Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Hijrah Bersama PGRI

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke –101

#TantanganGurusiana

Bagai secercah cahaya Bagai sebutir embun Di kala alam gelap bumi gersang

Pewujud mimbar cendekia pembukti karya mulia Bagi bangsa Negara Indonesia bahagia

Oh… Tuhan berkatilah dia

Oh… Tuhan lindungilah dia

Dirgahayu PGRI

Dirgahayulah dikau

Dirgahayu slamanya …

(**(censored)**

Menyimak lagu hymne PGRI ciptaan Deni Setia, serasa menapaki perjalanan perjuangannya yang sungguh menggetarkan hati. Para guru Indonesia, kala itu disebut guru pribumi menyatukan langkah perjuangan dalam sebuah organisasi Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912, kemudian berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932. Yang merasa sebagai guru Indonesia, perlu tau ini ya! Jangan seperti saya, hehehe …

Menengok sejarah kelahirannya pada seratus hari setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI lahir dilandasi semangat kebangsaan bagai secercah cahaya untuk meraih hak yang sama dengan pemerintah Belanda.

Perjuangan PGRI terus bergelora, memperjuangkan nasib para guru bagai sebutir embun di alam gelap bumi gersang. PGRI menjadi wadah yang terus berupaya membantu permasahan-permasalahan yang dihadapi guru sebagai individu maupun dalam geliatnya mencerdaskan anak bangsa.

PGRI adalah mimbar cendekia yang mampu menguatkan dan menyamakan derap langkah guru menuju kepantasan kualitas. PGRI terus berjuang dalam meningkatkan profesionalisme guru sehingga dipandang layak sebagai ujung tombak pencetak generasi muda harapan bangsa untuk mencapai Indonesia bahagia.

Sebagai guru, hati saya bergetar menyaksikan dan menyimak keperdulian dan kesuksesan perjuangan PGRI dalam membela para guru dan nasib pendidikan di negeri ini. Bukan karena saya adalah anggota PGRI sehingga saya memuluk-mulukkan prestasi PGRI, bukan …, sekali lagi bukan! Sebab, PGRI tidak butuh saya unggul-unggulkan, organisasi guru ini memang telah unggul sejak lama.

Pada mulanya, saya adalah salah satu dari sekian guru yang mungkin hanya menitipkan data diri di dalam keanggotaan PGRI tanpa melibatkan hati. Berkegiatan hanya mengikuti formalitas tanpa kualitas. Ke barat ikut, ke timur hanya ‘nunut’. Kemana-mana asal ‘katut’.

Hal itu disebabkan oleh kekurangfahaman saya sendiri terhadap PGRI. Saya sering mempertanyakan bahkan meragukan peran PGRI. Hehe …, harap maklum, ketidakperdulian telah membutakan saya sehingga keburu memberi penilaian tanpa dasar. Betapa tertinggalnya saya. Tentu saja saya menyesal dengan rasa jahiliyah itu. Semoga saya tidak dicoret dari keanggotaan PGRI. Akan seperti apa nasib saya sebagai guru tanpa wadah yang jelas.

Oleh karena itulah, saya harus hijrah dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih paham dan lebih tau tentang rumah saya yang bernama PGRI. Dengan demikian, saya akan lebih mengenal hal apa saja yang harus saya lakukan dan hal apa saja yang akan menjadi fasilitas saya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak seluruh guru di negeri ini untuk memberikan sepenuh hati pengabdian dan keperdulian atas organisasi yang selalu membela kita. Bukan maksud menasehati, saya yakin seyakin-yakinnya, tidak ada diantara para pembaca yang mengalami ketertinggalan kesadaran seperti saya. Tapi, seandainya ada, segeralah bertaubat dan segeralah kembali ke jalan yang benar supaya tidak malu-maluin seperti saya. Hehehe …

Pada saat saya galau dengan banyak fenomena yang merendahkan guru serta meragukan kualiatas guru sebagai cendekia lentera bangsa, di dalam wadah PGRI saya menemukan muara tempat mengasah diri untuk berkarya.

Pada saat saya mempunyai kesadaran ingin meningkatkan kualitas diri, PGRI telah membukakan mata sekaligus membukakan jalan bagi saya melalui pelaksanaan sagusabu bersama Media Guru Indionesia. Ini kerren!

Bagai ikan menemukan kolamnya. Bagai hujan di kemarau panjang, atau pengandaian-pengandaian lain yang intinya, bersama PGRI saya merasa menemukan rumah sebagai tempat berteduh, tempat mencurahkan inspirasi, tempat mengasah diri dan berekspresi.

Kesadaran saya ini bisa disebut terlambat, sebab sejak menjadi anggota PGRI, harusnya saya tahu bahwa saya telah tinggal dan bertumbuh kembang serta menikmati hasil perjuangannya di rumah besar berwujud organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia.

Sayangnya, saya belum nyadar …, betapa memalukannya sikap saya itu. Sekali lagi saya menyesal dan ampun dengan rasa tak selayaknya itu. Saya sebut ‘itu’ karena sudah berlalu. Sekarang? saya sudah bertaubat. Ini serius!

Bersama semua guru penggeliat literasi, saya meniti langkah mengasah kualitas diri menuju kompetensi mumpuni sebagai guru penulis. Langkah ini bermula ketika PGRI Jember mengadakan SaguSabu pada tanggal 18 dan 19 Januari 2020.

Di acara itu saya bertemu dengan sekian banyak guru-guru hebat. Diantara para peserta, ada pula peserta dari jawa tengah dan dari beberapa kabupaten lain. Sungguh luarbiasa. Berada dalam komunitas guru-guru yang dengan kesadaran pribadi ingin terus meningkatkan kompetensi, membuat saya lebih termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Di rumah besar ini, kami membangun kebiasaan-kebiasaan bermanfaat dan saling memotivasi untuk terus berkarya bagi anak negeri. Kami terus menggeliat mengasah kemampuan, berpacu dengan waktu menghasilkan berbagai karya tulis tentang berbagai pengetahuan maupun tentang motivasi.

Kini, saya merasa bisa melangkah dengan lebih pasti dan percaya diri dalam melakukan segala aktifitas peningkatan pendidikan di negeri ini. Langkah saya tak sendiri, saya berada dalam naungan rumah besar dengan berbagai fasilitas yang siap memudahkan geliat kecil menjadi derap kebersamaan dalam meneruskan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Bersama PGRI kami siap mengisi kemerdekaan dengan meningkatkan kualitas pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak ada lagi kegamangan dalam melangkah, karena PGRI telah memperjuangkan peningkatan kesejahteraan bagi kami, para guru Republik Indonesia.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post