Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cerita dalam Cerita
hermin.gurusiana.id

Cerita dalam Cerita

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 76

#TantanganGurusiana

Apa kabar pembaca. Kali ini saya merasa agak jenuh dengan semua aktifitas rutin yang harus dikerjakan di rumah. Hanya berkisar dari kasur, dapur, kembali ke laptop, atau membaca pesan whatsapp dengan berpuluh-puluh grup entah sudah berapa puluh.

Beberapa grup bersama siswa untuk pelaksanaan pembelajaran secara Daring, beberapa grup program kerja di sekolah. Beberapa grup pelatihan dengan percakapan yang semakin membuat saya pusing dengan bertambahnya tugas dan tantangan. Ampun! semuanya membuat saya jenuh.

Belum lagi beberapa target yang hanya menjadi catatan panjang tak terlaksana. Tertulis beberapa hal yang harus saya kerjakan diantaranya yaitu swasunting buku kedua, ingin menulis buku ke tiga, ingin mengikuti tugas di kelas editor, ingin menuntaskan koreksian yang mulai memadati media di tab saya. Belum lagi keinginan menaklukkan tantangan menulis sembilan puluh hari GuruSiana.

Kejenuhan itu membuat saya malah tidak ingin melakukan apa-apa. Dua hari ini, setelah memasak, saya memutuskan untuk membaca tumpukan buku-buku terbitan mediaGuru karya teman-teman penulis.

Salah satu yang sangat ingin saya tuntaskan untuk saya baca saat ini adalah buku berjudul “Seribu Musim Merindumu” karya ibu Istiqomah. Saya merasa ingin membacanya sebagai media untuk belajar bagaimana menulis buku cerita karena saya lebih suka menuliskan cerita daripada buku-buku ilmiah. Sekali lagi, belajar dari grup whatsapp sedang membuat saya jenuh.

Rasa penasaran membacanya diawali pada beberapa waktu sepulang dari pelatihan editor. Memperoleh buku dan mendapatkan tanda tangan penulisnya adlah sesuatu banget.

“Membaca judulnya saja, saya sudah merinding, Bu,” saya mencoba akarab dengan Bu Isti pada saat meminta beliau membubuhkan tandatangan di buku itu. “Jangan lupa sedia tissue yang banyak ya kalau mau membacanya,”

Tentu saja saya ingin segera tahu apa isi buku itu. Apa iya memang menguras air mata. Kata-kata bu Isti terlanjur merasuk ke hati saya bahwa buku itu akan memanjakan pembacanya dengan airmata.

“Bu, saya mulai membaca “Seribu Musim Merindumu,” saya menulis pesan whatsapp ke bu Isti. “Tapi saya belum bisa menemukan sesuatu yang bisa membuat saya menangis, Bu, malah saya merasa emosi pada tokohnya utamanya. Pingin tak lempar sandal jepit!” lanjut saya masih melalui pesan whatsapp.

“Iyaaa,gak apa-apa. Tapi kok pingin melempar tokoh utama dengan sandal ki pie?”(bagaimana?)

“Saya pweggel, Bu,” jawab saya menyampaikan rasa emosi pada tokoh utamanya.

“Aaaahh …, baca dulu,” balas bu Isti. Tapi beberapa hari setelah itu saya tak lagi sempat untuk menuntaskan membacanya. Bagi saya, tidak asyik jika membaca sepotong-sepotong. Saya menunggu saat yang paling tepat dan nyaman untuk menelusuri kalimat demi kalimatnya. Bahkan saya menggaris bawahi beberapa kata yang membuat saya kurang paham dengan alur ceritanya.

Yang saya lakukan itu bukan dalam rangka mengkritisi buku karya bu Isti seperti layaknya seorang editor. Hehehe …, apalah salah. Menulis buku sendiri saja ndak karuan kok mau berani-beraninya mengedit karya yang jelas-jelas sudah oke.

Saya hanya merasa perlu membaca ulang dengan seksama dari kalimat yang di maksud. Hal ini terjadi sudah pasti bukan karena kalimat buku itu yang tidak jelas, tapi tentu saja karena kemampuan saya menyerap bahasa buku yang sudah bagus itu yang mungkin kurang.

“Mana bab yang akan membuat saya menangis? Sudah beberapa bab saya lewati bawaannya hanya ingin marah dan kecewa dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh utamanya.”

Saya jadi teringat pada kata kata sahabat saya, bu Mimin, “Yu itu terlalu gampang jatuh hati, mak,” katanya menilai saya. Itu penilaian jujur yang memang saya rasakan benar. Saya orangnya memang gampang ‘ho oh’.

Saya terus menelusuri kalimat demi kalimat. Beberapa bab mulai saya tuntaskan. Perlahan tapi pasti perasaan saya mulai bercampur antara marah dan sendu. Ternyata penulisnya benar jika saya harus menyediakan tissue.

Siang tadi saya relakan setengah hari untuk menuntaskan membaca setengah bagian berikutnya setelah kemarin saya hanya sempat menuntaskan beberapa babnya. Saya semakin sering membuka kacamata plus seratus limapuluh saya, untuk mengusap airmata yang menghalangi pandangan membaca.

Saya tak lagi bisa fokus pada belajar menulis cerita yang baik, saya malah hanya fokus pada alur ceritanya yang mengaduk-aduk perasaan. Saya tenggelam dalam rasa yang dialami tokoh utama.

Kalau saya pikir-pikir, ternyata tanpa saya sadari saya telah terpengaruh oleh perasaan rindu yang tertuang dalam cerita yang saya tuils untuk memenuhi tantangan menulis gurusiana. Sudah sembilan episode tentang rindu yang saya tulis dalam judul “Kulipat Rinduku” di gurusiana.

Sama-sama tetang rindu tapi tentu saja banyak perbedaan, tepatnya beda jauh, yang saya tulis masih acak-acakan sementara tulisan Bu Isti sudah tidak perlu diragukan. Hehehe ….

Jika saat ini saya tidak menuliskan tentang “Kulipat Rinduku” karena mood saya masih ingin menceritakan cerita yang saya baca. Tidak ada maksud apa-apa dalam menuliskan pengalaman saya. Ini hanya soal pendapat tentang sebuah buku yang saya baca. ‘Anda boleh tidak setuju’ … hehehe, saya meminjam kalimat dari buku itu.

Akan tetapi jika ingin tahu mengapa saya sampai seperti ini? Ya …, silahkan anda baca sendiri kisahnya. Saya tidak sedang mempromosikan apapun, saya hanya berbagi rasa tentang cerita di balik cerita. Sekali lagi, ‘Anda boleh tidak setuju’ ….

Salam literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post