Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (7)
www.google

Kulipat Rinduku (7)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 73

#TantanganGurusiana

Tiba-tiba aku terjaga dari tidurku. Jam masih menuukkan jam tiga pagi. Seperti biasa aku bergegas bangun untuk segera berwudhu dan melakukan kegiatan rutin yang sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga untuk melaksanakan solat.

Ternyata kulihat Mas Iwan sudah rapi dengan baju kokonya, dia sedang mengaji di mushollah dekat ruang tamu. Mendengar aku bangun, mas Iwan menghampiriku. Dia tahu aku pasti takut ke kamar mandi sendirian karena posisi kamar mandi keluarga Mas Iwan memang agak ke belakang.

“Yuk ku antar,”kata mas Iwan sambil mendahuluiku. Aku mengikuti begitu saja tanpa bicara, aku masih agak ngantuk.

“Tak tunggu di sini, masak aku ikut ke dalam?” gurauan mas Iwan memaksaku tersenyum lebar. Jujur saja, melihat mas Iwan seperti itu aku merasa semakin nyaman dan tentram. Aku bersyukur Allah mempertemukan aku dengannya. Aku merasa sangat dicintai.

Hatiku semakinyakindan semakin kuat untuk menerima mas Iwan. Perang batinku terus menerus reda, aku meyakini bahwa hubungan kami dengan restu orang tua adalah hubungan yang diridhoi Allah SWT dan dan pasti akan penuh kebarokahan.

Mas Iwan kembali mengantarku ke mushollah, dia menungguiku solat dengan terus mengaji. Sungguh keadaan yang luarbiasa, aku semakin yakin bahwa aku akan memperoleh imam keluarga yang baik.

“Mas, baju seragamku hari ini kan harus ganti, masak masih mau pulang ke rumahku? Kan makan waktu?” Kataku membuka percakapan sambil menunggu waktu subuh.

“jangan khawatir, ibu kemarin sudah bawain semua, hehehe …,” jawab mas Iwan tertawa curang.

“Jadi? Kalian semua memang bersekongkol supaya aku menginap di sini ya?” seruku berbisik sambil melotot.

“Iya!” Mas Iwan menjawab sambil melet menggodaku. Hampir saja aku cubit dia namun tertahan karena aku tidak ingin membatalkan wudhuku dan mas Iwan menyiapkan pipinya untuk ku jewer, dia tahu aku tak akan melakukannya.

“Ehm …,”suara ayah mas Iwan mendehem saat melintasi kami. Beliau hendak solat berjamak ah ke masjid. Mas Iwan mengikuti, sementara kua memilih solat di rumah saja.

“Ndak usah ke dapur bantu ibu, sudah ada bi Ijah,” kata ibu mertuaku.

“Kamu siap-siap saja nduk untuk berangkat dinas, sebentar lagi bawakan the hangat dan pisnag goreng ini untuk Bapak dan Iwan,” lanjut ibu.

Akupun nurut saja semua kata ibu. Aku semakin bersyukur dengan orang-orang di sekelilingku, semua sangat menyayangiku. Berdosa jika aku masih memikirkan mas Edy. Semua peristiwa adalah kehendak Allah dan Allah tahu yang terbaik untukku. Semoga saja mas Edy juga mendapatkan kebahagiaan meski tak bersamaku.

Masih terlintas ingatan tentang mas Edy, namun aku berupaya menekannya dengan terus berpikir positif dengan semua yang harus aku jalani. Aku harus melihat kenyataan-kenyataan baik yang ada da hadapanku. Ini adalah jalanku. Demikian aku selalu menaklukkan hartiku.

“Hati-hati di jalan ya,” kata ibu nertuaku ketika aku berpamitan. Ayah mertua juga mengatakan hal yang sama. Aku merasa sangat tersanjung dengan kehangatan itu. Sementara mas Iwan masih mengeluarkan mobil dari garasi. Kamipun akhirnya berangkat, Mas Iwan sudah mengenakan seragam dinasnya.

“Mas mau ngantor hari ini?” tanyaku agak heran.

“Iya, setelah mengantar kamu ke sekolah, aku mau langsung ke kantor. Ya …, terlambat sedikit tidak apa-apa. Aku sudah pamit ke Bosku, jika dalam persiapan pernikahan kita, aku agak sering terlambat.”

“MasyaAllah … Mas?” ucapku pada mas Iwan.

“Sudah, ndak usah di pikir, di jalani saja,” kata mas Iwan sambil terus fokus melihat ke jalan. Kali ini dia menyetir agak cepat.

“Hati-hati ya sayang, setelah hari ini sepertinya kita akan dilarang bertemu. Padalahal aku lebih suka jika kita bertemu. Kata orang-orang tua, kita harus melewati masa pingitan,” kata mas Iwan ketika aku beranjak mau turun dari mobil.

“Iya mas, aku juga harus berdiam di rumah dengan beberapa prosesi termasuk luluran, hehehe …, Mas juga hati-hati ya,” jawabku sebelum turun dari mobil. Kemudian aku menyalaminya. Kali ini aku belajar mencium tangannya. Mas Iwan membalas dengan mengusap keningku. Kemudian aku turun dan melambaikan tangan seraya berkata, “Mas Iwan hati-hati ya ….”

Ada rasa kangen pada mas Iwan. “Apakah aku mulai jatuh cinta? Harus! Aku harus mencintai mas Iwan sepenuh hati. Dia adalah calon suamiku. Dan Allah mengirimnya sebagai yang terbaik untukku.” Aku bergumam dalam hatiku sambil memasuki ruang guru.

Pagi itu aku melakukan aktivitas lebih bersemangat dari biasanya. Akupun berusaha menyelesaikan tugas-tugasku serta mempersiapkan tugas-tugas untuk siswa selama aku cuti 3 hari minggu depan.

Hari serasa sangat cepat berlalu oleh padatnya kegiatan. Baru sadar kalau beberapa hari ini aku seperti dikawal ketat oleh orang-orang tersayang.

Pulang dari sekolah aku di jemput ayah. Pada hari-hari berikutnya juga masih diantar ayah dan di jemput Iwed. Aku merasakan mereka bekerja sama mejagaku agar aku tidak pernah sendiri. Mungkin mereka khawatir aku melarikan diri ya?

“Ya Allah …, aku sudah membuat sekelilingku khawatir. Kuatkan hatiku untuk selalu membuat mereka bahagia Ya Rob ….” Aku menghela nafas dan terus berdo’a. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus memberi yang terbaik pada semua orang yang telah banyak berkorban untuk kebahagiaanku.

“Beri aku keteguhan hati untuk membahagiakan orang-orang tersayangku, Ya Robb …,” doaku terus dalam setiap langkahku.

( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post