Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (5)
www.google

Kulipat Rinduku (5)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 71

#TantanganGurusiana

             

“Mas Iwan mau nunggu aku di mana?” tanyaku sebelum aku turun dari mobilnya.

“Aku nunggu di kantin belakang, atau di mobil, atau jalan-jalan, atau … ngajak kamu pulang, hehehe ….” Kata mas Iwan sambil nyegir. Kali ini aku merasa sangat bersalah. Aku ingin hari ini menyenangkan hatinya. Sejauh ini, Mas Iwan selalu ada untukku.

Kukerjakan tugasku seperti biasa. Aku siapkan tugas untuk kelas di jam terakhir. Aku berencana hari ini juga ijin pulang awal. Kasihan mas Iwan, aku perlu melakukan hal yang sama.

“Maaf, Bapak, hari ini saya mohon ijin untuk pulang awal karena saya sedang ditunggu tunangan saya. Kami sedang ada acara ‘fitting’ baju untuk acara pernikahan kami. Tugas siswa sudah saya sampaikan ke bagian kurikulum agar disampaikan ke siswa tujuh F pada jam terakhir nanti.” Aku menata kaliamat kepada kepala sekolah untuk memperoleh ijin pulang awal

Ternyata, kepala seklahku sangat memaklumi dan aku memperoleh ijin. Akupun berpamitan kepada teman-teman guru yang masih ada di ruang guru.

”Hmmm … yang lagi sibuk persiapan nikah makin bau melati,” kata bu Ana menggodaku. Gojlokan lainnya susul menyusul sampai memerah pipiku. Yah begitulah suasana kekeluargaan di sekolah tempatku mengabdi.

“Mas … Mas …! Kataku memanggil  Mas iwan yang sedang asyik mengobrol di kantin belakang.

“Loh, kok ke sini?” tanya mas Iwan heran.

“Aku ijin pulang awal Mas,” jawabku ceria.

“Yes ! akhirnya Dina juga mikir tentang aku,” gumam Iwan dalam hatinya. Diapun bersiul-siul bahagia merasa memperoleh perhatian Dina. Dia semakin yakin bahwa apa yang dilakukan untuk telaten dan sabar memang sudah saatnya berbuah kebahagiaan.

“Berarti kita masih bisa mampir-mampir ya Dik?” tanyanya girang.

“Terserah mas Iwan,” jawabku sembari tersenyum yang paling manis. Kali ini aku menatap jauh ke dalam kerling matanya. Aku mulai melihat cinta yang tak pernah ingin ku lihat selama ini. Jika boleh jujur, aku lebih sering menolak tatapan cintanya.

Memang benar jika cinta disebut buta. Hatiku tertambat pada Mas Edy yang tak bisa ku hilangkan dari hati. Si Dwi mencintaiku dengan conkak. Sementara Mas Iwan memiliki cinta tanpa disengaja untukku.

“Kalau terserah, berarti boleh ya kalau adik tak bawa pulang,hehehe …,” kata Iwan lagi-lagi menguji konsentrasiku.

“Terserah, Mas …, hari ini terserah Mas Iwan,” Kataku membuat mas Iwan cengar-cengir.

“Hmmm …,Dina … Dina …, terserahmu itu membuatku tak tahan Diiiik!” teriak hati Iwan yang menyebabkannya menarik nafas panjang. Iwan hanya menatap Dina dengan tatapan yang penuh arti.

Hari itu aku benar-benar melepaskan hati dan pikiran untuk fokus hanya pada mas Iwan. Aku perangi hatiku dengan logika. Aku nasihati diriku sendiri dengan pikiran-pikiran sehat.

“Mas …,” panggilku tiba-tiba.

“Iya sayang,” jawab Mas Iwan membuat hatiku semakin luluh.

“Ma’afkan aku selama ini kurang memperhatikanmu,” kataku sambil menatap mas Iwan dengan penuh harap agar aku dia ma’afkan.

“Siapa bilang aku kurang perhatianmu, aku berani melamarmu karena aku tahu kau memperhatikanku diam-diam, iya kan? iya kan?” jawab Mas Iwan sambil mengusap kepalaku dengan tangan kirinya. Sikapnya adaku selalu penuh kasih sayang.

Aku merasa mempunyai kekuatan baru untuk segera ‘move on’ dari mas Edy. Aku harus berfikir realistis. Ya, Mas Iwan yang kini adalah calon suamiku. Aku harus berhenti berpikir tentang mas Edy meskipun terkadang masih ada rasa penasaran yang ingin kutanyakan pada Era sahabatku.

Tapi, untuk apa aku mempertanyakannya lagi? bukankah hanya akan merusak suasana hatiku sendiri? Aku tidak boleh memanjakan rindu tak jelasku ini. Aku harus bisa melupakan mas Edy.

Mobil tersasa melambat, ternyata kami sudah sampai di halaman rumah Cencen. Kamipun segera turun dan mendapat sambutan hangat dari Cencen, yang masih teman SMA kami.

Obrolanpun mengalir serasa reuni kecil. “Din, temen-temen sebelum ini podho bingung ngerasain kamu sebenere jalan ma Iwan apa sama Dwi?” Kalimat Cencen dengan dialek China itu serasa ‘mak jleb’ di jantung. Aku hanya bisa tersenyum.

“Yo yang telaten yang panen,” kata mas Iwan sambil melingkarkan tangannya ke pundakku. Sepertinya dia memberi kode tertentu pada si Cencen agar tidak membahas tentang Dwi. Sepertinya ada yang tidak ingin diceritakan Mas Iwan.

Ya sudahlah, semua yang terjadi terjadilah. Apapun itu, semua ku anggap baik sehingga mendekatkan aku pada mas Iwan yang sangat-sangat sabar.

“Aku ke sini untuk melunasi semua biaya yang dibutuhkan. Tadi ada titipan.” Kata mas Iwan sambil menyerahkan amplop berisi sejumlah uang kepada Cencen. Merekapun larut dalam pembicaraa serius seputar acara pernikahan.

Seperti apakah pernikahan mereka?

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post