Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (8)
www.googlle

Kulipat Rinduku (8)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 74

#TantanganGurusiana

Hari pernikahanku tiba. Pesta pernikahanku dilaksanakan di sebuah gedung milik pemerintah atas upaya mas Iwan. Acara temu manten digelar dengan khidmad dan penuh haru. Si Cencen ternyata mengerahkan sebagian besar teman alumni SMA untuk persiapan acara pernikahanku.

Perias, hiasan interior, tata bunga dan taman. fotografer, MC, serta catering, semua direkrut dari warga ‘Neng-Nget’ nama untuk komunitas kami. Cencen berhasil mempersatukan para wirausaha alumni untuk mengelola acara-acara besar termnasuk pernikahan.

Acara menjadi sangat meriah karena dari sebagian besar undangan adalah temanku dan teman mas Iwan. Tak ketinggalan si Dwi juga hadir dalam acara itu. Dia berjalan menyusur karpet merah bertabur melati. Kemudian naik ke pelaminan tempat aku dan mas Iwan berdiri. Semua memandang penasaran, apa yang akan terjadi antara Dwi dan mas Iwan.

“Selamat ya, Sobat, kau yang memenangkan hatinya. Aku kalah waktu dan telaten,” ucap Dwi sembari memeluk mas Iwan. Keduanya berangkulan penuh persahabatan yang disambut sorak dan tepuk tangan para hadirin yang mengetahui kisah kami.

“Terimakasih, Sobat,” balas mas Iwan menepuk punggun Dwi.

“Kalau ada apa-apa, telephon aku ya Din,” ucap Dwi mengedipkan mata genit padaku. Aku tahu dia hanya bergurau.

“Terimaksih Wik, sudah jauh-jauh hadir ke pernikahan kami.” Aku mengucapkan kalimat itu dengan penuh hormat. Kamipun larut dalam kegembiaraan acara yang serasa reuni pada hari itu. Kulihat wajah mas Iwan nampak sangat bahagia. Akupun merasakan hal yang sama.

Pestapun usai, aku dan mas Iwan langsung menuju rumah yang memang sudah disiapkan oleh orang tuanya sebagai hadiah pernikahan kami.

Sebuah rumah mungil namun asri. Ruangan-ruangan penuh hiasan bunga segar dan ucapan selamat dari kerabat dan handaitaulan, terutama dari teman kantor mas Iwan. Ada beberapa kerabat dan teman yang ikut mengantar kami ke rumah itu.

Setelah beberapa saat merekapun pulang. Hingga tinggal aku dan mas Iwan di rumah itu. Kamipun memulai hidup baru. Mas Iwan memang sangat perhaatian dan telaten. Dia paling bisa menjaga hatiku. Akupun semakin sayang padanya. Dia imam yang sangat baik bagiku.

Bulan berganti, tahunpun berlalu. Aku dikaruniai dua orang anak bersama mas Iwan. Tak terasa telah limabelas tahun usia pernikahanku. Cerita tentang mas Edy tentu saja telah menghilang seiring waktu.

****

“Selamat sore Bu Guru,” sapa seseorang mengjutkanku di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. Sapaan itu tentu saja mengagetkanku. Seseorang yang sangat aku kenal menyapaku. Dia menggendong seorang balita laki-laki yang sangat lucu. Aku tertegun melihatnya. Aku tiba-tiba gagap bicara.

“Mas Edy …, apakabar?” tanyaku hampir tak keluar suara. Jantungku berdetak tidak beraturan. Mas Edy selalu mengejutkanku.

“Dengan siapa Mas,” tanyaku berusaha normal.

“Dengan ibunya anak-anak,” jawabnya sambil menengok ke arah tertentu di mana kulihat seorang wanita bersama seorang anak perempuan belasan tahun yang sedang sibuk memilih baju.

“Kamu dengan siapa, Din?” tanya mas Edy segera.

“Aku bersama teman-teman, Mas. Kami sedag mengikuti dua hari pelatihan untuk guru-guru. Besok sore kami pulang.” Aku berusaha berbicara lancar untuk menutupi grogiku. Kulihat mas Edy buru-buru mengeluarkan dompetnya. Ia menyerahkan kartu nama kepadaku. Tentu saja aku menyimpannya.

Mas Edy juga menanyakan di mana tempat pelatihanku dan tentu saja lagi aku menjelaskannya dengan seksama dan lengkap. Entahlah semua mengalir tak terkendali. Sesekali aku memberanikan diri menatap mata yang dalam itu. Menyusur barangkali tersisa rindu.

“Kamu tetap cantik, Din,” katanya menatapku dalam.

“Terimaksih …, oh ya, aku sudah ditunggu teman-teman, Mas,” kataku buru-buru untuk menghindari perasaanku yang semakin tidak menentu. Beberapa langkah darinya aku tidak bisa menahan diriku untuk menoleh. Mas Edy masih menatpku dengan senyumnya. Akupun berusaha menghilang di balik baju-baju menyusul teman-temanku.

Aku kembali bergabung dengan teman-temanku. Akan tetapi ada yang berbeda di otakku. Pikiranku melayang, konsentrasi ambyar. Pertemuan yang tiada di sangka-sangka itu membuat kenangan bermunculan.

Aku tidak membencinya, tapi aku tidak ingin bertemu lagi dengannya. Namun mengapa semua menjadi kebetulan? Aku mulai tak tenang, aku mulai terganggu dengan kartu nama yang ku simpan.

“Hubungi nggak ya?” pertanyaan itu seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Kartu nama itu membuatku gemetar. Aku mulai menyimpan nomornya. Namun aku tetap berupaya untuk tidak menghubunginya. Sejauh ini aku sudah tenang. Aku tak ingin mengusik semuanya. Toh diapun sudah bahagia bersama keluarganya.

Pada hari kedua pelatihan pikiranku tak karuan. Masih terkenang tatapan mata yang dalam itu. “Haduuuuuh …! Ada apa dengan otakku ya?” gumamku sambil memukul-mukul kepalaku dengan bolpoint.

Waktu isomapun tiba ketika tiba-tiba seserang mendekatiku, “apa benar ibu yang bernama Dina?” tanya petugas hotel itu.

“Iya,” jawabku heran.

“Ada yang ingin bertemu, Bu Dina di lobby,” jawabnya singkat sambil mengarahkan aku ke lobby.

“Mas Edy ngapain?” tanyaku memekik tertahan.

“Tidak apa-apa Din. Aku hanya sebentar untuk menyampaikan ini.” Kata mas Edy memberiku bingkisan yang nampak seperti kado. Akupun menerima dengan berdebar-debar.

“Oh ya, beri aku alamat tempatmu bertugas sekaligus nomor teleponnya. Barngkali sewaktu-waktu aku hadir di kotamu.” Pinta mas Edy seperti sedikit memerintah. Tentu saja aku menuliskan semuanya dengan senang hati.

Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?

(Bersambung…)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post