Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tidak Cemas Bukan Berarti Acuh

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 68

#TantanganGurusiana

Apakabar pembaca ….

Malam ini kita jeda sebentar dari bacaan yang melenakan hati dan perasaa. Ada hal yang ingin saya sampaikan meskipun semula saya tidak ingin melakukannya. Hal itu karena saya percaya sudah ada pihak-pihak berwenang yang lebih berkompeten yang bertugas menyampaikannya.

Namun, setelah hari ke tujuh palaksanaan belajar dari rumah dan setelah pemberitaan tentang bertambahnya korban virus corona, saya ingin menyampaikan keprihatinan saya kepada pembaca.

***

Sudah tidak asing bahkan hampir menjadi budaya diantara kita. Tanpa membaca dengan seksama, tanpa dipikirkan apa efeknya, ketika menerima posting berita tentang sesuatu baik itu penting maupun hoax, kita langsung main share begitu saja.

Terlebih ketika wabah corona mulai merebak ke seluruh dunia. Posting tentangnya, baik negative maupun positif. Entah benar atau tidak, entah perlu atau sekedar guyonan gak penting, semua langsung diteruskan begitu saja.

Dan secara otomatis mengundang komentar anggota grup …, “Mboh wes, sekarep, pasrah pojare seng Kuwoso,” (bahasa jawa yang artinya “entahlah, terserah, pasrah pada Yang Maha Kuasa). Komentar salah satu teman saya di whatsapp grup menanggapi berbagai postingan tentang wabah corona.

“Ndak usah berlebihan menanggapi corona saat ini, kalau ditakdirkan meninggal pada usia 60, ya tidak akan meninggal di usia 40,” tulis teman saya lainnya.

Ada pula teman yang mengundang saya untuk mengahadiri rapat persiapan reuni akbar SMA. Padahal dari media sosial semua pasti sudah tahu akan larangan mengadakan perkumpulan maupun pergi ke tempat-tempat ramai.

Tentu saja undangan ini saya tolak, “Ma’af, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong orang lain yang sudah menjadi korban. Aku tidak ingin terpapar atau menjadi penyebab orang lain terpapar. Mohon ma’af aku tidak bisa hadir. Aku memilih taat dengan apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah.”

“Jawabanmu tak share di grup panitia ya?” tanya sahabatku.

“Silahkan,” tulisku dengan senang hati. Aku berharap dengan hal kecil itu bisa memberi sedikit sumbangsih untuk musibah global yang telah melanda dunia. Saya menjadi sangat prihatin dengan hal-hal tersebut.

Pemerintah telah memberi seruan agar belajar atau bekerja dari rumah selama empatbelas hari, kegiatan belajar mengajar pun harus dilakukan dari rumah baik oleh siswa maupun oleh para guru.

Namun mengapa, masih banyak para orang tua yang masih mengijinkan putra-putrinya berjalan-jalan di pagi hari secara bergerombol beberapa anak. Ada pula beberapa orang yang masih dengan santai melakukan perjalanan jauh. Ada pula yang dengan santai bersalaman dengan mencium pipi kiri kanan.

Pertanyaan saya berlanjut, apakah mereka melakukan hal itu karena tidak mengerti atau tidak paham? Bukankah dari sosmed telah banyak mereka baca? Ataukah telah hilang rasa keperdulian pada sesama? Selama masih merasa di zona nyaman, maka merasa tidak ada masalah?

Tak pernahkah terpikir sebaliknya? Bagaimana jika yang mengalami itu, kita sendiri? Saya tidak yakin jika anda tidak akan menghujat orang lain sebagai sosok yang tidak perduli. Pasti, di posisi lemah, anda akan banyak membutuhkan keperdulian dari orang lain.

Harusnya dari hal semacam ini sudah menjadi bahan rerungan kepada kita masing-masing untuk saling perduli agar terputus penyebaran virusnya, atau minimal kita menghambat epidemi ini meluas.

Semua kita tidak ada yang tahu tentang berapa umur kita. Semua juga tidak tahu apakah kita adalah salah satu yang ditakdirkan terpapar virus tersebut. Namun kita semua harus tahu, bahwa berikhtiar itu adalah kewajiban. Sedangkan hasil adalah ketentuan Allah SWT.

Bukan maksud hendak menggurui siapapun. Saya hanya prihatin dengan orang-orang yang acuh tak acuh terhadap musibah mendunia ini. Tidak terlintaskah di pikiran mereka bahwa keadaan ini sangat genting?

Okelah, kita tidak boleh panik. Tapi bukan berarti mengabaikan alias meremehkan, kan? Jika berita banyaknya jumlah korban di Negara lain tidak bisa membuat kita prihatin, masak sih, berita tentang meninggalnya tiga orang dokter di Indonesia juga tidak membuat kita sedikit berpikir?

Apakah masih akan menunggu terpapar alias ketularan baru menjadi panik? ‘Please’ deh! … jangan sampai terlambat. Atau gini aja, seumpama memang berpikir tentang orang lain dianggap gak penting, paling tidak berpikirlah untuk keselamatan diri kita sendiri. Jika itupun merupakan hal gak penting, tidakkah kita kasihan pada anak-anak kita?

Saya tidak paranoid terhadap masalah corona. Namun saya tidak bisa mengacuhkan hal ini. Saya tidak mampu melakukan apapun untuk menghentikan apalagi membantu para korban. Saya hanya bisa mematuhi apa yang menjadi anjuran pemerintah, minimal saya menghindari terpapar atau menjadi penyebab orang lain terpapar.

Seandainya semua bisa berpikir hal yang sama, inshaAllah virus ini tidak semakin cepat menular, paling tidak akan terhambat. Ya, paling tidak, kita ikut berupaya meringankan beban paramedis yang berjibaku menyelamatkan saudara-saudara kita. Semua tentang hati dan kembali pada hati kita masing-masing …

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post