Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 1)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 86
#TantanganGurusiana
“Mana Vio? Awas jika jam segini belum bangun, bakalan kuseret dia!” seru seorang perempuan paruh baya berparas cantik namun kehilangan keanggunan karena lisannya selalu tajam. Rasa percaya diri berbalut kesombongan memandang orang lain tak selevel dengannya. Maklumlah, dia adalah istri seorang tuan tanah di desa yang penduduknya rata-rata kaya hasil pertanian.
Berdandan menor, gelang emas di kiri kanan tangan kekarnya. Semua jarinya mengenakan cincin kiri kanan. Kalung emas bersusun tiga. Lipstik selalu merah merona. Siapapun di dekatnya akan mendapat perintah semaunya. Semua takluk di telunjuk tangannya.
Viona tak sanggup menjawab teriakan ibu mertuanya itu. Ia yang sejak subuh telah bangun sengaja langsung mengepel lantai karena kamar mandi sedang antri. Di rumah besar itu sedang banyak saudara menginap, sedang ada persiapan pernikahan untuk adik iparnya, si Tantri.
Buliran bening mulai menggelembung di sudut mata Viona. Pipinya memerah, ia hanya melipat bibirnya menahan agar airmatanya tak menetes. Semalam dia sudah kurang tidur harus selesaikan membakar sate berdua dengan bude Sri.
“Aku harus kuat. Aku tidak boleh cengeng. Ibu mertuaku seperti itu karena menganggapku seperti anaknya sendiri.” Gumam Viona menguatkan dirinya sendiri.
“Mbak, yang sabar ya …,” kata si Tantri menghampiri Viona yang terus mengepel.
“Ndak apa-apa, Dik,” sahut Viona memalingkan muka agar tak ketahuan jika airmatanya telah mengucur deras.
“Ibu memang seperti itu ke semuanya mbak. Bukan hanya ke mbak,” lanjut Tantri berempati.
“Iya, Dik, ndak apa-apa,” sahut Viona masih tetap menunduk. Ia memang tak pernah bekerja berat di rumahnya. Ibu Viona memang tidak pernah membebani VIona dengan pekerjaan apapun karena memang selalu ada pembantu.
“Mana Viona, kok masih belun ke dapur juga?” teriak ibu dengan suara lentingnya.
“Mbak Viona ngepel, Bu!” Tantri yang menjawab panggilan ibunya.
“E…tak kira masih ngorok, jadi istri petani gak pantes kalau bangun siang,” sambung ibu mertunya berusaha menasehati lewat sindiran.
“Bu …! Ndak usah bicara begitu ke mbak Viona!” kata Tantri membela Viona.
“Halah …! Ndak apa-apa toh aku bilang apa adanya supaya dia gak males!” kata perempuan itu dengan suaranya yang dinyaring-nyaringkan agar terdengar meski dia bicara dari dapur. Semua saudara hanya bisa terdiam berpura-pura tidak tahu dengan peristiwa menyakitkan itu. Semua saudara-saudara sepertinya sudah paham.
Viona hanya menarik nafas dalam-dalam agar hatinya tak tergores. Viona belajar memaklumi watak ibu mertuanya yang menurutnya, ibu dari suaminya bersikap seperti itu karena belum kenal saja. Belum tahu jika guru juga bisa bekerja seperti dia, guru juga bisa menjadi istri petani.
Latar belakang keluarga yang berbeda jauh, antara kehidupan petani dan kehidupan keluarga pegawai negeri membuat Viona kaget. Dia belum terbiasa. Viona berusaha semampunya untuk mempelajari dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan keluarga besar suaminya. Viona mulai belajar memasak. Viona yang memang terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir tidak masalah dengan tuntutan bangun pagi. Bahkan Viona bangun lebih pagi dari yang lain.
Sejak pernikahannya, Viona memang jarang bertemu dengan ibu mertuanya. Di rumah induk itu, Ia hanya tinggal bersama suami dan ayah mertuanya. Sementara kakak iparnya sudah tinggal di rumah sendiri. Ibu mertuanya tinggal bersama suami barunya di desa sebelah. Hanya sewaktu-waktu saja dia datang ke rumah mantan suaminya.
“Dulu ibu membangun rumah ini dengan bekerja keras. Kamu sudah tinggal enaknya saja, tinggal menempati. Masak meja kursi berdebu?” ucapnya sambil mencolek meja dengan telunjuk jarinya.
“Sudah dibersihkan bik Sum, Bu,” jawab Viona.
“Ngapain ada pembantu? Buang-buang uang saja. Sepulang dinas kamu kan bisa bersih-bersih?” perempuan itu berucap sambil melirik rendah Viona yang tak berdaya. Meskipun jika mau, Viona bisa saja melawan kata-kata dan tindakan yang selalu semena-mena itu. Tapi Viona tidak seperti itu. Dia hanya diam berdo’a dalam hatinya agar sang ibu mertua segera mengenalnya lebih dekat.
Viona berusaha berpikir positif dan tidak mengambil hati sikap mertuanya yang seperti itu. Pada waktu acara melamar, ibu mertuanya memang gtidak tahu karena kebetulan sedang di luar Jawa bersama suami barunya.
Viona memang pernah mendengar kalau ibu mertuanya kurang setuju jika putranya melamar Viona karean dia punya calon sendiri untuk putranya, yaitu anak sahabatnya. Jadi Viona sangat memaklumi sikap-sikap penolakan ibu mertuanya itu.
Semua itu tidak membuat Viona tumbang. Semakin lama dia semakin kuat. Viona bertekad untuk merebut hati mertuanya. Viona ingin merubah pendapat ibunya tentang dirinya yang dianggap tidak bisa bekerja apa-apa kecuali mengajar dan pegang pena.
Viona mulai belajar memasak. Dia belajar membagi waktu dengan sangat baik demi meraih hati ibu mertuanya. Dia pun tidak mengandalkan pembantu. Dia berupaya agar keadaan rumah selalu bersih dan rapi sehingga jika sewaktu-waktu dia datang, Viona bisa membuktikan bahwa diapun bisa membersihkan rumah. Bahkan lebih bersih dari sebelumnya.
Mampukah Vio meraih hati ibu dari suaminya?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan