Kulipat Rinduku (4)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 70
#TantanganGurusiana
Cuplikan episode 3,
Akupun segera bergegas, aku tak ingin menambah kesedihan ibuku dan orang-orang yang mencintaiku. Aku tak boleh mengecewakan mereka. Ya, aku memang harus kuat. Tak perlu meratapi apa yang tak pasti. Tak perlu menanti yang tak bisa kujalani. Harus kuhapus Mas Edy dari hati …
Mampukah aku? (Bersambung … )
****
Ku lihat mas Iwan sudah menungguku di ruang tamu. Bajunya sangat rapi dan necis. Kulitnya yang kuning langsat nampak semakin bersih dengan kemeja putih yang ia kenakan. Tinngi badannya hampir sama dengan mas Edy, hanya saja dia tidak kekar, ya maklumlah, Mas Iwan adalah seorang PNS, bisa jadi dia jarang atau bahkan tidak pernah malakukan kegiatan fisik yang berat.
Kehadiran mas Iwan dalam kehidupanku sebenarnya bermula dari seringnya dia menyampaikan salam si Dwi yang menjadi pengusaha di Ibu kota. Bahkan, kami sering jalan bersama pada saat Dwi sedang pulang ke kampung halaman. Biasanya kami mengadakan acara berkumpul untuk makan bersama teman-teman yang sempat untuk berkumpul.
Untuk acara yang satu ini, rumah yang paling sering dijadikan ‘posko’ acara ngumpul adalah di rumah Era karena tempatnya luas dan Era jago masak. Biasanya acara makan ini didanai oleh Dwi. Di saat-saat seperti itu biasanya Dwi mengambil kesempatan untuk mendekatiku.
“Din, ku dengar kamu sudah menjadi pegawai negeri sebagia guru ya?” tanya Dwi dalam salah satu obrolan kami.
“Iya, Alhamdulillah, keinginanku terwujud.” Jawabku sedikit bangga.
“Berapa sih gaji gaji guru?” Mernurutku, pertanyaan Dwi agak congkak, Aku kurang suka dengan pertanyaan itu. Karena bagiku, urusan menjadi guru bukan semata urusan dengan berapa uang yang aku terima.
***
Semua teman-teman memahami bahwa Dwi sedang mendekatiku dan Mas Iwan adalah penghubung diantara kami. Hal itu menjadikan Mas Iwan lebih sering bertemu denganku bahkan hadir ke rumah hampir rutin. Mas Iwan lebih mengenal keluargaku daripada si Dwi. Demikian pula keluargaku lebih dekat dengan Mas Iwan.
Dari rutin pertemuanku dengan Mas Iwan, membuatku dekat dan merasa tidak canggung untuk mengajaknya menemaniku. Mas Iwan menjadi lebih akrab denganku daripada si Dwi. Entahlah aku merasa lebih nyaman leluasa berbicara kepada Mas Iwan daripada kepada Dwi.
Sementara si Era sahabatku, yang aku yakin dia tahu persis cerita tentang Dwi dan Iwan, lebih sering membela mas Iwan dan cenderung lebih mendekat-dekatkan aku dengan mas Iwan. Entahlah, mungkin karena kami memang sering jalan bersama daripada dengan Dwi. Padahal Mas Iwan dan Dwi adalah sahabat karib.
Semankin lama salam-salam dan pertemuan dengan Dwi semakin jarang. Mas Iwanlah yang semakin lebih sering ada untukku. Terutama pada saat aku sedang butuh teman untuk sedihku. Aku yakin sepenuhnya Mas Iwan tahu tentang hatiku pada Mas Edy. Karena beberapa kali dia aku ajak mengantarku ke pelabuhan untuk menunggu Mas Edy.
Lagi-lagi aku tak mengerti apa yang ada di benak mas Iwan, sehingga ia berani meminangku pada orang tuaku. Mas Iwan selalu lembut padaku, begitu pula kepada ayah, ibu dan saudara-saudaraku.
Dan hari ini, dia yang hadir untukku. Dia ada untukku. Seolah tidak ada masalah apapun. Dia tak pernah menanyakan tentang Mas Edy. Dia hanya pernah berkata, “Aku iri pada Mas Edymu, dia tidak ada tapi mampu melenyapkan keberadaanku,”
Aku hanya tersenyum mendengar ledekan itu. Tak ingin menjelaskan apalagi berdebat tentang apa yang aku rasa. Tak akan ada yang memahamiku. Tak akan ada pula yang membelaku. Apalagi si Era, dia pasti akan jadi orang pertama yang akan memarahiku habis-habisan ika aku tak realistis.
Memang benar dengan ungkapan bahasa jawa ‘witing tresno jalaran soko kulino’, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah cinta tumbuh karena terbiasa. Deikianlah kesabaran dan ketelatenan Mas Iwan memenangkan hati orangtuaku, yang menjadi penyebab luluhnya hatiku.
“Dik Din, sepulang sekolah nanti sore, kita di minta ke rumah mbak Mimin untuk fix beberapa baju yang kita sewa. Sekalian kita disuruh mampir ke rumah Cencen, EO pernikahan kita, ayah menitipkan uang pelunasan.” Ucapan Mas Iwan membuat lamunanku ambyar.
“Ha …? Oh, iya … iya …,” aku menjawab dengan gugup. “Huuuuuuu …!” seru Mas Iwan gemas sambil mencubit pipiku. Aku hanya membalas dengan tawa lebar merasa bersalah sejak tadi aku larut dalam lamunanku.
“Iya, Mas … terserah mau kemana saja aku pasrah,” jawabku tanpa berpikir.
“Hmmm, Dina … Dina …, hanya jasadmu yang bersamaku, tapi rohmu ntah kemana?” gumam Iwan dalam hati. Akan tetapi Iwan tak kehabisan cara untuk meraih hati Dina. Iwan sangat yakin, setelah pernikahan, Dina pasti akan sepenuhnya jatuh cinta padanya. “Ini hanya masalah waktu,” gumamnya lagi.
Mampukah Iwan meraih hati calon istrinya …?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
