Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ingin Ku Lepaskan
www.google

Ingin Ku Lepaskan

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 64

#TantanganGurusiana

Apakabar pembaca. Hari ini telah sapai pada hari ke 64 aku menulis tantangan GuruSiana. Sudah banyak cerita aku kisahkan sampai hari ini. Diantara sekian banyak yang harus aku selesaikan, terkadang aku merasa ingin mengakhiri semua ini.

Aku sebagai ibu rumah tangga yang juga sebagai guru, tentulah harus bisa membagi duapuluh empat jam itu dengan sangat bijak.

Aku harus sudah berada di sekolah pada jam tujuh pagi. Di hari-hari tertentu aku juga harus hadir di sekolah pada jam enam pagi untuk menyambut siswa di pintu gerbang sekolah.

Begitu pula dengan putri sematawayangku. Setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at dia harus tiba di sekolahnya pada jam enam pagi untuk mengikuti pelajaran tambahan pada jam ke ‘nol’.

Pada saat-saat itu artiya aku harus bangun lebih pagi untuk memyiapkan semuanya. Aku harus masak lebih pagi sehingga pada jam lima pagi semua harusa sudah siap. Terutama bekal anakku.

Bangun di sepertiga malam memamng sudah rutinitasku sejak dulu sebelum menikah. Hingga kini tetap menjadi kebiasaan. Aku selalu terbangun di waktu-waktu itu meskipun tanpa alarm.

Pada jam sepertiga malam sebenarnya adalah waktu paling nyaman untukku untuk belajar atau melakukan aktifitas menulis karena pada jam tersebut, setelah kegiatan bersujud dan ber’doa, adalah saat di mana aku merasa benar-benar fresh dengan ide-ide.

Namun, terkadang bahkan sering, aku harus mengalah. Aku harus merelakan saat freshku untuk tidak membuka laptopku. Aku harus tinggalkan keinginanku menulis, mengerjakan tugas kantor atau belajarku untuk memasak mempersiapakan keperluan keluargaku terutama putriku.

Memulai pagi lebih pagi. Beraktifitas di sekolah sampai pada jam tiga sore bahkan terkadang sampai jam setengah empat sore adalah aktifitas pilihanku sebagai guru. Aku melaksankan semuanya dengan penuh kerelaan dan tanggungjawab.

Bahkan, akupun harus rela meninggalkan rumah bila ada hal yang harus dikerjakan di sekolah di luar jam kerja bahkan di saat hari libur.

Apalagi saat ini, Sekolahku sedang berupaya meningkatkan kualitas pelayanan pembelajaran dengan mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak dan sedang menggeliatkan proram Adiwiyata.

Semua hal itu tentu saja sangat menguras tenaga dan pikiran seluruh guru di sekolahku. Tuagas kami tidak hanya mengajar di kelas, tapi banyak hal yang harus kami kerjakan. Termasuk menata taman, menata kebun, membina pembiasaan-pembiasaan baik kepada siswa, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan padat merayap lainnya.

Masuk kelas adalah ‘harga mati’ di sekolahku. Sesibuk apapun gurunya, adalah ‘haram’ jika sampai meninggalkan kelas. Kalaupun terpaksa, kami harus tetap memberikan materi atau tugas kepada siswa yang akan ditunggui oleh para guru piket.

Di sela kegiatan padat itu, aku harus bisa memberi ruang dan waktu untuk kegiatan menulisku. Apalagi dalam dua bulan terkahir ini, aku mebgikuti tantangan menulis Gurusiana selama tigapuluh hari berlanjut ke enam[u;uh hari sampai pada ke sembilan puluh hari tanpa putus.

Kegiatan itu sebenarnya adalah untuk melatih kebiasaan menulis para gurusianers termasuk diriku. Terkadang timbul pikiranku untuk melepaskannnya saja. AKu ingin berhenti mengikuti tantangan ini. Toh meskipun tanpa latihan ini aku akan tetapa melakukan kegiatan menulisku karena menjadi penulis memang keinginanku.

Aku pernah berpikir hanya akan menulis sampai pada hari ke enampuluh saja. Aku ingin selesaikan swasunting buku keduaku. Aku ingin fokus menyelesaikan tugas sekolahku berkaitan dengan Sekolah Ramah Anak. Sebagai koordinator tentu saja akan banyak yang menjadi tanggungjawabku bersama team dan seluruh guru.

Sepeti ada rasa bersalah, kegiatanku yak bisa seperti biasanya. Berada di depan laptoku menjadi pemandangan biasa baik di sekolah maupun di rumah. Ada kegiatan-kegiatan yang harus aku pangkas.

Kelas yoga entah sudah berapa minggu aku tinggalkan. Kegiatan ke pasar atau sekedar jalan-jalan ke Dira untuk makan atau jalan-jalan sore bersama anakku sudah agak lama aku tinggalkan sebelum adanya larangan keluar rumah akibat wabah corona.

Terkadang aku merasa duapuluh empat jam sehari semalam itu tidak cukup. Di saat-saat tertentu aku merasa sangat lelah.

Ingin kulepaskan tantangan GuruSiana. Namun, semakin aku ingin berhenti, semakin aku merasa sayang. Hari ini, telah enampuluh empat hari aku lalui. Hanya tersisa duapuluh enam hari ke depan. Masak harus menyerah? Entahlah …

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post