Selendang Merah Jambu untuk Chaca (4)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 61
#TantanganGurusiana
“Ya Allah …, semoga saja memang hanya amandel. Semoga bukan penyakit lain.” Begitu terus do’aku tak pernah bisa berhenti. Setiap ingat anakku, do’a itu meluncur otomatis di hati dan bibirku.
( Bersambung …)
“ayah, jangan lupa belikan tempayang dan nanas. Selama menunggu kita coba obati amanel Chaca dengan obat dari dokter dan cara tradisional.” Aku menelpon suamiku.
“Iya, Bunda,” jawab suamiku singkat.
“Nanasnya jangan lupa sekaligis dikupas dan dibersihkan ya, Yah. Nanti sepulang sekolah, bunda mau buatin juzz nanas. Yang paling penting, kita jangan sampai kelihatan sedih dihadapan anak kita ya, Yah. Bunda kepikiran terus, Yah ...,” curhatku pada suamiku.
“Iya, Bun, Ayah juga kepikiran. Tapi harus tetap tenang, terutama bunda,” kata suamiku menasehati.
Sepulang sekolah, aku langsung membuatkan juzz nanas dan minuman dari biji bernama tempayang yang diyakini dan memang sudah terbukti bisa menyembuhkan amandel. Seperti biasa aku juga mempersiapkan makan untuk anakku sepulang sekolah pada jam tiga tigapuluh sore.
“Assalamu’alaikum …,” terdengar anakku mengucap salam ketika ia memasuki rumah.
“Walaikumsalam …,” sahutku dari dapur.
Seperti biasa, dia akan menyalamiku dan menciumku. Namun kali ini terasa trenyuh di hatiku. Lidahku kelu. Nafasku seperti tercekat di tenggorokan. Aku tak mampu berkata. Sekuat tenaga kutahan air mata. Aku bergegas ke dapur. Menguatkan tenaga untuk seperti bisasa.
“Langsung ganti baju dan cuci tangan, Dek. Sebentar lagi tak suapin dan minum juzz nanas. Bunda masih siapin semuanya!” ujarku dari dapur.
“Oke, Bunda …,” jawab anakku dari kamarnya. Beberapa saat kemudian ku lihat dia sudah duduk berselonjor di depan televise menungguku membawa makanan untuknya.
Hal seperti memang sudah biasa aku lakukan. Meskipun dia sudah kelas enam sekolah dasar dan sudah bisa makan sendiri. Namun aku masih selalu menyempatkan diri untuk menyuapinya. Entah benar atau salah, aku merasa ada ikatan batin yang lebih manakala aku menyuapi putriku.
Banyak yang mengatakan bahwa itu akan menbuatnya manja. Tapi bagiku, itu adalah waktu yang sangat istimewa yang tak akan pernah diulang. Lagi pula aku ingin dia merasakan betapa aku menyayanginya. Kebiasaan menyuapi ini juga berlaku untuk ayahnya, hehehe … tak jarang kami makan sepiring bertiga dan aku yang menyuapi mereka berdua.
Hari itu terasa sangat berbeda. Setiap suapan untuknya serasa selaksa duka. Keriangannya, celotehnya tentang waktu yang ia lewati di sekolahnya semakin membutku takut akan cepatnya waktu yang akan berlalu.
Ya Allah, hanya Engkau yang Maha Mengetahui. Aku sangat takut Ya Rob ….” Aku menangis dalam hati.
“Aaaaaakk …!” suara anakku menyadarkanku dari tertegun. Kemudian segera aku segera menyuapinya lagi sementara dia kubiarkan menonton acara telvisi kesukaannya.
Selendang merah jambu untuknya memang telah tersimpan di almari. Chaca sudah tak membutuhkannya lagi. Tinggi badannya sudah hampir sama sepertiku. Namun di mataku, dia tetaplah bayi kecilku.
Biarlah selendang merah jambu itu tersimpan. Selendang itu telah tak bisa berfungsi sebagai alat untuk menggendongnya. Akan tetapi di mataku, selendang itu tetap selalu aku gunakan. Selendang itu kini berwujud bimbingan dalam setiap perhatian agar putriku selalu dalam petunjuk Allah SWT, aamiin …
Selendang merah jambu itu adalah pengikat hatiku dan hati putriku. Penenang rindu meski aku tak pernah jauh darinya. Selendang merah jambu untuknya adalah wujud kasih sayang yang selalu tercurah dalam setiap ucap dan do’a agar putriku selalu sehat dan sejahtera baik di dunia maupu di akhirat kelak. Aanin Ya Robbal alaamiin …
Malam itu serasa lama. Ingin segera bertemu dengan dokter ahli patology untuk memeriksakan anakku. Ingin segera memastikan apa sebenarnya penyebab kelenjar getah beningnya membesa?
( Bersambung … )
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan