Kulipat Rinduku (6)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 72
#TantanganGurusiana
Hari menjelang sore ketika aku dan mas Iwan sampai di rumah Mimin. Kami langsung menuju butik di samping rumah Mimin yang disitu juga masih terlihat beberapa pegawai sedang mengerjakan beberapa baju pengantin.
“Hmmmm … yang lagi ‘happy’ kelihatan serasi banget kalian,” sambut Mimin sambil memelukku dan cipika-cipiki. Ya biasalah, sudah ngetrennya begitu.
“Wan, kabare Dwi pie?” tanya si Mimin membuat Iwan sekali lagi hanya tertawa nyengir.
“Dwi tetap dalam keadaan sejahtera, Min, kami tetap bersahabat. Dia sudah mengerti kalau ‘endingnya’ akan seperti ini. Karena diantara kami selalu berkomunikasi. Dan Dwi tidak masalah dengan semuanya. Karena dia tahu, Dik Dina lebih memilih aku.” Kali ini Mas Iwan mengklarifikasi semuanya. Mungkin dia tidak ingin selalu di anggap menikung sahabat.
“Ya syukurlah jika begitu, sebab kami yang jadi penonton ikut deg-deg ser dengan apa yang akan terjadi dengan kalian mengingat kalian adalah sahabat karib,” Mimin menimpali penjelasan Mas Iwan sambil memilihkan baju yang akan kami sewa.
“Justru itulah, Min, terbentuk saling pengertian diantara kami. Dwi sudah menerima jawaban Dik Dina bahwa Dik Dina tidak bisa berhenti sebagai PNS dan ikut Dwi ke ibu kota. Itulah makanya, Dwi tidak sakit hati meskipun dia tidak bisa mempersunting DIk Dina. Dia cukup ‘gentle’ degan semua ini.
Aku hanya menyimak percakapan mereka sambil fokus pada bajau yang ingin aku pilih.
“Mas, kita pakai yang ini saja ya,” kataku sambil menunjuk pakaian adat jawa bernuansa melinium. Berwarna perak dengan pernak pernik perak. Nampak anggun.
“Itu baju terbaru, Din,” kata Mimin mendukungku.
“Terserah Adik sajalah, kalau aku yang penting bisa menikah dengan kamu, hehehe …,” kata Mas Iwan tertawa lebar.
Kamipun tertawa bersama dan kembali asyik dengan perbincangan seputar baju dan acara pernikahan.
“Sudah hampir maghrib, Mas,” kataku kepada Mas Iwan.
“Tidak apa-apa, toh? Kan katanya terserah?”
Tawa kamipun kembali pecah. Kemudian kami berpamitan. Kami pulang dengan perasaan bahagia.
“Dik, ini sudah malam, kamu pasti sudah capek,” kata mas Iwan ketika kami baru saja meluncur ke jalan raya.
“Kamu menginap di rumahku saja ya malam ini?” tanya mas Iwan.
“Bapak-ibu pasti menunggu di rumah,” jawabku menolak halus.
“Aku sudah meminta ijin pada bapak dan ibu tadi pagi kalau kita kemaleman, kita akan pulang ke rumahku,” Mas Iwam menjelaskan sambil tersenyum licik.
“Hmmmm …,licik ya!” seruku sambil menepuk pundak mas Iwan gemas.
“Aduh, sakit!” kata mas Iwan berpura-pura.
“Halah, manja!” seruku sambil memukulnya lebih keras.
Kamipun tiba di rumah Mas Iwan. Sepertinya memang sudah dijadwal seperti itu. Buktinya di rumah mas Iwan sudah tersedia hidangan menyambutku. Ada beberapa kerabat yang juga hadir siap menemaniku.
Aku dipersilahkan beristirahat di kamar Mas Iwan yang sudah tertata rapi. Ada fotoku di meja kerjanya. Tertera tulisan di pojok piguranya, ”Pasti kurengkuh hatimu, setulus cintaku,” kalimat itu membuatku tersentuh. Aku hanya terduduk mengamati sekeliling kamar Mas Iwan.
“Maafkan aku selama ini hanya menganggapmu ‘bodyguardku’ dan nyatanya kini kau memang menjadi pelindung hatiku,” gumamku dalam hati.
Setelah makan malam, kamipun tenggelam dalam obrolan-obrolan dari hati ke hati yang membuat kami merasa semakin dekat. Namun kemudian aku merasa mengantuk. Mas Iwan menggenggam tanganku, “Ayuk tidur,” ajaknya padaku.
Tanpa ragu Mas Iwan mengajakku ke kamarnya. Hatiku curiha, sehingga aku segera menghentikan langkah di depan pintu.
“Ayuk, masuk kamar! Serunya lembut di telingaku. Aku semakin waspada.
“Ealah, katanya mengantuk lakok masih berdiri disini?” tanyanya sambil merangkul pundakku. Aku semakin gemetar. Tapi aku yakin Mas Iwan orangnya baik. Lagi pula banyak keluarga. Mas Iwan yang selama ini bersabar, tidak mungkinlah merusak semuanya malam ini.
Mas iwan membimbngku berbaring, dia duduk disampingku, ”Aku sangat menyayangimu Din,” katanya sambil melayangkan kecupan di keningku. Tubuhku mendadak kaku seperti es.
“Tenang, Din, aku bukan laki-laki jalang yang akan tega melukaimu. Jika aku mau, sejak dulu aku bisa menghancurkanmu. Tapi aku mencintaimu, meski hatimu tak segera ku miliki. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan menjadi yang terbaik untukmu,” Bisikan Mas Iwan menghangatkan hatiku. Sehangat selimut yang ia berikan untukku.
“Aku tidur di kamar depan, kamu nggak usah menyusul ke sana ya?” ledeknya padaku sambil membawa sebuah bantal.
“Huff …,” aku bernafas lega, ternyata mas Iwan memang lelaki setia yang selalu menjagaku. Aku teringat di masa-masa aku sering meminta mas Iwan mengantarku ke dermaga untuk menunggu Mas Edi. Dia selalu menyediakan pundaknya sebagai tempatku menangis setiap kali harus pulang dengan hampa. Aku terbiasa membenamkan tangisku di dadanya.
Jika tidak karena diam-diam mencintaiku, pastilah mas Iwan akan dengan mudah menumbangkanku waktu itu karena aku memang tak memberi jarak dengannya. Aku memang terlalu dekat. Tidak salah jika mas Iwan jatuh hati padaku.
Kini, dia yang memang benar-benar nyata untukku. Kesetiaan serta ketelatenannya telah sangat teruji. ”Aku kagum Padamu, Mas,” gumamku sebelum akhirnya terlelap tidur. (Bersambung ...)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
