Selendang Merah Jambu untuk Chaca (6)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 63
#TantanganGurusiana
“Ma, nanti sore titip Chaca ya …,” kataku kepada mbak iparku yang terbiasa di sebut mama.
“Bunda, mau kemana?” tanyanya agak heran. Karena hampir tidak pernah aku menitipkan anakku jika idak sangat terpaksa. Kemanapun aku dan ayahnya pergi, dia pasti kami ajak ikut serta.
“Bunda mau ke jember. Ada kepentingan sebentar. Chaca tidak diajak sebab dia harus belajar persiapan UTS,” kataku tanpa menjelaskan kepentinganku ke Jember.
Aku tidak ingin menceritakan apapun kepada orang lain tentang diagnosa dokter yang masih belum pasti. Aku juga tidak mau orang lain malah membuat kekhawatiran pada Chaca. Hal yang paling penting, aku tidak ingin tahu tentang sedihku dan ayahnya.
“Adek di rumah sama mama ya, atau adek les ke tante Lia?” Aku memberi pilihan pada Chaca.
“Bunda mau ke mana?” dia malah bertanya.
“Bunda mau ke Jember sebentar sayang. Mengambil hasil periksa adek tadi malam. Sekalian ambil obatnya, jika adek sakit. Semoga saja adek tidak sakit apa-apa.” Aku memberi penjelasan kepada putriku.
“Aku les ke tante Lia aja ya, Bun?” dia menentukan pilihan.
“Oke, kalau begitu adek bisa bernagkat bareng Ayah-Bunda, nanti setelah magrib biar mbak Hilda yang jemput.” Kaataku memastikan kegiatan Chaca selama aku tinggalkan.
Kemudian aku menghubungi Bu Lia, seorang guru baru yang mengampu mata pelajaran IPA. Antara Bu Lia dan Chaca memang sudah saling kenal. Karena keduanya sering bertemu baik di rumah maupun di sekolah.
Aku berangkat dengan perasaan agak tenang karena aku yakin anakku sedang bersama seseornag yang bisa aku andalkan menemaninya belajar.
Sepanjang perjalan ke Jember, hampir tidak ada perbincangan antara aku dan suamiku. Kami ada dalam pikiran masing-masing. Hujan deras menambah suasana sedih menjadi semakin sendu.
“Kita solat dulu,” kata suamiku sembari menghentikan mobilnya di pelataran masjid yang luas. Akupun mengiyakan tanpa bicara. Masih sendu tangisku. Hanya kepada Yang pengasih aku mengadu.
Hujan masih deras. Namun kami tetap melaju menuju rumah dokter yang kami kunjuni kemarin malam.
“Anak Chalisa,” akhirnya antrianku tiba. Aku dan suamiku memasuki ruang dokter. Kami duduk berdampingan menunggu dengan penuh harapan terbaik. Kemudian dokter membuka amplop dari laboratorium.
Dokter nampak membaca secara seksama kemudian mulai memberi penjelasan, “Dari hasil pemeriksaan terhadap contoh jaringan tadi malam, di sini disebutkan bahwa tidak ada tanda-tanda keganasan. Pembesaran pada kelenjar getah bening bisa disebabkan oleh infeksi amandelnya yang besar, bisa juga karena mungkin ananda sedang sariawan, atau bisa juga karena ketombe.”
“Alhamdulillah,” ujar kami hampir serentak. Kamipun pulang dengan perasaan lega dan bahagia tak terhingga seolah menemukan kembali hal yang paling berharga. Kami sengaja langsung pulang tanpa mampir ke tempat lain. Kami ingin segera memeluk Chaca.
“Pie hasile Nda?”( bahasa jawa yang artinya, bagaimana hasilnya, Nda?). Mabk iparku menambut dengan penasaran. Nampak raut wajah khawatirnya. Maklumlah, chaca merupakan anak paling kecil di keluarga kami. Selain itu memang sangat dekat dengan budenya yang selalu kami sebut mama.
“Alhamdulillah, ndak apa-apa, Ma. Memang akibat dari amandelnya. Makanya, jangan dituruti minum es kalau sedang bersama mama.” Kalimatku sedikit menyalahkan.
“Yooo, … Alhamdulillah …, aku kepikiran, nda? Ada apa kok sampe periksa ke Jember padahal anaknya baik-baik saja.” Mbak iparku menjelaskan kegalauan hatinya.
Kamipun larut dalam rasa syukur.
Ku peluk anakku semata wayang. Kucium rambutnya.
“Adek ketombean?” tanyaku serius sambil menelusuri kulit kepalanya dengan jari-jari tanganku.
“Ikh …, Bunda! Enggaklah, Bun … aku baru keramas tadi sore masak sudah dibilang ketobean?” jawabnya sambil merengut. Ekspresi wajahnya nampak lucu. Membuat kami semua tertawa riang. Alhamdulillah … ya Robbi … Engkau hadirkan kebahagian kepada kami. Semoga selalu dalam lindungan kasih sayangMu yang tiada batas. Aaamiin Ya Robbal alaamiin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan