Kulipat Rinduku (1)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 65
#TantanganGurusiana
“Bulan Juli kapalku akan bersandar di pelabuhan Perak. Kemungkinan aku akan berpindah tugas di Surabaya.” Sebuah cuplikan isi surat yang hampir aku hafal setiap kalimatnya. Itu adalah surat terakhir yang aku terima sebelum kudengar bahwa di Indonesia Bagian Timur sedang bergejolak. Engkau bertugas di wilayah perbatasan.
Dengan sepenuh keyakinan aku masih terus berharap bahwa pada bulan Juli yang akan datang kau akan hadir di Tanjung Perak. Kau memintaku menjemputmu di sana. Tentu saja aku tak sabar menunggu hari itu tiba. Ingin ku kabarkan bahwa aku sudah lulus menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Aku sudah mengajar sebagai guru di sekolah yang baru.
Kemana berita ini hendak kulayangkan? Entah telah berapa Juli telah aku lewati. Tak pernah ada kapal tentara Republik Indonesia yang membawa tentaranya pulang dari perbatasan itu. Tak ada kabar, akupun tak bisa mengirim kabar.
Dua tahun telah berlalu sejak ketiadaan kabar tentangmu. Usiaku telah menginjak duapuluh delapan tahun. Desakan orang tua dan teman-temanku yang sudah terlebih dahulu menikah membuat penantianku mulai goyah.
Di semilir senja itu. Aku menunggu di tempat yang kau janjikan untuk kita bertemu. Sejauh mata memandang, hanya garis pembatas bumi dan langit yang bisa terlihat lekat tapi sangat jauh. Garis fatamorgana yang nampak ada namun tak ada. Seperti itulah kisahku dan kisahmu. Masih adakah kita?
Rinduku terseret mentari senja semakin temaram tenggelam di balik ombak. Angin mengantarku pulang. Burung memaksaku melupakan. Airmata tak lagi basah. Aku tak bisa merasakan apakah rindu apakah benci. Tiba-tiba dingin, terhempas di kekosongan relung hati, sendu dan pilu.
“Perempuan itu harus berpikir yang pasti-pasti. Jangan menunggu yang tidak pasti,” kata Era sahabatku. Berkali-kali aku mendengar kata itu. Berulangkali pula aku abaikan.
“Apalagi yang kamu tunggu Din?” desak era semakin kuat.
“Pikirkan yang pasti-pasti. Banyak yang lebih bisa memberi kepastian daripada tentara gak jelasmu itu!” mak jleb, kalimat Era membuatku melotot. Diapun menatapku dengan melotot. Aku paham, pasti sahabatku ini sedang sangat jengkel padaku yang dia anggap keras kepala.
“Cobalah pikirkan tentang Dwi, kurang apa dia? Teman SMA kita itu kehidupannya sudah merangkak mapan sebagai pengusaha. Diapun sangat berharap bisa menjadikanmu pendampingnya. Kalau belum masuk ke hatimu, coba pikir tentang Iwan, pegawai pemda yang rajin memperhatikanmu. Jangan kamu gantung semuanya. Beri kepastian, Din! Pilih salah satu di antara mereka.” Kalimat Era yang panjang lebar itu hanya kudengar tanpa bisa kubantah.
“Bagimana aku harus memilih Er? Sedang hatiku tak tertambat?” gumamku dalam hati. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tanpa rasa. Hanya hampa. Desakan-desakan itu akhirnya menembus hampaku. Aku menyetujui Iwan yang dinasnya di kabupaten sebelah. Tidak terlalu jauh dari kotaku. Sedangkan Dwi tidak aku pilih karena ia menuntutku berhenti bekerja sebagai PNS. Bagiku dia terlalu sombong.
Undangan sudah di sebar. Sepuluh hari lagi adalah penikahanku. Sore itu aku sedang bersama mbakku yang penjahit. Aku sedang membantunya memasang pernak pernik di baju pernikahanku.
“Assalamu’alaikum …,” suara yang sangat aku kenal memberi salam. Aku menganggap hanya ilusi karena pikiranku yang tak pernah tenang.
“Walaikumsalam …, Mas Ed?” jawabku lemah tak sanggup beranjak. Ada amarah, benci dan rindu juga luka ketika aku menatap sosok gagah dengan kulit kecoklatan berdiri tegak di hadapanku. Ingin sekali aku menamparnya. Ingin sekali aku mengusirnya. Tapi cinta dan rinduku hanya mengalirkan air mata.
“Ma’afkan aku, dik Dina, aku kehilangan kontak denganmu karena tugasku memang tak mudah. Aku bertugas di wilayah pegunungan dan amat sulit bagiku untuk mengirim kabar. Pernah ku coba menelponmu ketika aku berada di markas. Namun adik Dina sudah pindah sekolah. Untuk berkirim surat juga sulit, Din, aku berada di wilayah rawan.” Mas Edy menjelaskan sesuatu yang sudah tidak berarti lagi.
Aku tak mampu berkata selain airmata. Ingin kubenamkan rinduku di dada bidang nan gagah itu. Ingin kuadukan semua sakitku.
“Aku paham, pasti adik sangat sedih tanpa kabar dariku. Aku juga begitu,Dik,” kalimat mas Edy seperty sembilu menyayat hatiku.
“Jangan berkata apapun lagi, Mas,” kataku singkat.
“Ma’afkan aku, Dina,” tatapan Mas Edy memendam rindu yang sama denganku.
“Terlambat, Mas. Aku sudah akan menikah. Sepuluh hari ke depan aku akan menikah.” Jawabku tertunduk layu. Ku lihat mas Edy mengepalkan tangannya. Ia meremas kepalan tangan itu seolah ingin marah tapi tak tahu pada siapa.
Apakah aku harus membatalkan pernikahanku dengan Mas Iwan?
( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
