Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kulipat Rinduku (3)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 67

#TantanganGurusiana

Malam pun tiba. Rumahku kembali sepi. Hanya aku, ayah, ibu dan mbakku yang sudah lima tahun ini menjadi janda karena suaminya meninggal. Sementara keponakanku, si Nanik pasti sudah di kamarnya belajar, sementara si iwed sedang keluar entah kemana. Ya biasalah anak usia remaja SMA.

Ayah ibuku menghampiriku di kamar. Aku tahu beliau berdua ingin membicarakan hal penting. “Nduk, ibu mengerti dengan apa yang saat ini kamu rasakan. Ibu paham perasaanmu, Nak.” Kata Ibuku membuka pembicaraan.

“Sebagai orang tua, ayah dan ibu sebenarnya tidak ingin memaksamu. Tapi keadaan sudah beda, Nak. Kali ini urusannya bukan hanya dengan perasaanmu. Bagimana dengan Iwan dan keluarga besarnya? Undangan sudah tersebar. Gedung pesta pernikahan sudah dipesan. Semua sudah siap untuk pernikahanmu dengan Iwan. Lagi pula, selama ini Iwan sudah teramat baik padamu, Nduk.” Kata ibuku sambil mengelus pundakku.

Aku hanya menunduk dengan buliran air mata. Tak sanggup berkata apapun. Aku harus menahan semua rasaku. Demi keluarga besarku. Tidak ada kalimat yang salah yang diucapkan ibuku. Dan kenyataan ini memang harus aku terima. Aku perlu bertarung dengan rasaku sendiri. Kata-kata Mas Edy untuk menikahiku selalu terngiang di telingaku.

“Ya Allah … Sang pembolak-balik hati, hanya kepadaMu aku mohon pertolongan. Hanya Engkau yang dapat menghapuskan gejolak hatiku, hilangkan semua rasaku pada Mas Edy Ya Rob … berikan kesehatan dan kebahagiaan pula untuknya di manapun ia berada. Ya Rob, tenangkan hatiku dan hatinya, hanya kepada Engkau aku berharap hati yang ikhlas.”

Malam itu terasa teramat melelahkan bagi Dina. Tidurnya gelisah. Kenangan tentang Edy tak mampu ia hilangkan. Semakin kuat dia menolak, semakin kuat pula semua hadir seolah film yang diputar ulang. Dina kemudian memilih untuk bangun. Dia mulai menulis …

Mas …

jangan kau pertanyakan betapa rasaku padamu.

Engkau adalah pria idamanku.

Berpuluh senja aku menunggumu.

Bahkan, malam inipun aku masih menunggumu.

Namun gerimis senja membawamu pergi.

Hangat mentari pagipun tak mampu menghadirkanmu kembali.

Ia hanya menghapuskan embun bersama bayangmu.

Menyisakan rindu yang tak pernah bisa kutunggu.

Kau hadir di saat tak kunanti …

Kau pun menghilang tak tahu kemana akan ku cari

Kali ini aku tak ingin kau kembali.

Meski itu bukan kata hati.

Meski rindu ini memenuhi seluruh nadi.

Meski ingatanku tak mau berhenti menanti.

Kau akan selalu di hati ….”

Adzan subuh membuyarkan semua lamunan Dina. Ia bergegas berwudu untuk sholat. Dia kembali tersedu dalam simpuh sujudnya. Selepas untaian do’a panjangnya, dia merebahkan diri di sajadah berbantalkan tangan. Dia terlelap bersama buliran air mata yang tak mampu ia hentikan.

“Nduk …, nduk …,” suara ibunya membangunkan Dina.

“Mas Iwanmu sudah menunggu, katanya, hari ini dia sengaja meminta ijin ke kantornya untuk mengantarmu ke sekolah.” Kata ibuku sambl membimbingku bangun. Ibu selalu lembut padaku, meski ku tahu ibu sangat prihatin dengan keadaanku.

“Nduk, ibu saaaangat menyayangimu. Andai bisa kupindahkan bebanmu, maka ibu ingin menanggung semua yang kau rasak berat. Biar ibu saja yang menanggung sakitmu. Namun ibu yakin, kau pasti sangat kuat dan tegar setegar ayahmu. Ibu yakin, kau akan mampu melewati semua ini. Ibu percaya kau pasti memilih yang terbaik untuk semuanya.” Nasihat ibu bagai mantra pemberi kekuatan. Pelukannya selalu mampu menghangatkan hatiku yang hampir beku.

Ibu memberikan raut wajah paling teduh untukku, meski ku tahu dari tatapan mata itu, jauh di dalam sana, tersimpan luka karena aku terluka. Namun senyum ibu tetap hangat memberi semangat.

Akupun segera bergegas, aku tak ingin menambah kesedihan ibuku dan orang-orang yang mencintaiku. Aku tak boleh mengecewakan mereka. Ya, aku memang harus kuat. Tak perlu meratapi apa yang tak pasti. Tak perlu menanti yang tak bisa kujalani. Harus kuhapus Mas Edy dari hati …

Mampukah aku?

(Bersambung … )

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post