Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Selendang Merah Jambu untuk Chaca (1)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 58

#TantanganGurusiana

“Ini tak simpen ya, Bun?” tanya Chaca sambil memegang kaos kaki kecil bayi miliknya ketika masih bayi.

“Loh …? Baju kecil wes disimpen, Jaket kecil sudah nyimpen? Kaos kaki juga sudah banyak yang disimpen? Trus yang mau disumbangkan yang mana Dek? Aku balik bertanya dengan mata yang agak melotot.

“Ini lucu, Bun. Ini masih bagus. Aku ingin punya kenang-kenangan,” bujuknya padaku.

“Lah, memang semuanya masih kondisi bagus, Dek. Baju-baju ketika kamu bayi ya masih bagus semua. Kan pertumbuhan bayi cepat? Jadi, meskipun bajumu masih baru ya harus diganti dengan yang lebih baru lagi yang muat dengan badanmu yang terus tumbuh menjadi besar.” Aku menjelaskan sambil terus memilah-milah baju-baju lama yang mulai terasa sesak di almari pakaian. Sementara si Chaca terus sibuk memilih baju-baju kecilnya untuk ia simpan.

“Bun, kaos kaki ini imuuuuuuuut banget. Memangnya ini cukup ke aku, Bun?” tanyanya sambil membandingkan kaos kaki kecilnya dengan kakinya sekarang.

“Kalau sekarang ya ndak cukup, Sayang. Itu kan kaos kaki kamu sewaktu baru lahir.” Aku mencoba memuaskan keingintahuannya tentang ia di saat bayi. Lalu, aku beranjak mengambil sebuah piagam dari rumah sakit bersalin yang di situ ada stempel kakinya.

“Ini adalah ukuran kaki adik sewaktu baru lahir.” Kataku sambil menunjukkan cap kaki kecil. Terlihat senyumnya yang merekah siap dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Ya begitulah Chaca, sangat cerewet dengan banyak pertanyaan yang terkadang aku merasa kesal untuk menjawabnya.

“Byiiiiuuuuuhhhh … masak kakiku sekecil itu?” tanyanya penasaran.

“Iya, itu memang cap kaki adek ketika baru lahir. Coba cocokkan dengan kaos kaki yang kecil itu. Pas, kan?” Kataku sambil memperhatikannya mencocokkan ukuran kaos kaki dengan stempel cap kakinya. Chaca memang sangat senang jika aku bercerita tentang masa bayinya. Seolah dia ingin kembali ke masa itu dengan bertingkah laku seperti bayi.

“Dek, sekarang ukuran adek sudah gak cocok jadi bayi!” ketusku pada Chaca sambil mencubit sayang pipinya.

“Enak bayi ya, Bun,” katanya sambil terus bermanja.

“Ya enak sekaranglah ….” Sanggahku.

“Mang adek mau? Usia seperti sekarang dengan badan seperti sekarang tapi tingkah laku seperti bayi? Itu tandanya apa coba? Tanyaku sambil melotot gemas. Sekali lagi aku cubit dan aku gelitik ketiaknya.

“Adek tuh, gak perlu kembali menjadi bayi untuk kasih sayang ayah bunda. Sampe sekarang, sampai kapanpun kamu tuh akan tetap bunda sayang, Nak.” Aku meyakinkannya sambil terus menggelitikinya.

“hahaha … ! ampun! keri, Bun !” teriaknya tertawa kegirangan. Seperti itulah aku dan Chaca. Meskipun tak jarang aku mencerewetinya dengan aturan-aturan yang mungkin agak berlebihan. Bahkan terkadang rasa khawatirku membuat Chaca merasa kurang bebas.

Entahlah..rasa khawatirku memang sersa berlebihan. Sama seperti rasa yang aku rasakan dalam minggu ini. Mengapa demikian? Tunggu kisahnya besok. (Bersambung…)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post