Selendang Merah Jambu untuk Chaca (5)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 62
#TantanganGurusiana
“Minum obat dulu ya, Nak,” kataku pada Chaca saat selesai menyuapinya sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Untungnya dia sudah pandai menelan obat. Jadi tidak kerepotan jia harus minum obat, bahkan dia lebih pandai dari pada aku.
“Adik berangkat, Bun!” ujarnya sembari menenteng tas punggungnya. Seperti biasa, ritual mencium pipi dan kening beserta do’a-do’a sengaja kuucapkan dengan nyaring untuk menyemangatinya berangkat.
“Sehat, selamat, cerdas, hafalan Qur’an lancar, disayangi guru dan teman, semua pelajaran bisa dan lancar,” di antara untaian do’aku yang pasti diamini oleh Chaca. Diakhiri dengan pelukanku.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa alaikumsalam,” jawabku.
Di pintu, dia pasti masih akan berteriak, “I love you …!” yang harus aku jawab dengan melambai, "I love you, too …!”
Ritual berpamitan ini tidak boleh salah urutan, sebab Chaca akan meminta di ulang dan ini akan menambah waktu. Terkadang aku agak ngegas jika harus mengulang sementara melihat jam sudah sangat terbatas.
Hal seperti itu hanya terjadi jika di rumah. Jika aku mengantarnya smapai ke sekolah maka ritual berpamitan tidak seperti itu. Chaca hanya mau dicium keningnya. Hehehe …, bunda harus mengikuti aturannya.
Pagi itu lidahku terasa kelu. Lebih banyak do’a yang ingin aku ucapkan. Tapi bibirku terasa bergetar mengucapkannya. AKu tak mampu bersuara. Sekuat tenaga aku menahan agar air mata ini tak merusak semangat paginya.
“Ya udah cepetan berangkat …! Bunda mau segera mandi.” Ujarku segera lari ke kamar mandi tanpa menengok. Aku jawab ucapan ‘I love you’ nya dari kamar mandi. Ku kuatkan tenaga untuk menjawabnya dengan suara yang kubuat riang meski sudah menangis.
Sore pun tiba. Aku segera meminta chaca untuk mandi dan bersiap beangkat.
“Kita mau ke mana, Bun?” tanyanya penasaran.
“Ke Jember,” jawabku.
“Mo ngapain.?” tanyanya lagi.
“Ke dokter lagi, sayang. Adek harus diperiksa lagi.” Jelasku.
“Adek gak apa-apa, Bun. Adek sudah sembuh.” Katanya dengan nada menolak.
“Adeeeek …! Bunda hanya ingin memastikan pada saat ujian, adik dalam keadaan benar-benar sehat, sayang.” Aku berusaha membuatnya mengerti.
“Ya … ya …,” angguknya masih nampak keberatan. Aku tetap berusaha nampak setenang mungkin sambil terus merayu menenangkannya agar nyaman saat diperiksa dokter.
Pemerikasaan tidak berlangsung lama. Dokter mengambil contoh jaringan dari bagian yang membengkak. Ada tiga tusukan dengan jarum yang sangat halus. Aku dan suamiku mendampingi proses itu sambil menggenggam tangannya agar tetap tenang. Ku kira hanya cukup dengan sekali tusukan. Ternyata harus di tiga titik di bagian yang bengkak. Untungnya, Chaca tenang, prosespun segera selesai.
“Bagaimana, Dok?” aku mulai penasaran.
“Bengkaknya memang agak besar, Bu. Untuk hasilnya kita masih akan periksa contoh jaringan yang barusaja saya ambil. Paling lambat tiga hari. Paling cepat besok malam sudah bisa diambil kesini” Dokter itu menjelaskan.
“Semoga besok malam sudah bisa diketahui hasilnya ya Dok ?” harapku.
“Besok sore saya kabari, Bu,” Kata dokter sebelum kami pulang.
Sekali lagi, menunggu itu adalah hal yang sangat menyiksa. Malam itu tetap menjadi malam yang tidak bisa tenang. Tidurku tak bisa lelap. Kupandangi wajah putriku yang pulas. Wajahnya tirus seperti suamiku. Garis wajahnya kuat dan tegas seperti aku. Alisnya lebat tertata sepertiku. Bulu matanya lentik dengan hidung yang sedikit mancung perpaduan antara hidungku dan ayahnya.
Memandanginya membuatku ingin kembali menggendongnya seperti dulu. ya, di gendongan merah jambu yang tetap kusimpan itu.Kucium keningnya, kubisikkan bahwa aku sangat menyayanginya. Kuusap rambutnya yang ikal. Ku ucapkan doa dan harapan terbaik untuknya.
Tangisku pecah dalam sujud malam itu. “ Ya Rob …, kehadirannya untukku telah melewati perjuangan panjang. tujuh tahun aku menunggunya. Ampunkan atas segala khilaf dan dosaku Ya Allah. Tak ada keyakinan yang membuatku yakin selain pertolonganmu Ya Robbi. Tiada daya dan upaya kecuali Engkau pengatur segala urusan. Mohon kesehatan kepada putriku dengan keadaan lebih sehat ya Robb … aamiin …” Untaian do’a ini adalah satu-satunya harapan yang menenangkanku selama menunggu …
(bersambung )
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan