.
Di saat pulang. Aku terbiasa mencari ibuku. Di dapur berasap itu. Ibu sering telihat sibuk. Ada saja yang dikerjakan. Bersama dua kompor dan satu tungku besar. Adalah teman ibu menyiapkan hidangan penuh kasih sayang.
Balai-balai bambu di teras dapur. Tempat kami biasa duduk bersantai. Bercanda atau sekedar menunggui ibu memasak. Apalagi di bulan Ramadhan. Balai-balai bambu itu adalah tempat ternyaman untuk merebah sembari menunggu sore. Terkadang aku berebut tempat dengan adikku. Dengan bantal masing-masing untuk berbaring.
Pemandangan ke arah gunung raung selalu sejuk menentramkan. Udara terasa sepoi di siang hari. Semilir angin meliuk manja membelai daun pisang melambai-lambai. Sementara jika malam tiba. Dapur menjadi tempat nyaman untuk menikmati bintang atau rembulan.
Sore itu, aku berdiri di tengah bangunan. Memutar kembali semua kenangan. Menghirup kembali bau masakan yang ibu hidangkan. Mendengarkan gesekan angin diantara rimbun dedaunan. Tak terasa buliran bening membasahi pipiku.
“Bunda menangis?” suara bocah kecil mengagetkanku. Ia segera kugendong. Tangannya yang kecil itu mengusap air mataku. “Bunda kenapa menangis?” tanyanya lagi. “Bunda kangen Akung dan Uti sayang,” jawabku sambil mengusap air mata.
Ku ajak putri kecilku menyusur halaman. Kuceritakan apa saja yang pernah ada di sana. Ku ajak pula dia menyusuri bangunan. Kuceritakan pula apa yang pernah terjadi di sana.
“Bunda lahir di rumah ini sayang. Bunda dibesarkan disini. Bunda juga menikah di sini. Sewaktu kamu masih ada di perut, kita sering menginap di sini. Biasanya akung menangkap ikan. Lalu uti yang menggorengnya.” Begitulah aku bercerita pada putriku.
Seandainya akung masih ada. Kamu pasti diajak menangkap ikan. Atau disuruh menyiram bunga-bunga di halaman. Namun Akung sudah berpulang. Akung sudah meninggal ketika kamu masih baru lahir. Usiamu masih tiga bulan.
“Apa akung pernah menggendongku?” tanyanya penasaran. “Tentu sayang. Ketika itu akung menginap di rumah kita. Sewaktu selamatan aqiqoh untukmu. Akung menimangmu sambil mendoakanmu supaya menjadi putri yang sholihah.” Ceritaku sedikit berbohong untuk tidak mengecewakan putriku. Sekaligus memberinya semangat. Meski sebenarnya ayahku tak pernah sempat menggendongnya. Beliau sudah sakit-sakitan sejak bulan pertama aku mengandung.
“Yah, ayo kita segera ke makam sebelum kesorean,” ajakku pada suamiku yang sedari tadi asyik mengambil buah-buahan yang tersisa di halaman. Ditangannya ada seikat rambutan. “Aku mau, aku mau!” seru putriku kegirangan. “Iya sayang, tapi kita ke makan dulu ya. Kita akan mendo’akan akung dulu.” Seperti itu ajakku pada putriku.
“Apa akung bisa melihatku, Bun?” keingintahuannya yang polos membuatku sejenak berpikir. “Iya, akung bisa melihat kita. Makanya kita do’akan ya. Kamu berdo’a yang nyaring ya, Nak. Biar akung tahu kalo kamu sudah hafal do’a-do’a. Supaya akung senang dan bahagia dengan do’a kita.” Aku mencoba menjelaskan.
Meski dihatiku ragu-ragu. Aku hanya ingin putriku terbiasa mendo’akan yang telah meninggal. Semoga saja ia menjadi putri sholehah yang bisa mendo’akan ku pada saat aku dan suamiku tak bersamanya selamanya. Entah kapan. Waktu itu pasti tiba.
Semoga kami memperoleh kesempatan bersama sebaik-baiknya di dunia dan bisa berkumpul di akhirat kelak dengan segala ampunan dan pertolongan Allah SWT. Kupanjatkan seluruh do’a terbaikku.
Sore itu kami menabur bunga mawar segar dan mengaji di pusara ayah. Sumaiku menutupnya dengan do’a. airmataku selalu membasahi pipiku. Entah sudah berapa kali aku ke pusara ayahku. Sudah tiga tahun berlalu. Tetap saja seperti itu. Dibangunan tua itu. Masih tersimpan puink rindu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
