Kulipat Rinduku (9)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 75
#TantanganGurusiana
Pelatihan berakhir pada jam tiga sore. Aku dan beberapa teman sekota telah memesan travel. Di perjalanan pulang aku lebih banyak diam. Aku masih teringat mas Edy. Membuka lipatan rindu yang lama kupendam di dasar hati.
Aku teringat ada surat yang diselipkan di antara bingkisan yang belum sempat kubuka semuanya karena langsung kumasukkan koper besar bersama bajuku yang lain. Hanya sepucuk surat yang aku masukkan tas kecil.
“Din … ma’afkan aku tak mampu merenda cerita bersamamu.
Bukan kehendakku, juga bukan kehendakmu.
Kita tak mampu taklukkan waktu.
Jangan pertanyakan rasaku padamu,
Bukan hanya tentang cinta …
Tapi aku wajib menghormati keluarga besarmu juga keluarga besar suamimu.
Aku harus mengalah dengan segala rasa perihku waktu itu.
Aku memaknai bahwa semua adalah kehendak sang Maha Pengatur segalanya.
Aku bersyukur atas kebahagiaanmu.
Aku juga bersyukur masih dipertemukan denganmu.
Meski semua tak lagi sama.
Aku sengaja membelikanmu mukenah dan sajadah. Seperangkat alat solat yang
harusnya kuberikan padamu limabelas tahun silam.
Aku berharap, rindu ini terlipat dalam untaian do’a-do’a kita.
Semoga keluargamu bahagia, demikian pula dengan keluargaku.
Bahgiamu, adalah bahagiaku …
Tertanda,
Aku yang terlambat membahagiakanmu “
Aku menghela nafas panjang. Kubuka kacamataku untuk segera menyeka buliran bening yang mulai menggelayut. Aku tengadahkan wajahku agar tak jatuh air mataku. Segera kulipat kertas itu. Kurobek-robek menjadi serpihan kecil yang kumasukkan lagi ke dalam tasku. Aku tidak ingin terbawa lagi pada rasa sakit yang telah sukses aku obati.
Aku tak ingin membuka luka lama. Biarlah semua kurelakan bersama hembusan angina lalu. “Rindu ini sudah terlarang untuk kita, Mas edy,” gumamku dalam hati.
“Assalamu’alaikum …, terimaksih atas bingkisannya. Aku sudah dalam perjalanan pulang. Semua yang berlalu biarlah berlalu. Bahagiamu, juga bahagiaku.” Demikian aku menulis sms ke nomor hape mas Edy. Kemudian aku mencoba merebahkan kepalaku di sandaran kursi untuk melenakan perjalan pulang dalam tidurku.
Aku sengaja mematikan hapeku, aku ingin beristirahat saja tanpa berpikir apapun. Aku dibangunkan saat travel mulai parkir di sebuah masjid untuk menunaikan solat magrib. Aku bergegas turun untuk solat.
Seusai semuanya, kami masih berdiam sejenak untuk memberi waktu pada pak sopir dan bapak-bapak yang ingin merokok. Di saat itu aku menghidupkan hapeku. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mas Edy.
“Wa alaikumsalam …, Hati-hati di jalan, Dik. Semoga selamat sampai tujuan. Aku akan menelponmu besok pagi pada saat kamu sudah di sekolah,” tulis mas Edy dalam sms yang langsung aku hapus tanpa aku balas. Aku juga menghapus semua panggilan masuk darinya. Aku tak ingin menyakiti hati mas Iwan jika dia tahu hal ini. Aku putuskan untuk menghapus nomornya dari daftar kontak.
“Ampuni aku ya Robbi …, aku mohon tetap kuatkan hatiku dari segala macam perasaan lemah dalam menghadapi masalah apapun. Aku bergegas untuk menelpon mas Iwan mengabarkan bahwa aku masih berhenti untuk solat. Aku sempatkan berbicara dengan anak-anakku.
“Hallo sayang, bunda masih berhenti solat. Kemungkinan agak malam sampai di rumah. Semoga saja tidak macet,” kataku kepada putri keduaku yang masih lebih sering bertanya tentang bundanya.
“Mana kakak, Ay?” aku menanyakan keberadaan anak sulungku.
“Kakak di kamarnya, Bun, ndak apa-apa, sepertinya kakak sedang sibuk mengerjakan pe-ernya.” Kata suamiku menjelaskan suasana rumah.
“Hati-hati di jalan, Bun,” sambung mas Iwan.
“Travelnya tetap yang kemarin atau pesan lain, Bun?” tanya mas Iwan lebih lanjut.
“Masih yang kemarin, ay …,” jawabku.
“Oke, bunda istirahat saja. Supaya sampai di rumah tidak kecapekan ya!” serunya dari ujung telephone sambil tertawa kecil.
“Hehehe ..., iya ay,” jawabku sambil tersenyum simpul. Aku paham maksud mas Iwan. Aku benar-benar berupaya beristirahat selama perjalanan. Keluargaku sedang menungguku. Kupenjamkan mataku, namun ingatan tentang mas Edy masih saja menggangguku. Aku jadi penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi saat aku pingsan dulu.
Aku ingin menanyakan semua ini pada sahabatku era yang selalu menghindar jika aku tanya. Aku yakin, dia menyimpan rahasia.
****
“Ngapain kamu nanya-nanya tentang itu lagi? Kamu gila ya? Kumat?” kata si Era ngomel-ngomel di ujung telephon.
“Nggak gitunya, Eng … aku hanya penasaran saja. Nggak ada salahnya kan jika aku tahu kemana mas Edy saat aku pingsan dulu?”
“Halah, mboh …!” Era menutup telepon tanpa memberiku penjelasan apa-apa. Aku tahu dia pasti marah. Aku sudah hafal dengan sikapnya itu.
“Eng …, aku ketemu mas Edy,” tulisku melalui sms. Sesaat kemudian si Era menelponku.
“Trus kalau ketemu mau apa?” tanya Era sewot lagi. Sebenarnya rahasia apa ya yang disimpan si Era sampai segitunya?
( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
