Kulipat Rinduku (10)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 77
#TantanganGurusiana
Cerita sebelumnya …
“Trus kalau ketemu mau apa?” tanya Era sewot lagi. Sebenarnya rahasia apa ya yang disimpan si Era sampai segitunya?
****
“Mau apa lagi, Din?” uwes … uwes … (sudahlah) jangan kamu pikir lagi tentang Edymu itu. Sejak dulu dia gak jelas. Sekarang ketemu lagi juga makin gak jelas, kalian mau apa coba? Mau mengulang kenangan yang tidak pernah ada? Udahlah, Din … ndak usah mikir yang aneh-aneh!” Era memelototiku dengan gemas. Dia tidak memperdulikan semangkok bakso di hadapannya yang mulai dingin.
“Aku nggak mau ngapa-ngapain Eng …, aku cuma nanya sesuatu yang ingin aku tahu waktu itu. Kalau aku sudah tahu ya sudah, aku nggak akan nanya-nanya lagi. Apa salahnya sih kalau cuma ingin tahu? toh dengan aku tahu juga tidak akan memutar waktu ke masa lalu dan merubah semua yang kini menjadi milikku? Tapi kalau kamu nggak bersedia ngasih tahu aku yo wes (ya sudah) aku tak tanya sendiri ke Mas Edy.”
“Ndak usah!” Era memekik tertahan sambil melihat sekeliling menyadari suaranya terlampau nyaring. Dari sorot matanya nampak sangat khawatir jika aku nekat kembali menjalin hubungan dengan Mas Edy.
“Eng, aku bukan anak kecil lagi. Otakku masih waras Eng. Meskipun saat ini aku terhubung dengan mas Edy bukan berarti aku akan kembali padanya Eng! Aku nggak segila itu! Bagiku keluargaku saat ini adalah segalanya.” Aku berusaha menenangkan sahabatku yang mulai membubuhkan sambel ke bakso di hadapannya.
“Eman-eman, Din. Sejauh ini perjalananmu sudah berhasil bangkit dari luka yang gak jelas akibat tentara gak jelas itu. Aku tidak ingin semua yang telah tertata baik harus rusak gara-gara pertemanan yang akan kalian bina. Ngapain? Mau bernostalgia? Tetang apa? Tentang kecewamu dan kecewa Edy? Trus kalian mau curhat-curhatan? Untuk apa? Menjalin hubungan apapun dengan dia sama sekali gak ada gunanya Din! selain hanya akan emmbuka luka kalian. Percoyo aku Din! Kalau bukan karena kamu sahabatku, capek aku ngomongi (menasehati) kamu.” Era berlalu meninggalkanku. Kulihat dia langsung melaju dengan motornya tanpa menoleh kepadaku. Dia marah lagi.
Duh Gusti …. Apa salahku dan mas Edy? Kami melipat rindu kami demi kehormatan orang-orang yang kami sayangi. Kami menerima perpisahan tanpa penjelasan. Sekarang kami bertemu lagi. Kami hanya ingin berteman, tidak lebih. Mengapa mereka marah? Di mana letak salahku? Di mana letak salah mas Edy? Bukankah kami telah banyak mengalah waktu itu? Apakah salah jika kini kami beteman?
Ya …, hanya berteman, itulah yang menjadi pikiranku saat ini. Karena di hatiku tak ada niatan untuk mengkhianati mas Iwan suamiku. Tak ada niatan untuk merusak kebahagiaan anak-anak dan semua orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Ah, sudahlah, aku tak ingin memikirakan apapun lagi tentang siapa-siapa. Aku bersyukur dengan semua yang aku punya bersama mas Iwan. Masalah mas Edy memang bukan jodoh, Itu saja. Kalau Era marah-marah sih berarti dia sehat, hehehe…
Hari-hari berikutnya aku menjalani semua seperti biasa. Sudah beberapa hari sejak kepulanganku dari pelatihan mas Edy tak kunjung menelpon. Aku merasakan hal ini sudah kebiasaan lama, dia memang datang dan pergi tak bisa di prediksi. Aku tidak ingin menghubunginya. Meskipun ada keinginan, tapi aku gengsi. Era benar, nggak ada gunanya mengingat-ingat dia lagi.
Ada pesan audio di whatsapp dari nomor tak tersimpan.
“Ma’af ini siapa?” tanyaku berusaha sopan khawatir pesan itu dari saudara atau kenalan yang lupa aku simpan.
“Dengarkan saja …,” balasnya singkat. Aku memasang headset untuk mendengarkannya supaya taka da orang lain mendengar. Sebuah lagu Naff mengalun di telingaku …
Jauh di lubuk hatiku Masih terukir namamu Jauh di dasar jiwaku Engkau masih kekasihku
'Tak bisa 'ku tahan laju angin Untuk semua kenangan yang berlalu Hembuskan sepi, merobek hati
Meski raga ini 'tak lagi milikmu Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup Entah sampai kapan 'Ku tahankan rasa cinta ini
Jauh di lubuk hatiku Masih terukir namamu Jauh di dasar jiwaku Engkau masih kekasihku
Dan 'ku berharap semua ini Bukanlah kekeliruan seperti yang 'ku kira Seumur hidupku akan menjadi doa untukmu
Jauh di lubuk hatiku (jauh di lubuk hatiku) Masih terukir namamu (masih terukir namamu) Jauh di dasar jiwaku Engkau masih kekasihku (masih kekasihku)
Andai saja waktu bisa terulang kembali (terulang kembali) Akan 'ku serahkan hidupku di sisimu (di sisimu) Namun 'ku tahu itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku, sungguh-sungguh menyiksaku …
Sumber: Musixmatch
Lagu itu membawa Dina terhempas pada kenangan limabelas tahun silam. Mampukah dia tetap bersikap tidak ada apa-apa? Sementara di hatinya mulai ada rasa?
(Berambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
