Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Selendang Merah Jambu untuk Chaca (3)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 60

#TantanganGurusiana

“Kita mau kemana?” tanya Chaca ketika ia kami jemput dari sekolahnya pagi itu.

“Ke Puskesmas, sayang. “ jawabku sambil menggandeng tangannya yang agak ragu. Chaca nampak tidak suka aku jemput saat sekolah.

“Hanya sebentar, sayang. Hanya periksa leher adik itu kenapa? Setelah itu kita kembali ke sekolah.” JAwabku.

“Leherku wes ndak sakit,!” kata Chaca sambil agak merengut. Dia memang kurang suka dengan urusan diperiksa.

“Sayang, Adek kan hampir ujian. Bunda ingin pastkan pada saat ujian, kamu tidak sakit. Ndak apa-apa, Nak. Kita harus tahu pasti penyebab leher adek nyeri.” Aku memahamkannya pelan.

“Leherku sudah tidak nyeri, Bun!” bantahnya padaku. Aku tahu dia menyembunyikan rasa nyerinya.

“Iya, ndak apa-apa. Berarti kita hanya periksa kenapa leher adek ada abenjolannya. Cuma dilihat kok sayang. Tidak akan diapa-apakan apalagi di suntik. Hanya diperiksa,Nak.” Aku terus berupaya menenangkannya.

Sesampai di Puskesmas. Suamiku langsung mengambil antrian. Kami menunggu sambil terus meyakinkan Chaca yang nampak tidak mau tersenyum.”Semoga saja antrian ini tidak lama,” gumamku dalam hati.

“Anak Chaca,” terdengar panggilan dari rang periksa. Hanya aku dan Chaca yang masuk. Ayahnya memilih menunggu saja di luar.

“Siapa yang sakit, Bu?” tanya salah seorang perawat.

“Anak saya Suster,” jawabku sambil memeluk punda anakku.

“Ditimbang dulu ya?” perawat itu menggayut tangan chaca menuju timbangan. Kemudian dia mencatat beberapa informasi awal yang diperlukan untuk pemeriksaan dokter.

“Berbaring di sana ya,Dek?” kata perawat yang membimbing anakku menuju tempat tidur periksa. Aku mengikutinya. DI situ sudah ada dokter muda yang siap memeriksa.

“Jilbabnya dilepas sebentar ya, Dek?” kata dokter. Aku membantu membukakan jilbab anakku. Kemudian dokter memulai memeriksa dengan seksama. Kemudian aku di dan anakku dipersilahkan duduk.

“Amandelnya besar, Bu. Kemunkinan hal itu yang menjadi pemicu pembengkakan kelenjar getah bening. Saya beri resep obat untuk amandelnya dulu. Jika dalam tiga hari tidak ada perkembangan, maka silahkan diperiksakan lebih lanjut ke ahli patology di rumah sakit, Bu.” Penjelasan dokter membuatku terdiam. Aku hanya manggut-manggut saja sambil menunggu dia selesai menuliskan resep.

“Obatnya diambil di bagian farmasi,Bu,” kata dokter sambil menyodorkan selembar resep.

“Iya, Dok. Terimakasih.” Kataku sambil menggayut engan anakku untuk keluar ruangan. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya berdo’a semoga saja prediksi dokter benar. Aku antar kembali Chaca ke sekolahnya. Senyumnya kembali rekah. Sementara aku masih memandangnya cemas.

Di perjalanann menuju ke sekolahku. Aku mulai berbicara pada suamiku, “Yah, tadi dokter menjelaskan bahwa yang membesar itu adalah kelenjar getah bening. Dokter memprediksi hal itu akibat amandel anak kita yang membesar. Kita masih disuruh menunggu tiga hari untuk memutuskan pemeriksaan lebih lanjut.” Terlihat suamiku menghela nafas.

“Trus, bagaimana enaknya, Bun?” tanya suamiku sambil menghentikan mobilnya di depan sekolahku. Nampak raut wajahnya juga kalut. Lalu dia menelpon saudaranya yang dokter. Dia berkonsultasi perihal Chaca.

“Kita tidak perlu menunggu tiga hari, Bun. Nanti malam, kita bawa anak kita periksa. Ini dokter Lutfi ngasih alamat dan nomor hape dokter ahli patology di Jember.” Kata suamiku memberi keputusan. Akupun setuju.

Kemudian aku turun dari mobil. Badanku serasa berat untuk melangkah. Pikiranku kacau.”Ya Allah, masak sih …anakku yang masih kecil sudah harus sakit seperti itu?” gumampu dalam hati.

Tak tertahan lagi air mataku. Terbayang senyum anakku. Terbayang celotehnya, marahnya, manjanya, cara ia memanggilku, dan semua tentangnya. Ya Allah, rasanya baru kemarin dia kugendong dengan selendang merah jambu. Baru kemarin dia ku ninabobokkan dia di gendongan itu.

“Ya Allah …, masak sih?” aku terus bertanya galau dalam hati. Kemudian aku buru-buru mengirim pesan kepada dokter yang akan aku tuju nanti malam. Ternyata dokter membalas bahwa aku baru bisa menemuinya di tempat praktek pada keesokan malam berikutnya.

“Ya Allah …, menunggu duapuluh empat jam itu terasa sangat lama.” Bisikku dalam hati. Kulangkahkan kakiku ke kelas tujuh H pada jam terkhir pelajaran. Namun pikiranku hanya penuh oleh pertanyaan-pertanyaan seputar sakit anakku.

“Ya Allah …, semoga saja memang hanya amande. Semoga bukan penyakit lain.” Begitu terus do’aku tak pernah bisa berhenti. Setiap ingat anakku, do’a itu meluncur otomatis di hati dan bibirku.

( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post