Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tugas Edit Naskah (Kelas Editor IPP Jatim )

Tugas Edit Naskah (Kelas Editor IPP Jatim )

Sebelum edit

“Cring….!” sebuah notifikasi facebook terdengar. Ketika kubuka hape ternyata tertulis, “Andreas mengirimi anda permintaan pertemanan.” Seperti biasa aku selalu melihat dulu profil yang mengirimi aku pertemanan. Dan akan segera aku confirm jika mereka adalah saudara atau orang yang aku kenal.

Nama Andreas adalah nama yang tak asing bagiku. Teman lama dengan warna – warni kenangan yang kulipat rapi dalam memoriku. Dipertemukan saat kegiatan Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa di kaki gunung Kawah Ijen. Sejak itu kami saling support dalam sedih dan tawa. Berbagi cerita dan canda.

Entah cinta atau apa. Tak ada komitmen apa-apa. Entah disebut kekasih atau sahabat. Semua mengalir begitu saja. Seperti Galih dan Ratna. . Beda keyakinan. Beda kampus. Beda suku. Tapi mengerjakan tugas skripsi bersama. Meluangkan waktu senggang bersama.

Masa berpisah pun tiba. Tak ada kabar berita sejak wissuda. Kami berpisah untuk merajut asa masing-masing. Sudah hampir duapuluh tahunan tak bertemu.Tiba-tiba dia hadir melalui FB. Serasa mimpi. Tak percaya tapi iya.

“Apakabar imut?” sapanya dengan kata panggilan duapuluh tahun yang lalu. “Ikh, Bapak siapa ya kok panggil saya imut ?” kalimatku langsung renyah. “Oh, saya salah orang ya? Ya udah gak jadi berteman. Aku blokir aja ya?” Kalimat candanya masih sama seperti waktu itu.

“Blokir aja !” jawabku tak mau kalah. “Apakabar sayang?” tulisnya menggoda. Ikh, pake bilang sayang pula!” gayaku manja. “Oh, gak boleh panggil sayang ya? Panggil apa dong?” tanyanya bikin gemes. Begitulah aku dan dia. Larut dalam canda dan tawa.

Saling ledek. Saling menggoda. “Kau tinggal di mana sekarang?” tanyanya lagi. “Aku tetap di Jember Bang.” Jawabku. “Abang di mana?” tanyaku. “Aku di dekatmu!” Tulisnya nyebelin tapi bikin seneng. “Daerah mana itu ? gak ada di google map!” tulisku pura-pura gak paham.

“Kamu tambah cantik ya?” kalimatnya gombal menjebak. “Ha?, maksudnya dulu aku jelek, gitu? Ngawur aja !. Aku mang cantik sejak dulu! Abang tu yang jelek!” gaya bahasaku menyembunyikan hati yang tersanjung. Gaya pura-pura tidak tahu. Sejak berpuluh tahun lalu menjadi senjata andalanku. Agar rasa tetap terbelenggu. Meski aku sering tersipu.

“Dik….,” ketiknya singkat. “Iya Pak De,” jawabku menolak larut dalam rasa. “He..he..he..,” dia ketik tawanya. “Kau tetap seperti yang ku kenal dulu,” lanjutnya. “Salah!” ketikku segera. “ha..ha..ha...,” dia makin tertawa.

“Dik….,” ketiknya lagi. “Iyaaaaa…Oooom,” balasku kembali ambyar. He..he..

“Aku mau ke Jember!” ketiknya.

“Oh ya?” Abang tidak sedang dalam pengaruh obat bius,kan?” candaku tidak percaya. “Nggaklah. Bulan depan aku ada jadwal ke Jember berlanjut ke Jakarta.” Jawabnya serius.

“Ha?benarkah?” tanyaku masih tidak percaya. “Tau ah gelap!” jawabnya seperti dulu. “he..he..hanya ingin meyakinkan diri saja kalau aku bakalan ketemu abang lagi.” Kataku menjelaskan.

Waktu yang ditunggupun tiba. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh makanan khas Jember. Aku sudah memasak makanan yang dulu menjadi kesukaan bersama. Ayam goreng lalapan. Aku menunggu dengan gelisah. Melihat jam berkali-kali. Apa yang akan aku katakana pada suamiku nanti?

“Aku sudah hampir sampai,” kata Andreas menelepon. “Setelah lampu merah kemana?” tanyanya. “Abang terus saja. Nanti akan ada gapura besar bertulis SELAMAT DATANG di Desa Balung Kulon. Rumahku kiri jalan.” Jawabku menjelaskan.

“Aku sudah masuk gapura,” dia menyebut lokasinya. “Oke aku keluar” jawabku sambil terus berkomunikasi lewat telepon. Ku lihat ada mobil dengan lighting belok kiri. Kaca mobil mulai dibuka. Nampaklah Andreas dengan senyumnya yang khas. “Abang!” pekikku tertahan sambil tertawa lebar.

“Bun!...Bunda kenapa tertawa sendiri?” pertanyaan anakku mengejutkan. Oalah, ternyata aku hanya melamun. He..he…terjebak lamunan gara-gara kehabisan ide menulis. Belum lagi deadline mengumpulkan naskah sudah lewat hampir sehari.

Efek samping belajar menulis. Mulai tertawa sendiri..heheh…salam literasi.

Setelah edit

“Cring … ” sebuah notifikasi facebook terdengar. Ketika kubuka hape ternyata tertulis, “Andreas mengirimi anda permintaan pertemanan.” Seperti biasa aku selalu melihat terlebih dahulu profil orang yang mengirimi aku pertemanan. Aku akan segera mengonfirmasi jika mereka adalah saudara atau orang yang aku kenal.

Nama Andreas adalah nama yang tak asing bagiku. Teman lama dengan warna-warni kenangan yang kulipat rapi dalam memoriku. Bertemu saat kegiatan kuliah kerja nyata di sebuah desa. Di kaki gunung Kawah Ijen. Sejak itu kami saling support dalam sedih dan tawa. Berbagi cerita dan canda.

Entah cinta atau apa. Tak ada komitmen apa-apa. Entah disebut kekasih atau sahabat. Semua mengalir begitu saja. Seperti Galih dan Ratna. Meskipun kami berbeda keyakinan, berbeda kampus dan berbeda suku. Tetapi kami mengerjakan tugas skripsi bersama. Kami juga meluangkan waktu senggang bersama.

Masa berpisah pun tiba. Tak ada kabar berita sejak wissuda. Kami berpisah untuk merajut masing-masing asa. Sudah hampir duapuluh tahunan tak bertemu.Tiba-tiba dia hadir melalui FB. Serasa mimpi. Tak percaya tapi iya.

“Apakabar imut?” sapanya dengan kata panggilan duapuluh tahun yang lalu. “Ikh, Bapak siapa ya kok panggil saya imut ?” Kalimatku langsung renyah. “Oh, saya salah orang ya? Ya udah gak jadi berteman. Aku blokir aja ya?” Kalimat candanya masih sama seperti waktu itu.

“Blokir aja !” jawabku tak mau kalah. “Apakabar sayang?” tulisnya menggoda. Ikh, pake bilang sayang pula!” gayaku manja. “Oh, gak boleh panggil sayang ya? Panggil apa dong?” tanyanya membuatku gemes. Begitulah aku dan dia. Larut dalam canda dan tawa.

Saling meledek. Saling menggoda. “Kau tinggal di mana sekarang?” tanyanya lagi. “Aku tetap di Jember, Bang,” jawabku. “Abang di mana?” tanyaku. “Aku di dekatmu!” tulisnya kembali menggoda. “Daerah mana itu? tidak ada di google map!” tulisku pura-pura tidak paham.

“Kamu tambah cantik ya?” kalimat gombalnya menjebak. “Ha? maksudnya dulu aku jelek, gitu? Ngawur aja! Aku memang cantik sejak dulu! Abang tu yang jelek!” gaya bahasaku menyembunyikan hati yang tersanjung. Gaya pura-pura tidak tahu. Sejak berpuluh tahun lalu menjadi senjata andalanku. Agar rasa tetap terbelenggu. Meski aku sering tersipu.

“Dik,” ketiknya singkat. “Iya Pak De,” jawabku menolak larut dalam rasa. “He … he ... he ...,” dia ketik tawanya. “Kau tetap seperti yang ku kenal dulu,” lanjutnya. “Salah!” ketikku segera. “ha ... ha ... ha ...,” dia semakin tertawa.

“Dik,” ketiknya lagi. “Iyaaaaa … Oooom,” balasku kembali ambyar. “Aku mau ke Jember!” ketiknya. “Oh ya?” Abang tidak sedang dalam pengaruh obat bius, kan?” candaku tidak percaya. “Nggaklah, bulan depan aku ada jadwal ke Jember berlanjut ke Jakarta.” Jawabnya serius.

“Ha?Benarkah?” tanyaku masih tidak percaya. “Tau ah gelap!” jawabnya seperti dulu. “he … he ... hanya ingin meyakinkan diri saja kalau aku bakalan ketemu Abang lagi.” Kataku menjelaskan.

Waktu yang ditunggupun tiba. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh makanan khas Jember. Aku sudah memasak makanan yang dulu menjadi kesukaan bersama. Ayam goreng lalapan. Aku menunggu dengan gelisah. Melihat jam berkali-kali. Apa yang akan aku katakan pada suamiku nanti?

“Aku sudah hampir sampai,” kata Andreas menelepon. “Setelah lampu merah kemana?” tanyanya. “Abang terus saja. Nanti akan ada gapura besar bertulis SELAMAT DATANG di DESA BALUNG KULON. Rumahku kiri jalan.” Jawabku menjelaskan.

“Aku sudah masuk gapura,” dia menyebut lokasinya. “Oke aku keluar” jawabku sambil terus berkomunikasi lewat telepon. Ku lihat ada mobil dengan lampu reting belok kiri. Kaca mobil mulai dibuka. Nampaklah Andreas dengan senyumnya yang khas. “Abang!” pekikku tertahan sambil tertawa lebar.

“Bun! Bunda kenapa tertawa sendiri?” pertanyaan anakku mengejutkan. Oalah, ternyata aku hanya melamun. He ... he … terjebak lamunan gara-gara kehabisan ide menulis. Belum lagi deadline mengumpulkan naskah sudah lewat hampir sehari.

Efek samping belajar menulis. Mulai tertawa sendiri … heheh … salam literasi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post