Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (2) Oleh Hermin Agustini Tantangan hari ke  66 TantanganGurusiana
www.google

Kulipat Rinduku (2) Oleh Hermin Agustini Tantangan hari ke 66 TantanganGurusiana

Keadaan mendadak hening. Air mataku bercerita semua kisah rindu dan harapan. Sementara Mas Edi dengan tatapan pilu menyimak setiap bait cerita penantian di setiap bulir airmataku.

“Sekarang harus bagaimana, Mas?” tanyaku lemah.

“Apakah adik masih mencintaiku?” pertanyaan Mas Edi membuatku ingin menjerit pilu. “Tidak perlu kau pertanyakan, Mas, selama penantianku dan sampai detik ini aku masih sangant mencintaimu. Aku sangat mengharapkanmu,”

“Kalau begitu, aku akan menikahimu.” Ucap mas Edy dengan tatapan tajam dan tegas. Aku tak sanggup lagi. Pandanganku mendadak gelap. Aku tak tahu apa yang kemudian terjadi padaku.

Samar kudengar ibuku memanggil namaku. Ada isak tangis diantara beberapa orang di sampingku. Ada yang memijat kakiku, ada pula yang menggenggam tanganku. Rupanya aku pingsan, entah berapa lama.

“Din …, bangun kasihan ibu sejak tadi menangis. Kasihan Bapak juga dari tadi gelisah,” kata Era mengusap minyak kayu putih ke hidungku.

“Dik Dina … Dik …,” bisik seseorang di telingaku. Ada yang meremas tangan kananku. Perlahan kubuka mataku. Wajah ibuku nampak sangat sedih. Ada Era dan mbakku di sampingnya. Sementara Iwan duduk di kursi di sebelah dipanku. Rupanya dia yang sejak tadi meremas tanganku.

Aku hanya melihat ke sekelilingku. Ingin kutanyakan di mana Mas Edi? Namun lidahku tak mampu berucap apapun. Aku hanya memandang semua yang ada di sekelilingku. Orang-orang yang mencintaiku. Memperhatikanku dengaan sepenuh hati. Iwan …, ah … dia selalu telaten berada di sampingku.

Aku tak tahu apakah Iwan mengetahui hubunganku dengan Mas Edy atau dia pura-pura tidak tahu. Yang aku tahu, Iwan selalu sabar dan selalu ada di saat aku bersedih. Dia hampir seperti seorang ‘bodyguard’ untukku.

Sesaat kemudian, Iwan membimbingku untuk duduk. Sementara mbakku telah mengambilkan segelas the hangat untukku. Ia menyerahkan pada Iwan.

“Minum dulu, Dik,” ucapnya sambil menyodorkan segelas the hangat. Aku hanya bisa meminumnya seteguk saja. Selebihnya terasa tak ada tenaga. Melihat orang-orang di sekelilingku. Melihat Ayah dan ibuku, juga Iwan yang ada di sampingku. Melihat baju pengantin yang tergantung di sudut kamarku. Aku menghela nafas panjang menguatkan tenaga.

“Ya Robb, pertemuan dan perpisahan adalah atas kehendakMu. Tak ada yang buruk atas semua ketentuanMu. Aku meyakini segala dariMu adalah yang terbaik untukku. Kuatkan hatiku menjalani segala scenario hidup yang telahg Engkau persiapkan untukku.” Aku berdo’a dalam hati.

Aku tidak berani bertanya kemana Mas Edy. Aku teidak berani bertanya apa yang telah terjadi selama aku pingsan. Aku hanya menatap sahabatku penuh tanya. Aku tahu dia menyimpan cerita. Aku tahu dia sedang berusaha mengalihkan pikiranku dengan meninggalkanku.

“Masih pusing?” tanya Iwan kepadaku.

“Jangan terlalu lelah, dik Dina. Banyak istirahat saja. Urusan sekolah untuk sementara minta keringanan dulu. Pasti kepala sekolah dan teman-teman adik memahami. Mereka kan juga pernah mempersiapkan pernikahan. Kalau perlu biar Mas saja yang meminta ijin ke sekolah adik.” Begitulah Iwan selalu penuh perhatian.

“Ndak usah, Mas,” tolakku.

“Nanti saja kalau waktunya sudah sangat dekat aku akan meminta ijin sendiri kepada kepala sekolah. Besok pagi sampai tujuh hari ke depan aku masih ingin selesaikan tugas-tugasku dulu supaya aku tenang.” Jawabku berharap Iwan mengerti.

‘Iya, Dik, Mas mengerti dengan sifatmu. Sejak sekolah kamu memang begitu. Selalu rajin, tekun dan tidak bisa diganggu. Paling takut jika tidak menyelesaikan ‘pe-er’ hehehe,” Dia berkata itu sambil meledekku.

Tak lama kemudian, si Era sahabatku membawakan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Ya seperti itulah sahabatku itu, sangat memperhatikan dan sangat tanggap situasi. Kali ini dia tidak menatap mataku yang penuh tanya. Dia hanya melotot sebentar saat Iwan menyuapiku.

Aku tahu ia mengisyaratkan agar aku tidak merusak suasana apapun. Tapi entahlah, meskipun aku sudah menguatkan diri untuk menjalani semua yang saat ini ada di hadapanku namun di lubuk hatiku yang terdalam aku masih menyimpan rindu untuk Mas Edy.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Edy ketika aku mendadak pingsan?

(Bersambung … )

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post